Esai · Potret Online

Kala Penyuluh Agama Islam dan DLH Bersatu dalam Aksi Peduli Lingkungan di RTH Tapaktuan

Penulis  Redaksi
Mei 26, 2026
5 menit baca 2
Disunting Oleh

Oleh Muhammad Ali Akbar

Harlah IPARI Ke-3 Penuh Semangat Kebersamaan

Pada Senin, 25 Mei 2026, peringatan Hari Lahir Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) ke-3 berlangsung meriah di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Tapaktuan. Kegiatan ini mengusung tema “Pilah Sampah untuk Pelestarian Lingkungan dan Pemberdayaan Ekonomi” serta slogan “IPARI Merawat Indonesia” melalui gerakan spiritual, literasi, dan ekoteologi. Sejak pagi hari, suasana penuh semangat dan kebersamaan sudah terasa antusias dari para peserta yang hadir mengikuti kegiatan tersebut.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh para Penyuluh Agama Islam dari KUA Tapaktuan dan KUA Samadua. Hadir pula perwakilan dari Kantor Kementerian Agama Aceh Selatan, Aljabar Fauzi, S.Ag., serta Kepala Dinas Lingkungan Hidup Aceh Selatan yang diwakili oleh Kepala Bidang, Alvino Karosa HG, SH. Momentum Harlah IPARI ini menjadi ajang mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat kepedulian terhadap lingkungan hidup sebagai bagian dari tanggung jawab bersama.

Menariknya, kegiatan ini tidak hanya dilaksanakan di satu lokasi, tetapi berlangsung serentak pada empat titik wilayah di Aceh Selatan. Labuhan Haji Raya menjadi satu titik kegiatan, Meukek dan Sawang satu titik, Tapaktuan dan Samadua satu titik, Kluet Raya dan Pasie Raja satu titik, serta Trumon Raya dan Bakongan satu titik kegiatan lainnya. 

Seluruh rangkaian kegiatan tersebut dikoordinir langsung oleh Ketua, Sekretaris, dan Bendahara PD IPARI Aceh Selatan sehingga pelaksanaan berjalan tertib dan penuh semangat kebersamaan.

Di sela kegiatan, suasana juga dihiasi canda ringan antar peserta. Ada yang semangat membawa kantong sampah besar, tetapi ternyata isinya malah botol minum sendiri yang lupa dibuang sejak dari rumah. Peserta lain langsung tertawa sambil berkata, “Belum mulai bersih-bersih, stok sampah pribadi sudah lengkap duluan.”

Dakwah Lingkungan dalam Semangat Ekoteologi

Dalam sambutannya, para narasumber menyampaikan bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari ajaran agama. Islam mengajarkan kebersihan sebagai sebagian dari iman dan mendorong umat untuk menjaga bumi sebagai amanah dari Allah Swt. Penyuluh agama memiliki peran penting dalam membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman untuk kehidupan bersama.

Konsep ekoteologi yang diangkat dalam kegiatan ini menjadi pendekatan dakwah yang menghubungkan nilai spiritual dengan kepedulian terhadap alam. Penyuluh agama diharapkan mampu menyampaikan pesan-pesan lingkungan dalam ceramah, pengajian, maupun kegiatan sosial kemasyarakatan, sehingga dakwah tidak hanya berbicara tentang ibadah mahdhah, tetapi juga kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Selain itu, kegiatan ini juga mengajarkan pentingnya memilah sampah organik dan nonorganik sejak dari rumah. Sampah yang dikelola dengan baik tidak hanya menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang dapat membantu pemberdayaan masyarakat. Kesadaran kecil seperti membuang sampah pada tempatnya diharapkan mampu melahirkan perubahan besar di tengah masyarakat.

Namun di lapangan, masih ada juga peserta yang bingung membedakan sampah organik dan nonorganik. Kulit pisang sempat masuk ke tempat plastik, sementara botol air mineral hampir masuk ke tempat kompos. Panitia pun hanya tersenyum sambil berkata, “Yang penting semangat dulu, nanti ilmunya kita tambah pelan-pelan.”

Kolaborasi Penyuluh Agama dan DLH Aceh Selatan

Kegiatan ini menjadi bukti nyata sinergi antara penyuluh agama dan pemerintah daerah dalam membangun kesadaran lingkungan di tengah masyarakat. Kehadiran Dinas Lingkungan Hidup Aceh Selatan memberikan dukungan besar terhadap gerakan peduli lingkungan yang diinisiasi oleh IPARI Aceh Selatan.

Sementara itu, Aljabar Fauzi, S.Ag. menyampaikan bahwa penyuluh agama harus mampu menjadi teladan dalam kehidupan sosial, termasuk dalam menjaga kebersihan lingkungan. Dakwah tidak cukup hanya melalui lisan, tetapi juga melalui tindakan nyata di tengah masyarakat. Karena itu, aksi peduli lingkungan seperti ini menjadi bagian dari dakwah yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.

Kolaborasi seperti ini diharapkan dapat terus berlanjut melalui berbagai program edukasi lingkungan berbasis masjid, sekolah, dan masyarakat gampong. Dengan demikian, semangat menjaga kebersihan dapat tumbuh menjadi budaya bersama yang diwariskan kepada generasi muda di Aceh Selatan.

Di sela kegiatan, ada peserta yang sibuk mencari sapu lidi sambil bercanda, “Kalau biasanya dakwah pakai mikrofon, hari ini dakwah pakai sapu.” Mendengar itu, peserta lain langsung tertawa sambil tetap memungut sampah di sekitar lokasi kegiatan.

RTH Tapaktuan Jadi Ruang Edukasi dan Kepedulian

Ruang Terbuka Hijau Tapaktuan dipilih sebagai lokasi kegiatan karena menjadi salah satu ruang publik yang ramai dikunjungi masyarakat. Selain nyaman dan asri, lokasi tersebut sangat tepat untuk mengajak masyarakat lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan dan pentingnya menjaga fasilitas umum bersama-sama.

Dalam kegiatan itu, peserta melakukan aksi bersih-bersih lingkungan sekaligus edukasi tentang pentingnya membuang sampah pada tempatnya. Para penyuluh agama terlihat berbaur dengan peserta lain membersihkan area sekitar dengan penuh semangat dan kebersamaan tanpa membedakan jabatan maupun tugas masing-masing.

Kegiatan sederhana seperti ini ternyata mampu memberi pesan besar kepada masyarakat bahwa menjaga lingkungan bukan tugas satu pihak saja, melainkan tanggung jawab bersama. Lingkungan yang bersih akan menciptakan kenyamanan, kesehatan, dan suasana yang lebih indah bagi semua orang.

Walaupun begitu, tetap ada saja peserta yang lebih sibuk foto bersama dibanding memungut sampah. Baru mengangkat satu plastik kecil, fotonya sudah lima gaya. Tetapi justru dari suasana santai seperti itulah kebersamaan dan semangat kegiatan semakin terasa hangat dan menyenangkan.

 Harapan IPARI untuk Indonesia yang Lebih Bersih

Peringatan Harlah IPARI ke-3 ini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial semata, tetapi menjadi gerakan nyata yang terus berkelanjutan di tengah masyarakat. Penyuluh agama diharapkan mampu menjadi penggerak perubahan dalam membangun budaya hidup bersih, sehat, dan peduli lingkungan.

Melalui tema yang diangkat tahun ini, IPARI ingin menunjukkan bahwa dakwah dapat hadir dalam berbagai bentuk, termasuk melalui aksi sosial dan kepedulian terhadap lingkungan hidup. Spiritualitas dan kepedulian sosial harus berjalan beriringan demi menciptakan masyarakat yang lebih baik dan lingkungan yang lebih sehat.

Para peserta berharap kegiatan seperti ini terus dilaksanakan secara rutin dengan melibatkan lebih banyak unsur masyarakat, pelajar, dan generasi muda. Dengan demikian, semangat “IPARI Merawat Indonesia” benar-benar menjadi gerakan bersama dalam menjaga bumi dan lingkungan sekitar.

Di akhir kegiatan, sebagian peserta terlihat lelah tetapi tetap bahagia. Ada yang berkata sambil bercanda, “Hari ini kita pulang bukan cuma dapat pahala, tapi bonus pegal-pegal juga.” Namun dari tawa dan kebersamaan itu, tumbuh semangat bahwa menjaga lingkungan ternyata bisa dilakukan dengan cara sederhana, menyenangkan, dan penuh makna.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Majalah Perempuan Aceh
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...