Artikel · Potret Online

Menanam Pancasila di Tanah Saree: Catatan Guru Bahasa Inggris dari Ladang Pertanian Aceh

Penulis  Redaksi
Mei 31, 2026
6 menit baca 11
01597815-4b18-414e-8c65-d4ca31a8f3f4
Foto / IlustrasiMenanam Pancasila di Tanah Saree: Catatan Guru Bahasa Inggris dari Ladang Pertanian Aceh

Oleh: Khatmi Ilyas

Setiap tanggal 1 Juni, ruang publik kita dipenuhi oleh seremoni, pamflet digital, dan ucapan selamat ulang tahun untuk Pancasila. Di tahun 2026 ini, ideologi dasar bangsa kita resmi menginjak usia 81 tahun—sebuah angka yang mencerminkan kedewasaan emosional dan historis yang matang bagi sebuah negara besar. 

Namun, jika obrolan mengenai nilai dasar negara ini kita bawa ke dalam ruang kelas yang dipadati oleh anak-anak Gen Z, respon yang muncul kerap kali bisa ditebak: anggukan formal demi tuntutan nilai akademik, tetapi di dalam hati, mereka mungkin merasa materi ini tak lebih dari sekadar hafalan teoritis yang berjarak dari realita hidup.

Sebagai seorang pendidik bahasa asing yang sehari-hari bertugas di SMK-PP Negeri Saree—sebuah lembaga pendidikan menengah di kaki Gunung Seulawah yang fokus menggembleng generasi muda di bidang Pertanian, Peternakan, Pengolahan Hasil Pertanian, dan Mekanisasi Pertanian—saya kerap kali terbentur pada sebuah perenungan reflektif. 

Bagaimana memosisikan Pancasila agar tidak terdengar seperti teks kuno di hadapan anak-anak muda yang dinamis ini? Mengajar aturan tata bahasa (tenses) di antara deru mesin traktor dan aroma khas peternakan menyadarkan saya bahwa Pancasila sama sekali tidak abstrak. Nilai-nilainya justru sedang dipraktikkan secara nyata oleh anak-anak yang pakaiannya kerap kotor oleh tanah Saree ini.

Aturan Main yang Fleksibel, Bukan Kaku

Secara legalitas formal, cetak biru pendidikan karakter bangsa ini sebenarnya sudah dirumuskan dengan sangat komprehensif oleh negara. Jika kita membedah kembali amanat Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), esensi sejati dari pendidikan bukanlah sekadar mencetak manusia-manusia cerdas yang andal dalam ujian kognitif belaka. Lebih dari itu, tujuan utamanya adalah membentuk manusia yang beriman, berakhlak mulia, demokratis, mandiri, dan bertanggung jawab.

Di era transformasi pendidikan saat ini, regulasi tersebut dipertajam sekaligus diwujudkan secara aplikatif melalui konsep Profil Pelajar Pancasila dalam Kurikulum Merdeka. Di dalamnya termaktub enam dimensi utama: beriman dan bertakwa, berkebinekaan global, gotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.

“Dalam disiplin Bahasa Inggris, dikenal istilah subject-verb agreement—yaitu prinsip penyelarasan antara subjek dan kata kerja agar sebuah kalimat menjadi logis dan bermakna. 

Analogi ini sangat pas untuk Pancasila di sekolah. Antara regulasi hukum di atas kertas (subjek) dan implementasi nyata guru di kelas (kata kerja) harus sinkron secara presisi. 

Jika kita terus mendoktrin Gen Z dengan metode satu arah yang kaku, mereka akan langsung mengambil langkah disconnect secara mental. Kita harus membumikan hukum yang formal itu menjadi bahasa yang relevan dengan ekosistem mereka.”

Tantangan Nyata: Tren Layar Gawai vs Realita Sawah

Saat ini, baik Pemerintah Pusat melalui kementerian terkait maupun Pemerintah Aceh melalui program-program strategis daerah, tengah gencar mendorong agenda Ketahanan Pangan dan Swasembada. 

Wilayah Aceh, khususnya Saree, dianugerahi tanah yang sangat subur dengan potensi agraris yang luar biasa masif. Namun, sebuah paradoks besar dan menjadi red flag nasional kini membentang di depan mata kita: krisis akut regenerasi petani muda.

Gen Z lahir dan tumbuh besar di dalam era gelombang teknologi digital yang serba instan. Mereka mengonstruksikan kesuksesan finansial dan karier lewat standar estetika yang berseliweran di media sosial. 

Akibatnya, sektor agraris kerap dipandang sebelah mata, dicap sebagai pekerjaan fisik yang melelahkan, kotor, dan tidak mampu menghasilkan perputaran uang yang cepat. Pertanian sering kali kalah bersaing dengan impian-impian menjadi pekerja kantoran atau konten kreator di kota besar.

Di sisi lain, sebagai guru bahasa umum, saya juga mengamati adanya benturan kultural. Anak-anak didik kita sangat cepat mengadopsi tren global, namun terkadang melonggarkan ikatan dengan kearifan lokal (local wisdom) mereka sendiri. 

Padahal, tanah Aceh memiliki warisan tradisi sosial yang agung seperti budaya Meuseuraya. Konsep gotong royong komunal berbasis kebersamaan ini sejatinya adalah perwujudan murni dari Sila Ketiga dan Sila Kelima Pancasila yang kini mulai tergerus zaman.

Solusi Integratif: Pertanian Modern Berkarakter Global

Menghadapi tantangan di atas, jalan keluar yang bijak bukanlah dengan menjauhkan atau melarang anak muda dari gawai mereka. Langkah solutifnya justru terletak pada bagaimana mengarahkan teknologi digital tersebut untuk memodernisasi sektor pertanian, sekaligus menghidupkan nilai-nilai Pancasila secara aplikatif. Pendekatan ini selaras dengan program prioritas hilirisasi dan mekanisasi pertanian yang dicanangkan pemerintah.

Kompetensi KeahlianWujud Nyata Nilai PancasilaKorelasi Program Prioritas
Mekanisasi & Budidaya PertanianKemandirian & Bernalar Kritis:Menggunakan teknologi smart farming, efisiensi air, dan analisis tanah berbasis digital guna meningkatkan hasil panen.Mendukung penuh program modernisasi alat mesin pertanian (alsintan) nasional.
Peternakan & Pengolahan HasilGotong Royong & Kreativitas:Membangun ekosistem kolaboratif dari hulu (peternak) ke hilir (pengolahan produk) agar komoditas lokal bernilai ekonomi tinggi.Penyelarasan dengan program hilirisasi produk pertanian dan kemandirian pangan daerah Aceh.
Bahasa Inggris (Umum)Berkebinekaan Global:Menguasai bahasa internasional sebagai instrumen diplomasi ekonomi untuk mengenalkan komoditas lokal ke pasar dunia.Meningkatkan daya saing dan jangkauan ekspor produk agribisnis lokal di kancah global.

Melalui integrasi ini, mata pelajaran Bahasa Inggris di SMK pertanian tidak bertujuan untuk membuat anak didik kehilangan identitas nasionalnya. Justru sebaliknya, penguasaan bahasa asing diposisikan sebagai modal utama bagi petani milenial untuk membaca manual teknologi internasional, bernegosiasi dengan pasar luar, serta membawa produk olahan Saree menuju panggung dunia dengan rasa bangga (local pride).

Refleksi Diri dan Struktur Masyarakat

Momen peringatan Hari Lahir Pancasila ke-81 ini sepatutnya kita jadikan cermin besar untuk melakukan evaluasi mendalam, khususnya bagi kami para pendidik. Sebelum kita menuntut para siswa untuk berpikir kritis, kreatif, dan mandiri, sudahkah kita selaku guru menampilkan teladan yang serupa? 

Pendidik zaman sekarang tidak lagi bisa memosisikan diri sebagai pusat kebenaran tunggal di dalam kelas. Kita dituntut menjadi fasilitator yang adaptif, inovatif, dan terbuka terhadap perubahan pola pikir anak zaman sekarang.

Secara kolektif, masyarakat dan orang tua juga perlu merombak cara pandang konvensional mereka. Menempuh pendidikan di bidang pertanian, peternakan, maupun mekanisasi bukanlah sebuah pilihan alternatif kelas dua atau sekadar pelarian. 

Logika kebangsaan kita harus diluruskan kembali: suatu peradaban mungkin dapat bertahan tanpa gawai mutakhir, namun tidak akan ada satu pun bangsa di dunia ini yang mampu tegak berdiri tanpa ketersediaan pangan yang cukup. Kedaulatan pangan adalah urat nadi utama dari pertahanan serta stabilitas nasional sebuah negara.

Penutup

Pancasila di usianya yang ke-81 ini tidak lagi membutuhkan pembelaan yang sifatnya kosmetik, jargon-jargon politik, ataupun seremoni megah yang menguap begitu saja dalam sehari. Yang dibutuhkan oleh bangsa ini adalah tindakan nyata yang berkelanjutan di lapangan.

Di SMK-PP Negeri Saree, kami menyadari sepenuhnya bahwa tugas kami bukan sekadar mengajarkan teknis menanam padi, mengolah produk, atau merawat hewan ternak. Lebih mendasar dari itu, kami sedang menanam benih karakter bangsa. 

Masa depan Pancasila dan kedaulatan pangan Indonesia berada di tangan anak-anak muda yang tidak takut tangannya kotor oleh lumpur, tetapi memiliki kapasitas intelektual yang selaras dengan kemajuan dunia. 

Dari Saree untuk Indonesia, mari kita buktikan bahwa menjadi petani modern yang berkarakter Pancasila adalah sebuah pilihan hidup yang terhormat, keren, dan membanggakan.

__________________________________________________________________
Catatan Penulis:
Naskah opini ini ditulis secara orisinal oleh Khatmi Ilyas, Guru Umum Bahasa Inggris di SMK-PP Negeri Saree, Aceh. Sekolah ini merupakan lembaga pendidikan vokasi pertanian terpadu di Provinsi Aceh yang fokus pada pengembangan kompetensi Agribisnis Tanaman, Peternakan, Pengolahan Hasil, dan Mekanisasi Pertanian guna mencetak generasi petani milenial yang unggul, mandiri, dan berkarakter.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Majalah Perempuan Aceh
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...