Artikel · Potret Online

IKAN BAKAR: Ketika Sekolah Berkarya untuk Menyelamatkan Generasi Emas Indonesia

Penulis Nurbadriyah, M.Pd.
Juli 25, 2026
10 menit baca 25

Oleh: Nurbadriyah, M.Pd.

Pengawas SMA Dinas Pendidikan Provinsi Banten, Ketua Umum Perkumpulan Penulis Motivator Nasional (PPMN)

Indonesia tengah menatap satu cita-cita besar yang terus digaungkan dalam berbagai forum kebijakan, ruang akademik, dan percakapan publik: lahirnya Generasi Emas 2045. 

Cita-cita ini bukan sekadar slogan, melainkan harapan kolektif agar bangsa ini memiliki generasi yang sehat, cerdas, berkarakter, berdaya saing, dan mampu membawa Indonesia berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa maju di dunia. 

Untuk mewujudkannya, berbagai langkah telah ditempuh. Kurikulum terus disempurnakan, kompetensi guru diperkuat, transformasi digital pendidikan dipercepat, dan sekolah didorong menjadi ruang belajar yang aman, nyaman, inklusif, serta bermakna bagi seluruh peserta didik.

Namun, di balik optimisme itu, kita juga harus jujur melihat kenyataan bahwa masa depan generasi muda sedang menghadapi ancaman yang tidak kecil. Salah satu ancaman paling serius adalah penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif (NAPZA) yang kini semakin dekat dengan kehidupan anak-anak dan remaja. 

Ancaman ini tidak lagi hadir dalam bentuk yang mudah dikenali. Ia tidak selalu datang melalui jalanan gelap atau lingkungan yang dianggap rawan. Kini, ia bisa menyusup melalui pergaulan sehari-hari, ruang digital, media sosial, komunitas sebaya, bahkan melaluirasa ingin tahu yang tidak terarah. Dalam banyak kasus, anak-anak tidak menyadari bahwa mereka sedang berada di ambang bahaya sampai semuanya terlambat.

Kondisi ini menuntut kita untuk mengubah cara pandang. Pencegahan narkoba tidak bisa lagi diperlakukan sebagai kegiatan tambahan yang dilakukan sesekali ketika ada peringatan tertentu. Ia harus menjadi bagian dari budaya sekolah, bagian dari pembentukan karakter, dan bagian dari ekosistem pendidikan yang hidup setiap hari.

Jika kita hanya mengandalkan sosialisasi singkat, seminar seremonial, atau poster yang ditempel lalu dilupakan, maka kita sedang menghadapi persoalan besar dengan pendekatan yang terlalu kecil. Anak-anak kita membutuhkan pengalaman belajar yang lebih dalam, lebih menyentuh, lebih relevan, dan lebih mampu mengubah cara berpikir serta cara bertindak mereka.

Berangkat dari kegelisahan sekaligus harapan itu, lahirlah sebuah gerakan yang saya sebut IKAN BAKAR (Inovasi Kurikulum Anti Narkoba Berbasis Karya). Nama ini memang sederhana dan mudah diingat, tetapi di balik kesederhanaannya tersimpan gagasan yang serius: bagaimana sekolah dapat menjadi ruang yang tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran, keberanian, dan tanggung jawab moral untuk menolak narkoba. IKAN BAKAR bukan sekadar program, melainkan sebuah pendekatan pendidikan yang mengajak seluruh warga sekolah bergerak bersama dalam satu tujuan besar, yaitu menyelamatkan generasi muda dari ancaman yang dapat merusak masa depan mereka.

Mengapa berbasis karya? Karena karya memiliki kekuatan yang jauh lebih dalam daripada sekadar informasi yang didengar lalu dilupakan. Anak-anak mungkin lupa isi ceramah yang panjang, tetapi mereka akan mengingat pengalaman ketika mereka menulis, menggambar, merekam, berdiskusi, meneliti, atau menciptakan sesuatu  dengan tangan dan pikirannya sendiri. 

Seorang peserta didik yang menulis cerpen tentang bahaya narkoba, membuat puisi tentang harapan hidup sehat, menyusun poster edukatif, memproduksi film pendek, membuat infografis, atau menjadi kreator konten positif sedang menjalani proses belajar yang utuh. Ia tidak hanya menerima pesan, tetapi juga mengolahnya, memaknainya, lalu menyebarkannya kembali kepada orang lain. Di situlah nilai pendidikan bekerja secara nyata.

Dalam perspektif pendidikan modern, pembelajaran yang bermakna tidak berhenti pada hafalan. Pembelajaran harus mampu menghubungkan pengetahuan dengan pengalaman, pengalaman dengan kesadaran, dan kesadaran dengan tindakan. 

Karena itu, IKAN BAKAR dirancang agar peserta didik tidak hanya tahu bahwa narkoba berbahaya, tetapi juga memahami mengapa narkoba harus ditolak, bagaimana cara menolak ajakan yang salah, dan apa yang dapat mereka lakukan untuk menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing. Dengan kata lain, mereka tidak hanya menjadi penerima pesan, tetapi juga produsen pesan kebaikan.

Program ini juga tidak berdiri sendiri. IKAN BAKAR dibangun di atas semangat

kolaborasi. Sekolah tidak mungkin bekerja sendirian dalam menghadapi persoalan

sebesar narkoba. Karena itu, orang tua, guru, kepala sekolah, pengawas, Badan

Narkotika Nasional (BNN), Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten, serta masyarakat perlu hadir dalam satu gerak bersama. 

Sekolah menjadi pusat koordinasi, keluarga menjadi ruang penguatan nilai, BNN menjadi sumber pengetahuan faktual dan strategis, sementara masyarakat menjadi lingkungan yang mendukung tumbuhnya budaya hidup sehat. Jika semua unsur ini bergerak dalam arah yang sama, maka

pencegahan narkoba tidak lagi menjadi beban satu pihak, melainkan menjadi tanggung jawab bersama.

Peran guru dalam gerakan ini sangat penting. Guru bukan hanya penyampai materi pelajaran, tetapi juga pembentuk cara pandang dan penjaga arah tumbuh peserta didik.

Melalui modul ajar yang terintegrasi, guru dapat memasukkan nilai-nilai anti narkoba ke dalam berbagai mata pelajaran. Dalam Bahasa Indonesia, peserta didik dapat menulis

teks persuasi atau cerpen bertema bahaya narkoba. Dalam Seni Budaya, mereka dapat membuat poster, ilustrasi, atau karya visual yang mengajak hidup sehat. 

Dalam Informatika, mereka dapat belajar membuat konten digital yang positif dan bertanggung jawab. Dalam PPKn, mereka dapat mendiskusikan tanggung jawab warga negara dalam menjaga generasi bangsa. Dengan cara ini, pendidikan anti narkoba tidak terasa sebagai materi yang dipaksakan, melainkan sebagai bagian alami dari proses belajar.

Orang tua pun memiliki peran yang tidak kalah besar. Banyak persoalan remaja

berawal dari rumah yang kehilangan komunikasi. Di tengah kesibukan orang tua dan derasnya arus digital, anak-anak sering kali mencari perhatian dan pengakuan di luar rumah. Jika keluarga tidak hadir sebagai ruang dialog yang hangat, maka anak akan lebih mudah terpengaruh oleh lingkungan yang salah. 

Karena itu, IKAN BAKAR juga

mengajak sekolah membuka ruang pertemuan dengan orang tua untuk membangun pemahaman bersama tentang pola pengasuhan, pengawasan penggunaan gawai, pergaulan anak, dan tanda-tanda awal yang perlu diwaspadai. 

Pencegahan narkoba akan jauh lebih kuat jika rumah dan sekolah berjalan seirama.

BNN sebagai mitra strategis menghadirkan perspektif yang sangat penting. Sekolah membutuhkan informasi yang akurat tentang jenis-jenis ancaman, pola peredaran, modus penyebaran, serta langkah-langkah pencegahan yang tepat. 

Dengan dukungan BNN, sekolah tidak hanya berbicara berdasarkan asumsi, tetapi berdasarkan data, pengalaman lapangan, dan strategi yang teruji. Kehadiran BNN juga memberi pesan

kuat kepada peserta didik bahwa perang melawan narkoba adalah perang yang nyata, serius, dan membutuhkan keberanian bersama. 

Anak-anak perlu tahu bahwa mereka

tidak sendirian; ada lembaga negara yang siap mendampingi dan melindungi mereka.

Di sisi lain, humas sekolah memiliki peran yang semakin strategis di era digital. Humas tidak lagi cukup dipahami sebagai bagian yang hanya menyebarkan informasi kegiatan sekolah. Dalam konteks IKAN BAKAR, humas menjadi pengelola narasi positif,

penghubung antara sekolah dan publik, sekaligus penggerak kampanye edukatif yang menjangkau masyarakat luas. Melalui media sosial sekolah, website, buletin, video pendek, dan publikasi kreatif lainnya, pesan anti narkoba dapat disebarluaskan secara lebih cepat dan lebih luas. 

Humas sekolah dapat membantu memastikan bahwa karya

peserta didik tidak berhenti di ruang kelas, tetapi hadir di ruang publik sebagai inspirasi dan pengingat bagi banyak orang.

Sebagai pengawas sekolah, saya memandang bahwa keberhasilan pendidikan tidak boleh hanya diukur dari angka kelulusan, nilai ujian, atau capaian akademik semata. Sekolah yang berhasil adalah sekolah yang mampu membentuk manusia seutuhnya: cerdas pikirannya, kuat karakternya, sehat jiwanya, dan tangguh menghadapi tantangan hidup. 

Karena itu, pengawasan pendidikan juga harus berkembang.

Pengawas tidak cukup hanya memastikan administrasi berjalan sesuai aturan, tetapi

juga perlu mendorong inovasi yang menjawab kebutuhan nyata di lapangan. 

Dalam konteks ini, IKAN BAKAR adalah contoh bagaimana pengawasan dapat menjadi penggerak perubahan, bukan sekadar penjaga kepatuhan.

Saya juga meyakini bahwa pena, kamera, mikrofon, dan media digital adalah alat

perjuangan yang sangat kuat di zaman ini. Sebuah tulisan yang baik dapat menggugah kesadaran. Sebuah video yang menyentuh dapat mengubah cara pandang. Sebuah poster yang sederhana dapat menjadi pengingat yang efektif. 

Sebuah film pendek dapat membuka mata seorang remaja tentang masa depan yang harus dijaga. Karena

itu, IKAN BAKAR mengajak seluruh warga sekolah untuk menjadi produsen nilai.

Sekolah tidak hanya menerima informasi dari luar, tetapi juga menghasilkan

karya-karya yang menyebarkan semangat hidup sehat, semangat menolak narkoba, dan semangat menjaga masa depan bangsa.

Lebih jauh lagi, gerakan ini juga memperkuat identitas sekolah sebagai ruang peradaban. Sekolah bukan hanya tempat transfer ilmu, tetapi tempat pembentukan nilai, tempat tumbuhnya keberanian moral, dan tempat lahirnya generasi yang mampu berkata “tidak” terhadap segala sesuatu yang merusak masa depan. Dalam dunia yang

semakin kompleks, anak-anak membutuhkan lebih dari sekadar kecerdasan akademik.

Mereka membutuhkan ketahanan diri, kemampuan mengambil keputusan, keterampilan berkomunikasi, dan keberanian untuk memilih jalan yang benar meskipun tidak selalumudah. Semua itu hanya dapat tumbuh jika sekolah benar-benar hadir sebagai ruang pembelajaran yang hidup dan bermakna.

Puncak gerakan IKAN BAKAR direncanakan bertepatan dengan Hari Guru Nasional pada 26 November 2026. Momentum ini dipilih bukan tanpa alasan. Hari Guru adalah saat yang tepat untuk menegaskan kembali bahwa guru bukan hanya pengajar di kelas, tetapi juga penjaga masa depan bangsa. Pada hari itu, sekolah-sekolah dapat meluncurkan berbagai karya edukatif secara serentak sebagai hasil kolaborasi guru, peserta didik, orang tua, dan mitra strategis. 

Peluncuran karya tersebut bukan sekadar

seremoni, melainkan simbol bahwa pendidikan anti narkoba telah menjadi gerakan bersama yang hidup di sekolah. Dengan demikian, Hari Guru Nasional tidak hanya menjadi perayaan penghormatan kepada guru, tetapi juga menjadi penanda lahirnya komitmen baru untuk melindungi generasi muda.

Sesungguhnya, perang melawan narkoba tidak akan pernah dimenangkan hanya oleh aparat penegak hukum. Perang ini membutuhkan keterlibatan keluarga, sekolah, masyarakat, media, dan seluruh elemen bangsa. Kita tidak bisa menunggu sampai anak-anak menjadi korban baru kemudian bergerak. Kita harus hadir lebih awal, lebih dekat, dan lebih konsisten. 

Pendidikan memiliki kekuatan untuk membentuk cara berpikir, menanamkan nilai, dan mengarahkan pilihan hidup. Jika pendidikan dijalankan dengan sungguh-sungguh, maka sekolah dapat menjadi benteng pertama yang melindungi anak-anak dari ancaman yang merusak.

IKAN BAKAR adalah salah satu ikhtiar untuk menyalakan harapan itu. Harapan bahwa sekolah dapat menjadi benteng karakter. Harapan bahwa keluarga dapat menjadi ruang perlindungan. Harapan bahwa guru dapat menjadi inspirasi yang menuntun. Harapan bahwa karya dapat menjadi media yang menyebarkan pesan kebaikan. 

Harapan bahwa anak-anak Indonesia tumbuh bukan hanya sebagai generasi yang pintar, tetapi juga sebagai generasi yang sadar, peduli, dan berani menjaga dirinya sendiri.

Generasi Emas Indonesia tidak akan lahir hanya karena bonus demografi. Bonus

demografi hanyalah peluang. Yang menentukan adalah bagaimana kita mempersiapkan manusia-manusia muda yang akan mengisi peluang itu. Generasi emas harus sehat jasmani dan rohani, kuat karakter, kreatif, adaptif, dan memiliki integritas. 

Mereka harus mampu berpikir kritis, bekerja sama, berinovasi, dan yang tidak kalah penting, mampu berkata tegas terhadap setiap bentuk penyalahgunaan narkoba. Tanpa itu semua, bonus demografi justru bisa berubah menjadi beban demografi.

Karena itu, tugas kita hari ini bukan hanya mengajar anak-anak agar lulus ujian, tetapi juga memastikan mereka memiliki bekal untuk menjalani hidup dengan benar. Kita harus membantu mereka mengenali bahaya, membangun keberanian, dan menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri, keluarga, dan bangsa.

Sekolah yang baik bukan hanya sekolah yang menghasilkan lulusan cerdas, tetapi

sekolah yang mampu menjaga anak-anaknya tetap utuh sebagai manusia.

Masa depan bangsa tidak hanya dibangun oleh mereka yang unggul secara akademik, tetapi juga oleh mereka yang mampu menjaga dirinya dari kehancuran. 

Dan tugas kita bersama adalah memastikan semakin banyak anak Indonesia memiliki keberanian

untuk memilih jalan yang benar. Melalui IKAN BAKAR, saya berharap sekolah-sekolah di Indonesia dapat bergerak lebih jauh: bukan hanya mengajar, tetapi menginspirasi; bukan hanya memberi informasi, tetapi membentuk kesadaran; bukan hanya menjalankan program, tetapi menyalakan gerakan.

Jika sekolah, keluarga, pemerintah, dan masyarakat bersatu dalam semangat ini, maka kita tidak hanya sedang mencegah narkoba. Kita sedang menyelamatkan masa depan.

Kita sedang merawat peradaban. Kita sedang memastikan bahwa Generasi Emas.  Indonesia benar-benar lahir sebagai generasi yang sehat, kuat, berkarakter, dan siap membawa bangsa ini menuju masa depan yang lebih bermartaba

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Nurbadriyah, M.Pd.
Media Perempuan Kritis dan Cerdas
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...