Pagi itu aku berdiri di dekat sebuah batu besar di kebun pala warisan orang tuaku di Gunung Alur Naga. Nama gunung itu menyeramkan, karena konon dahulu kala di sanalah sepasang naga dan seorang putri anak pungut naga bermukim. Aku melepaskan lelah karena baru saja mendaki hingga ketinggian sekitar 100 meter dari jalan raya. Sudah lebih dari sepuluh tahun aku tidak menginjakkan kaki di kebun pala ini.
Dari ratusan pohon pala yang dulu ditanam oleh ayahku (almarhum), hanya tersisa dua pohon. Selebihnya mati diserang hama penggerek batang dan penyakit jamur akar putih hingga awal tahun 2000. Serangan ini menjadi musibah besar bagi masyarakat Aceh Selatan karena pala merupakan komoditas unggulan.
Saat krisis moneter akhir 90-an, harga pala naik melejit hingga sekitar lima kali harga beras. Kini harganya memang menurun, namun tetap menjadi komoditas yang prospektif bagi perekonomian daerah.
Setelah konflik berakhir, masyarakat mulai kembali menanam pala. Aku pun tak mau ketinggalan. Kebun peninggalan ayah kembali kutanami dengan bantuan seorang saudara yang bersedia merawatnya. Aku malu jika kebun ini dibiarkan kosong, malu pada ayahku, dan malu pada kampung halamanku.
Dari batu besar itu aku memandang kampungku Batu Itam dan Kota Tapaktuan. Gunung Lampu tampak jelas, sementara laut Samudra Hindia membentang tenang namun bisa berubah menakutkan saat badai datang.
Kampungku berada di wilayah Kecamatan Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan. Diapit oleh Pegunungan Bukit Barisan di timur dan Samudra Hindia di barat.
Sekitar tahun 1998, aku diajak abangku memanen pala di kebun Alur Naga. Di tengah perjalanan, seorang perempuan menyapa dan ingin membeli setengah hasil pala. Ia kemudian datang langsung ke kebun, membawa parang, bambu takaran, dan karung.
Ia ikut membantu membelah pala hingga mengisi karung-karung hasil panen. Bahkan ia menggendong sendiri hasilnya turun ke jalan raya dan membayarnya di tempat. Itulah kebiasaan panen pala di kampungku: transaksi bisa terjadi langsung di kebun.
Perempuan itu sedang hamil, namun tetap bekerja keras demi bertahan hidup. Ia hanya mampu membeli dua karung pala karena keterbatasan modal dan kondisi fisiknya. Kisahnya meninggalkan kesan mendalam tentang keteguhan seorang perempuan.
Hingga kini, perempuan itu masih berjuang membesarkan anaknya setelah ditinggalkan suaminya tanpa kejelasan. Ia akhirnya memilih kembali ke kampung halaman nenek moyangnya di Singkil karena tidak tahan dengan kondisi sekitar rumahnya.
Penulis: Dzumairi
Kabid Perencanaan Pembangunan Ekonomi dan Ketenagakerjaan pada Bappeda Kabupaten Aceh Selatan. Tinggal di Tapaktuan.















© 2026 potretonline.com








Diskusi