Profesor Diam, Publik Kehilangan Kompas

OPINI
Merespon Opini Prof. Jarjani, Ph.D : “Profesor Enggan Menulis di Surat Kabar”
Oleh :Teuku Muhammad Jamil
Akademisi dan Guru pada Sekolah Pascasarjana Universitas Syiah Kuala (USK)
Tulisan Prof. Jarjani, Ph.D. yang menyoroti keengganan profesor menulis di surat kabar sesungguhnya bukan sekadar kritik terhadap budaya literasi akademik. Ia adalah alarm intelektual yang sedang berbunyi keras di tengah kampus-kampus kita.
Pertanyaan mendasarnya bukan lagi mengapa profesor jarang menulis di media massa, melainkan: mengapa semakin banyak intelektual yang memilih diam ketika masyarakat membutuhkan penjelasan, pencerahan, dan keberanian moral?
Kita hidup pada zaman ketika informasi berlimpah, tetapi pengetahuan semakin langka. Berita berseliweran setiap detik, namun kebenaran sering tenggelam dalam kebisingan. Di tengah situasi seperti itu, publik sesungguhnya membutuhkan suara-suara akademik yang mampu menjernihkan persoalan dengan data, analisis, dan perspektif ilmiah.
Sayangnya, banyak profesor justru memilih berdiam diri di balik tembok kampus.
Padahal sejarah menunjukkan bahwa profesor bukan hanya ilmuwan. Mereka adalah penjaga akal sehat masyarakat.
Kampus yang Sibuk Menghitung Angka
Salah satu akar masalahnya adalah perubahan orientasi perguruan tinggi. Hari ini kampus lebih sibuk menghitung jumlah artikel Scopus, indeks sitasi, H-index, dan ranking internasional daripada menghitung seberapa besar gagasan akademiknya memengaruhi kehidupan masyarakat.
Akibatnya lahirlah apa yang saya sebut sebagai “industrialisasi publikasi akademik.”
Menulis bukan lagi panggilan intelektual, melainkan kewajiban administratif.
Profesor menulis karena tuntutan BKD. Menulis karena syarat kenaikan pangkat. Menulis karena target akreditasi. Bukan karena kegelisahan terhadap persoalan rakyat.
Ironisnya, semakin banyak artikel ilmiah diproduksi, semakin sedikit gagasan akademik yang sampai kepada publik.
Kampus menghasilkan ribuan publikasi, tetapi masyarakat tetap kebingungan memahami berbagai persoalan sosial, ekonomi, politik, pendidikan, lingkungan, dan kebudayaan.
Ada paradoks besar di sini : Produksi pengetahuan meningkat, tetapi distribusi pengetahuan kepada masyarakat justru menurun.
Ketika Menara Gading Menjadi Penjara
Sebagian akademisi beranggapan bahwa menulis di surat kabar tidak lagi penting karena tidak memiliki bobot akademik sebagaimana jurnal internasional.
Pandangan seperti ini sesungguhnya sangat berbahaya. Ilmu pengetahuan yang tidak sampai kepada masyarakat hanya akan menjadi arsip. Pengetahuan yang tidak digunakan untuk mencerdaskan publik hanyalah kemewahan intelektual.
Universitas seharusnya bukan menara gading yang menjauh dari realitas sosial. Universitas adalah ruang produksi gagasan yang harus hadir di tengah masyarakat.
Karena itu, menulis di media massa bukan aktivitas rendahan bagi seorang profesor. Sebaliknya, ia adalah bentuk pengabdian intelektual.
Dalam tradisi universitas besar dunia, para profesor aktif menulis di surat kabar, majalah, media digital, dan ruang publik lainnya. Mereka memahami bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh dipenjara di jurnal-jurnal yang hanya dibaca oleh sesama akademisi. Krisis yang Lebih Dalam : Hilangnya Keberanian Intelektual.
Namun menurut saya, persoalan sebenarnya lebih dalam daripada sekadar rendahnya budaya menulis. Yang sedang kita hadapi adalah krisis keberanian intelektual.
Banyak akademisi hari ini takut berbeda pendapat. Takut mengkritik kebijakan. Takut dianggap oposisi. Takut kehilangan posisi. Takut kehilangan proyek. Dan Takut kehilangan kenyamanan dan jabatan, jika sedang menjabat.
Akibatnya lahirlah generasi intelektual yang sangat cerdas secara akademik tetapi miskin keberanian moral.
Padahal tugas utama intelektual bukan menyenangkan penguasa. Tugas intelektual adalah mengatakan yang benar meskipun tidak populer.
Dalam tradisi ilmu pengetahuan, profesor tidak hanya berkewajiban mencari kebenaran, tetapi juga menyuarakannya.
Ketika profesor memilih diam, ruang publik akan diisi oleh para pemburu sensasi, penyebar hoaks, dan komentator instan yang tidak memiliki basis keilmuan.
Di sinilah bahaya terbesar itu muncul.
Bukan karena profesor tidak menulis. Tetapi karena ketika profesor diam, publik kehilangan kompas. Dan Mahasiswa Membaca Apa yang Dikerjakan Profesornya
Saya sepakat bahwa budaya menulis mahasiswa sangat dipengaruhi oleh budaya menulis dosennya. Namun hubungan itu bukan semata soal teknik menulis. Mahasiswa belajar dari teladan. Mereka melihat apa yang dilakukan profesornya.
Jika profesor aktif menulis dan berdebat secara ilmiah di ruang publik, mahasiswa akan belajar bahwa ilmu harus diperjuangkan.
Jika profesor hanya sibuk mengejar angka kredit dan sertifikasi, mahasiswa pun akan memahami bahwa pendidikan hanyalah urusan administratif.
Karena itu, krisis menulis mahasiswa sesungguhnya merupakan cermin dari krisis intelektual yang lebih luas di lingkungan kampus.
Mengembalikan Profesor ke Tengah Masyarakat
Sudah saatnya kita mengembalikan profesor pada posisi yang sesungguhnya. Profesor bukan sekadar jabatan akademik tertinggi. Profesor adalah amanah intelektual tertinggi.
Mereka harus hadir ketika publik bingung. Mereka harus bersuara ketika kebenaran dikaburkan. Mereka harus menulis ketika masyarakat membutuhkan pencerahan.
Surat kabar, media daring, jurnal, podcast, buku, dan berbagai ruang publik lainnya harus menjadi arena pengabdian intelektual profesor.
Karena pada akhirnya sejarah tidak akan mengingat berapa banyak artikel yang kita indekskan. Sejarah akan mengingat gagasan apa yang kita wariskan. Dan bangsa ini tidak membutuhkan profesor yang hanya pandai mengumpulkan angka.
Bangsa ini membutuhkan profesor yang berani menjaga kewarasan publik. Sebab ketika profesor memilih diam, bukan hanya kampus yang kehilangan martabatnya. Tetapi masyarakat juga kehilangan cahaya yang seharusnya menerangi jalan peradabannya.












