Artikel · Potret Online

Refleksi Atas Arsip Seni Jawa Timur

Penulis  Yani Andoko
Juli 23, 2026
9 menit baca 37
IMG_2280
Foto / IlustrasiRefleksi Atas Arsip Seni Jawa Timur

Oleh Yani Andoko 

Ketika Reog Bukan Sekadar Tontonan

Pernahkah Anda menyaksikan pertunjukan Reog Ponorogo? Singa barongan yang gagah berjalan gemulai, diikuti derap kuda kepang yang riuh, ditambah dentuman musik yang menggelegar. Bagi sebagian orang, itu sekadar tontonan yang menggetarkan. 

Tapi bagi warga Ponorogo, itu adalah jiwa. Di balik setiap gerakan warok yang menghentak, ada nilai-nilai keberanian, spiritualitas, dan identitas yang diwariskan turun-temurun.

Namun, bayangkan jika suatu hari Reog hanya kita lihat di museum. Atau hanya kita baca di buku sejarah. Ia akan berubah menjadi fosil yang dibekukan: indah untuk dikagumi, tapi mati dan tak bermakna.

Di sinilah pentingnya kita merenungkan kembali apa itu “arsip”. Selama ini, arsip sering dipahami sebagai dokumen kuno yang disimpan rapi di lemari besi. Tapi bagi Prof. Juli Pambudi dari Unesa, arsip seni adalah sesuatu yang jauh lebih hidup. Melalui pendekatan multidisipliner dalam kajian seni budaya, beliau mengingatkan: arsip seni Jawa Timur adalah sumber air yang terus mengalir, bukan fosil yang terbungkus kaca.

Lantas, bagaimana kita bisa memahami “air” yang mengalir ini? Dan mengapa penting bagi kita, generasi masa kini, untuk tidak sekadar menjadi penonton di tepi sungai?

Mengalir Melintasi Zaman, Menyatu Dengan Kehidupan

A. Keberagaman yang Menjadi Kekayaan

Jawa Timur bukanlah entitas budaya tunggal. Ia adalah mozaik yang indah. Ada Arek dengan logatnya yang blak-blakan dan semangat egaliternya. Ada Mataraman dengan estetika halus dan nilai-nilai feodal yang masih terasa. Ada Madura dengan kekerasan dan kesetiaannya yang legendaris. Ada Osing di Banyuwangi dengan keunikan ritual dan seninya yang khas. Belum lagi pengaruh Tionghoa, Arab, dan Eropa yang turut mewarnai.

Setiap wilayah punya jiwa seni yang berbeda. Estetika keraton melahirkan wayang orang dan karawitan yang penuh pakem dan kehalusan. Sementara semangat kerakyatan melahirkan ludruk, tayub, dan jaranan yang egaliter, spontan, dan terbuka pada perubahan. Inilah arsip hidup: ia terus berubah, menyerap pengaruh ruang dan waktu, tanpa kehilangan jati dirinya.

Bayangkan ludruk Surabaya yang dulu keras dan kritis, kini mulai beradaptasi dengan selera modern tanpa kehilangan semangat sindirannya. Bayangkan tari Gandrung Banyuwangi yang dulu sakral, kini menjadi ikon pariwisata tanpa kehilangan pesona mistisnya. Ini adalah bukti bahwa “air” seni itu mengalir, menyesuaikan diri dengan medan yang dilaluinya.

B. Warisan Majapahit Yang Tak Pernah Mati

Bicara seni Jawa Timur, kita tak bisa melepas jejak Majapahit. Relief-relief candi yang detail, arca-arca dewa, hingga kakawin seperti Nagarakretagama dan Sutasoma bukanlah benda mati. Mereka adalah “buku batu” yang mengajarkan nilai-nilai moral, spiritualitas, dan persatuan.

Coba perhatikan motif batik khas Jatim banyak yang terinspirasi dari ukiran Majapahit. Atau perhatikan wayang kulit yang masih digelar hingga kini; cerita-ceritanya tak lepas dari epik Ramayana dan Mahabharata yang sudah diadaptasi sejak era kerajaan. Bahkan, semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang kita kenal lahir dari kakawin Mpu Tantular, seorang pujangga Majapahit.

Bukankah itu arsip yang luar biasa? Sebuah teks kuno dari abad ke-14 yang terus mengalir menjadi ideologi bangsa hingga hari ini. Ia bukan sekadar kata-kata di prasasti. Ia adalah air yang meresap ke dalam kesadaran kita sebagai bangsa.

C. Antara Sakral dan Profan: Dinamika yang Tak Terelakkan

Salah satu ciri paling menarik dari seni Jawa Timur adalah kemampuannya untuk bergerak antara sakral dan profan. Ambil contoh Sandur Manduro di Jombang. Kesenian ini lahir dari akulturasi budaya Jawa dan Madura. Awalnya, Sandur berfungsi sebagai ritual tolak bala atau ungkapan syukur atas panen. Tapi seiring waktu, ia berubah menjadi hiburan rakyat yang meriah. Gerakannya yang dinamis, iringan musik yang enerjik, dan cerita yang ringan membuatnya digemari banyak kalangan.

Prof. Juli Pambudi, dalam pendekatan multidisiplinernya, menekankan bahwa perubahan seperti ini bukanlah degradasi, melainkan adaptasi. Seni yang hidup adalah seni yang mampu merespons kebutuhan zamannya. Ia tak ubahnya air yang mengalir, ketika bertemu batu ia berbuih, ketika masuk ke tanah ia meresap, ketika bertemu lautan ia menjadi gelombang. Bentuknya berubah, tapi esensinya air tetap sama.

D. Ludruk: Kritik Sosial yang Mengalir Kencang

Seni Jawa Timur juga bukan sekadar hiburan. Ludruk, misalnya, sejak dulu menjadi ruang kritik sosial yang subversif. Dengan guyonan pedas dan dialog yang menggugah, ludruk menyampaikan pesan-pesan moral dan sindiran kepada penguasa.

Saya ingat suatu ketika menyaksikan pertunjukan ludruk di sebuah desa di Mojokerto. Dalam adegan lawak, dua aktor dengan logat Suroboyoan khas saling melontarkan candaan yang ternyata sindiran halus tentang korupsi, kemacetan, dan harga sembako yang naik. Penonton tertawa terbahak-bahak, tapi di balik tawa itu ada pesan yang mengena. Ini bukan sekadar seni; ini adalah ruang publik, di mana rakyat bisa bersuara tanpa takut.

Ini adalah bukti bahwa arsip seni di sini bukan untuk dipajang, tapi untuk digunakan sebagai alat perbaikan sosial. Ludruk adalah “air” yang deras, menggerus ketidakadilan, membersihkan kebusukan, dan menyegarkan kesadaran publik.

E. Ketika “Air” Menghadapi Kekeringan: Tantangan Modernitas

Namun, “air” ini juga menghadapi tantangan besar: ia harus terus mengalir di tengah derasnya arus modernitas. Fenomena di Sidoarjo menunjukkan, seni hadrah yang dulu kental dengan nuansa keagamaan dan lokal kini tersaingi oleh banjari dan habsyi yang lebih populer dan “instagramable”.

Penelitian menunjukkan, yang bisa beradaptasi dengan selera publik dan teknologi akan bertahan. Yang kaku dan mempertahankan bentuk aslinya tanpa kompromi, perlahan tenggelam. Ini adalah dilema klasik pelestarian budaya. Apakah kita mempertahankan bentuk asli (yang berisiko ditinggalkan) atau mengubahnya (yang berisiko kehilangan esensi)?

Di sinilah pemikiran Prof. Juli menjadi relevan. Beliau mengajak kita untuk membedakan antara bentuk fisik dan nilai spiritual. Jika nilai-nilai luhurnya tetap terjaga, perubahan bentuk adalah keniscayaan. Reog yang tampil di karnaval dengan koreografi modern tetap Reog jika semangat keberanian dan spiritualitasnya masih terasa. Ludruk yang disisipi musik elektronik tetap ludruk jika kritik sosialnya masih tajam dan membumi.

Sintesis dan Refleksi: Pelajaran dari Sebuah Klenteng di Malang

Mari saya ceritakan pengalaman pribadi. Beberapa waktu lalu, saya mengunjungi Klenteng Dewi Kwan Im di Gunung Kawi, Malang. Di sana, ada tradisi Ciamsi: sebuah praktik ramalan kuno Tiongkok yang masih dijalankan hingga kini.

Para peziarah mengocok bambu berisi batang-batang kecil hingga salah satu jatuh. Dari nomor yang keluar, mereka mencocokkannya dengan kitab ramalan yang sudah berusia ratusan tahun. 

Seorang ibu paruh baya dengan khusyuk menjalani ritual itu. Ia tidak sekadar mencari ramalan; ia mencari ketenangan hati. Dalam kitab itu, ada petuah-petuah bijak tentang kesabaran, keikhlasan, dan keteguhan hati.

Ini adalah arsip hidup yang luar biasa. Kitab itu adalah fosil? Bukan. Ia adalah sumber air yang masih diminum oleh generasi baru yang haus akan petunjuk hidup. Tradisi Ciamsi tidak berhenti pada teks kuno; ia terus dialami, dirasakan, dan dipraktikkan.

Inilah pelajaran berharga bagi kita semua: arsip tidak harus berada di ruang ber-AC. Ia juga bisa berada di atas panggung Reog, dalam dialog ludruk, dalam motif batik, atau dalam ritual di klenteng. Esensinya adalah bagaimana nilai-nilai di dalamnya terus dirasakan, dipraktikkan, dan diwariskan.

Idealisme Yang Ditawarkan: Menjaga Mata Air, Bukan Mengeringkan Danau

Prof. Juli Pambudi mengajarkan bahwa pendekatan multidisipliner sangat penting dalam memahami dan melestarikan seni budaya. Ini artinya, kita tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan sejarah atau antropologi semata. Kita perlu seni, sosiologi, pendidikan, bahkan ekonomi kreatif untuk mengelola arsip seni agar tetap hidup.

Saya membayangkan sebuah masa depan di mana:

Reog diajarkan di sekolah bukan hanya sebagai gerakan, tapi sebagai filosofi hidup tentang keberanian dan kerja sama.

Ludruk direvitalisasi sebagai media kampanye sosial yang efektif, bukan sekadar hiburan malam mingguan.

Batik Jatim dipromosikan bukan hanya sebagai kain, tapi sebagai narasi sejarah yang bisa “dibaca” oleh generasi muda.

Generasi milenial dan Z didorong untuk berkreasi dengan arsip seni, menciptakan karya-karya baru yang berbasis tradisi namun berbicara tentang isu kekinian.

Ini bukanlah mimpi. Di beberapa komunitas, hal ini sudah mulai terjadi. Ada kelompok seniman muda di Malang yang menggabungkan tari topeng dengan teater kontemporer. Ada inisiator di Ponorogo yang mengajarkan Reog pada anak-anak dengan pendekatan yang menyenangkan. Ada desainer muda yang mengangkat motif-motif Majapahit ke dalam fesyen modern.

Gagasan Praktis untuk Kita Semua

Untuk itu, saya menawarkan beberapa gagasan sederhana yang bisa kita lakukan sehari-hari:

 Mengalirkan, bukan Membekukan: Dukung para seniman lokal untuk berkreasi. Jangan terpaku pada “kemurnian” bentuk, tapi apresiasi nilai-nilai yang diusung. Seperti kata Prof. Juli, biarkan seni itu mengalir.

 Mengajak, bukan Menggurui: Libatkan generasi muda bukan hanya sebagai penonton, tapi sebagai pelaku. Buat mereka jatuh cinta pada nilai-nilai, bukan hanya pada bentuk fisik seni itu. Ajak mereka ke pertunjukan, ke sanggar, ke museum, tapi biarkan mereka bertanya, berdiskusi, dan akhirnya berkreasi.

 Menulis, bukan Merekam: Dokumentasi itu penting, tapi yang lebih penting adalah menuliskan narasi, cerita, dan makna di balik setiap tarian, setiap lagu. Sehingga generasi mendatang dapat membaca dan memahami masa lalunya, bukan sekadar melihat gambarnya.

 Merayakan, bukan Meratapi: Terlalu sering kita bersedih karena seni tradisi “hilang” atau “berubah”. Padahal, perubahan adalah tanda kehidupan. Mari kita rayakan setiap adaptasi, setiap kolaborasi baru, sebagai bukti bahwa arsip seni kita masih bernyawa.

Menjaga Mata Air, Merawat Kehidupan

Saya ingin mengakhiri esai ini dengan sebuah pengalaman. Suatu sore, di sebuah desa di Kediri, saya menyaksikan pertunjukan wayang kulit yang digelar untuk merayakan khitanan. Dalangnya sudah tua, suaranya serak tapi penuh wibawa. Di tengah pertunjukan, tiba-tiba ia menyelipkan guyonan tentang mahalnya biaya sekolah dan sulitnya mencari kerja. Penonton yang terdiri dari berbagai usia tertawa dan mengangguk-angguk.

Di momen itu, saya tersadar: inilah arsip seni yang sesungguhnya. Bukan wayang yang tergantung di museum, tapi wayang yang berbicara tentang kehidupan hari ini. Bukan teks kuno yang terbungkus plastik, tapi nilai-nilai yang terus berbisik di telinga kita.

Mengarsipkan seni Jawa Timur bukanlah proyek pengawetan mayat. Ini adalah tugas menjaga mata air agar tak pernah kering. Kita adalah generasi yang berdiri di antara aliran sungai. Di satu sisi, kita menerima warisan dari masa lalu; di sisi lain, kita meneruskannya ke masa depan.

Jika kita hanya menjadi “penonton” di tepi sungai, arsip itu akan melaju sendiri dan menghilang. Tapi jika kita berani turun ke dalamnya, merasakan dinginnya air, dan menyelami kedalamannya, maka kitalah yang akan mengalir bersama seni itu. Dan saat itu, kita tidak sedang melestarikan fosil. Kita sedang menghidupi jiwa.

Air itu mengalir. Pertanyaannya: apakah kita cukup berani untuk ikut hanyut?

                  Batu, 21 Juli 2026

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Yani Andoko Penulis | Mantan Anggota DPRD Kota Batu (2004–2014) | Sekretaris Satupena Jawa Timur Lahir di Batu, 1 Maret 1968 Menulis sejak 1980-an di Anita Cemerlang, Aneka, Nona, Gadis, Mode, Surya, Jawa Pos, Kedaulatan Rakyat dan lain-lain Pimpinan redaksi & jurnalis Kopindo Jakarta,(Surya Kompas Group, Tabloid Sinergi Kopindo, Jatim News) Ketua FORWAL (Forum Lingkungan Hidup) Kota Batu (1999–2003) Anggota DPRD Kota Batu 2 periode Mengikuti Seminar Nasional Anti Korupsi di Lemhannas RI (2005) & Kursus Lemhannas RI Angkatan XVIII (2008) S1 Ilmu Hukum, Universitas Wisnu Wardhana (2007) Sekretaris Satupena Jawa Timur (2023–sekarang) Hobi: membaca, fotografi, traveling Menulis adalah caraku berbicara kepada dunia.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...