Esai · Potret Online

‎Kota Ramah yang Lelah

Penulis  Anies Septivirawan
Mei 31, 2026
2 menit baca 2
51878da4-32bf-4007-8e86-8ab22f1a9883
Foto / Ilustrasi‎Kota Ramah yang Lelah



‎Oleh Anies Septivirawan



‎Pagi yang datang setengah hati. Lampu jalan masih menyala, namun sinar matahari sudah merambat naik. Trotoar retak menahan langkah kaki yang sama, hari demi hari, tahun demi tahun.

‎Bis antar kota menghela napas di sebuah terminal. Sopirnya hafal setiap lubang aspal, hafal juga setiap wajah penumpang yang duduk dengan mata kosong menatap jendela, menatap aspal jalanan.

‎Sungai di tengah kota dulu jernih. Anak-anak dan aku pada masa kecil dulu sempat berenang di sana. Sekarang airnya malas mengalir, penuh sampah dan janji-janji proyek yang tak pernah selesai.

‎Taman kotanya pun begitu. Bangkunya diduduki orang-orang yang terlalu lelah untuk pulang, tapi juga terlalu lelah untuk pergi.

‎Malam datang bukan sebagai istirahat. Ia cuma berganti shift. Neon-neon berkedip lesu, suara klakson jadi doa yang diulang tanpa makna. Kota ini tidak mati. Ia cuma lupa cara bagaimana untuk menemukan jalan bahagia.

‎Ia hanya menunggu satu hal sederhana: seseorang yang mau duduk di trotoarnya tanpa buru-buru, dan bilang, “Tidak apa-apa kalau kamu istirahat dulu,”

‎Kota ujung timur sebelum Banyuwangi itu lelahnya beda. Bukan capek karena gedung tinggi lalu macet. Lelahnya Situbondo itu lelah menunggu.

‎Panasnya Baluran tak  pernah bohong. Aspal Jalan Ahmad Yani meleleh perlahan di siang hari, angkot dan trailer melintas di jalan itu seperti orang ngantuk. Pasar Panarukan buka dari subuh hingga menjelang sore, namun dagangannya itu-itu saja, Wajah pembelinya juga itu-itu saja. Pedagang nasinya sangat hafal siapa yang cuma mampir lalu bertanya harga.

‎Pelabuhan Jangkar menatap laut Selat Madura setiap malam, siang, pagi dan sore. Kapal-kapal lewat, namun jarang singgah. Seperti hidupnya orang Situbondo: banyak yang pergi ke Surabaya, Bali, Banyuwangi,  lalu pulang cuma membawa oleh-oleh cerita.

‎Pegunungan Ijen di sebelahnya mengeluarkan asap belerang, mengingatkan kita kalau bumi di sana masih bekerja keras. Tapi kotanya sendiri rasanya jalan di tempat. Taman Kota, alun-alun, semua rapi, bersih, namun sepi setelah magrib. Anak muda nongkrongnya hanya di situ-situ saja, berbincang tentang rencana yang “nanti kalau sudah ada modal”.

‎Situbondo lelah jadi kota transit. Dilewati orang mau ke Ketapang, dilewati wisatawan mau ke Baluran. Dia ramah, namun jarang menjadi tujuan utama.

‎Padahal kalau sore kita ke Pasir Putih, lautnya jujur banget. Ombaknya tidak sedang bermain drama. Tidak basa basi. Anginnya lembut m, menghapus rasa lelah tanpa bertanya tentang apa-apa. Mungkin itu cara Situbondo bilang: “Aku tidak heboh, tapi aku tetap di sini bersamamu, kalian dan mereka.”

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Anies Septivirawan adalah penikmat tulisan seni sastra dan budaya. Ia gemar menulis puisi sejak tahun 1995 sampai saat ini. Ia bergabung dengan himpunan penulis penyair dan pengarang nusantara (HP3N) Kota Batu dan SATUPENA Jawa Timur. Anies Lahir di kelurahan Dawuhan, Situbondo, Jawa Timur. Aktivitasnya sehari-hari sebagai wartawan media online. Baginya, menulis adalah upaya mengusir ion -ion negatif di dalam tubuh agar tetap sehat dan panjang umur. Ia sudah menulis 3 buku antologi puisi tunggal dan puisi-puisinya juga menyemarakkan sejumlah buku antologi bersama. Puisinya dan tulisan lainnya juga pernah satu buku dengan Gol A Gong. Buku antologi puisi tunggalnya yang pertama berjudul "Luka dan Kota Sepi Literasi", yang kedua adalah "Menimang Rindu Senja Kala" dan buku yang ketiga berjudul "Dua Senja Menyulam Damai"
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...