Artikel · Potret Online

Sosok-Sosok Po Adam, Cerdik Diplomasi, Cerdas Berdagang dan Lihai dalam Politik

Penulis Assauti
Juni 8, 2026
6 menit baca 5
Disunting Oleh

Bagian 1

Oleh Assauti Wahid S. Hum., MA

Wakil Ketua Forum Alumni Sejarah Kebudayaan Islam UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Ketika Saya membaca beberapa buku sejarah mengenai Aceh, saya langsung berfikir untuk menulis bagaimana hubungan dagang atau bisnis dengan pihak luar terutama negara-negara Barat seperti Amerika di Aceh Barat Daya, dan siapa tokoh atau orang-orang yang memiliki peran penting masa kejayaan lada pada dekade awal 1800-an di Barat Selatan (Barsela).

Akhirnya menemukan nama sosok-sosok Po Adam. Nah begini kronologi ceritanya. Di saat itu,  hubungan antara Sultan Aceh dengan para pedagang asing, terutama bangsa Amerika, sering kali berlangsung di atas garis yang mengakui kedaulatannya. 

Sementara itu, bangsa asing sering kali menuntut pisau antara persahabatan dan permusuhan. Sultan menuntut kebebasan berdagang tanpa campur tangan. Dari sini muncul seorang tokoh yang kemudian dikenal dengan nama Po Adam, seorang pemimpin dari Pulau Kayu, yang berdiri di tengah permainan kepentingan.

Po Adam adalah orang yang sangat keras kepala, tidak mudah menurut kepada Sultan Aceh, dan di sisi lain terus mencari untung dengan berhubungan dengan para pedagang asing. Dalam catatan para nakhoda Amerika, ia digambarkan sebagai seorang pemimpin pelabuhan yang bijak, sangat memahami nilai lada yang diperdagangkan, serta berani menghadapi risiko dalam berurusan dengan pihak Sultan.

Bagi Sultan Aceh, sikap Po Adam dianggap sebagai pengkhianatan karena dia dituduh berpijak pada bangsa asing, memberi kemudahan bagi mereka untuk berlabuh, bahkan bersekutu dalam perdagangan lada yang seharusnya diawasi secara ketat oleh kerajaan. Perseteruan itulah yang akhirnya membuat Po Adam mengalami nasib sengsara, dan dikeluarkan jauh dari Pulau Kayu ke Aceh Besar.

Namun sebelum dibuang, kisah Po Adam pernah tercatat dalam berbagai dokumen kolonial dan laporan perjalanan pelayaran. Dalam dokumen tersebut, ia muncul sebagai tokoh yang mengendalikan hubungan perdagangan di Pantai Barat Aceh, sekaligus berperan sebagai jembatan dan penghalang antara dunia lokal Aceh dengan kepentingan global yang dibawa oleh bangsa-bangsa Barat.

Po Adam berasal dari Pulau Kayu, yang dalam bahasa setempat dikenal sebagai “Pulo Kayee”. Letaknya strategis di sekitar muara Krueng Susoh. Secara geografis, Pulau Kayu-kini yang dikenal sebagai Gampong Pulau Kayu, Kecamatan Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya, sebenarnya tidak sepenuhnya berbentuk pulau seperti namanya. lebih merupakan tanjung yang menonjol ke laut dengan garis pesisir yang strategis, menghadap langsung ke jalur pelayaran rempah-rempah dunia dari arah Timur ke Barat.

Nama “Pulau Kayu” dalam istilah lama merujuk pada banyak pohon besar yang tumbuh di wilayah tersebut, yang menjadi ciri khas dari pelabuhan alami yang terlindung dan kaya akan hasil hutan, termasuk kayu keras tropis. Dalam peta abad ke-19 yang dibuat oleh pihak kolonial, Pulau Kayu sering muncul dalam catatan perjalanan kapal sebagai pelabuhan kecil yang tetap aktif, menjadi tempat singgah penting bagi kapal asing seperti Belanda, Inggris, dan Amerika Serikat yang menjelajah jalur perdagangan lada serta komoditas pertanian lainnya dari pesisir barat Sumatra.

Dalam konteks sejarah ekonomi dan politik. Pulau Kayu berperan penting dalam sistem pelabuhan lada internasional sejak awal abad ke-19. Sejarawan yang mempelajari dunia laut mencatat bahwa daerah ini merupakan salah satu titik penting dalam proses ekspor lada Aceh ke pasar di luar negeri. Termasuk dalam pelabuhan-pelabuhan yang tercantum dalam “Ashmore Map of 1821”, yaitu peta yang dibuat oleh para pelaut Irlandia-Australia tentang pelabuhan dan pasar lada; Kapten Samuel Ashmore, Pulau Kayu berdekatan dengan Meulaboh. Kuala Batee, Susoh, Meukek, Tapaktuan, Trumon, dan Singkil merupakan pelabuhan utama untuk lada di pesisir barat Sumatra. Dari pelabuhan tersebut muncul sosok penting, tajam, dan penuh misteri bernama Po Adam, juga dikenal sebagai Teuku Lambada Adam. Ia adalah seorang pemimpin lokal yang meninggalkan jejak dalam sejarah sebagai Syahbandar Pulau Kayu, yang memiliki pengaruh besar pada awal abad ke-18. 

Ia dianggap sebagai tokoh penting dalam berbagai isu seperti diplomasi, perdagangan, dan konflik antara Aceh dengan kekuatan maritim internasional, terutama Amerika Serikat. Po Adam menguasai benteng di Pula Kayu, yang sebelumnya dikendalikan oleh Po Nyak Hait (yang oleh Amerika disebut sebagai Ponee Haiet atau Po Nyahheit), sebagai wilayah yang berada di bawah naungan Kuala Batee-sekarang dikenal sebagai Kecamatan Kuala Batee, Kabupaten Aceh Barat Daya.

Nama “Lambada” sendiri berasal dari wilayah aslinya, yaitu Lambada, Aceh Besar. Sementara itu, secara etimologis kata “Po” berarti Bapak. Jadi, “Po Adam” berarti “bapak Adam”, yang merupakan simbol kehormatan sesuai dengan adat Melayu atau Aceh.

Rumah Po Adam digambarkan sebagai rumah yang berpagar kayu tinggi dan berpalisade, terletak di tepi Krueng Susoh dengan suasana yang indah dan teduh. Bangunan memiliki struktur yang serupa dengan rumah adat Aceh, yaitu berupa balok penyangga, atap yang lebar, dilengkapi tikar, serta ruang tamu yang terhubung ke area pribadi melalui celah kecil. 

Po Adam pernah belajar di komunitas Inggris yang berada di Padang. Dengan demikian, ia bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Selanjutnya, ia beralih menjadi pedagang pesisir yang sukses, serta menjalin hubungan yang erat dengan pihak pemerintah Aceh dan dunia perdagangan laut.

Dalam arsip Belanda, Po Adam dikenal berasal dari Kuta Batee (yang saat ini merupakan bagian dari Blangpidie-ibukota. Kabupaten Aceh Barat Daya) dan ditunjuk sebagai syahbandar (pemimpin pelabuhan) oleh Datuk Mak Ubat (Datuk Ampek Suku dari Susoh), seorang tokoh yang ditugaskan oleh Datuk Susoh untuk mengelola wilayah Pulau Kayu, karena kemampuannya dalam berbisnis serta berinteraksi dengan pihak luar, terutama pedagang lada.Untuk mengurangi ketergantungan Pulau Kayu terhadap rute lewat Negeri Susoh, ia membuat saluran baru yang panjangnya 600 meter, yang disebut Aie Bakali. Saluran ini menggantikanSungai Pinang berfungsi sebagai rute pengiriman lada dari sumbernya hingga ke tepi laut Pulau Kayu. 

Lada yang dipanen diekspor dalam jumlah besar, mencapai sekitar 20.000 pikul setiap tahun, menjadikan Pulau Kayu salah satu pusat perdagangan lada utama di Pantai Barat Aceh. Berita atau laporan dari Belanda melaporkan bahwa Po Adam kerap menghindari tanggung jawabnya untuk membayar pajak kepada Sultan Aceh dan lebih memilih untuk mendukung perdagangan tanpa intervensi dari pemerintah Aceh.

Nama Po Adam sering kali tercatat dalam dokumen-dokumen kolonial dan catatan pelayaran Amerika, di mana ia dicatat sebagai Penguasa Pelabuhan atau Syahbandar, dan kadang-kadang secara keliru disebut sebagai “raja” wilayah tersebut. Po Adam mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan para pedagang Amerika yang melakukan transaksi di pelabuhan-pelabuhan Aceh. Kapal-kapal dari Amerika yang berangkat dari Salem, New Bedford, Philadelphia, dan pelabuhan lainnya seringkali berlabuh di Pelabuhan Pulau Kayu, di mana Po Adam berperan sebagai penghubung.

Surat-surat yang ditulis oleh pelaut Amerika seperti Captain Charles Endicott membuktikan hal ini dengan menyatakan bahwa Po Adam sangat ramah dan dapat diandalkan. Dalam koleksi surat-surat pelayaran Salem, Po Adam digambarkan sebagai “honest fellow, speaks good English, and keeps the Dutch away from our business.” Bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia lebih kurang seperti ini ungkapan atau perkataannya. “pria jujur, berbicara bahasa Inggris dengan baik, dan menjaga orang Belanda agar tidak ikut campur dalam urusan kami. “

Artinya Po Adam sosok-sosok amat berpengaruh dalam berdagang lada dan juga lihai siasat politik dan cerdas dalam diplomasi baik lokal maupun hubungan internasional. Maka dari itu. Penulis menuliskan Po Adam, karena kiprah masa lalu bisa dijadikan contoh kedepannya, oleh generasi selanjutnya.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Assauti
Media Perempuan Kritis dan Cerdas
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...