Artikel · Potret Online

Guru Pembelajar

Penulis Dr. Mochamad Taufik, M.Pd.
Juli 30, 2026
5 menit baca 43
d15c97c5-41c4-4a73-b28b-e5186875db76
Foto / IlustrasiGuru Pembelajar
Disunting Oleh

Mendaki Ilmu, Menyalakan Peradaban”

Oleh: Dr. Mochamad Taufik, M.Pd.

“Bacalah!”

Demikianlah kata pertama yang Allah wahyukan kepada Nabi Muhammad . Bukan perintah untuk memerintah, bukan pula perintah untuk menguasai, melainkan perintah untuk membaca, belajar, dan membuka cakrawala ilmu.

Firman Allah Swt.:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ۝ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ ۝ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ ۝ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ ۝ عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْيَعْلَمْ

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq [96]: 1–5).

Tidaklah mengherankan apabila Islam kemudian melahirkan peradaban ilmu yang begitu gemilang. Masjid berubah menjadi pusat pembelajaran. Perpustakaan tumbuh di berbagai kota. Para ulama menghabiskan hidupnya untuk membaca, menulis, berdiskusi, dan mengajarkan ilmu kepada generasi berikutnya.

Di tengah arus perubahan yang begitu cepat saat ini, guru kembali dihadapkan pada sebuah pertanyaan besar: Apakah saya masih menjadi seorang pembelajar?

Mengajar memang profesi. Akan tetapi, belajar adalah jati diri seorang guru.

Guru yang berhenti belajar sesungguhnya sedang menghentikan pertumbuhan dirinya. Ia mungkin masih berdiri di depan kelas, tetapi gagasan-gagasannya perlahan kehilangan daya hidup. Ia mengajar dengan materi yang sama, metode yang sama, bahkan semangat yang sama seperti bertahun-tahun sebelumnya, sementara murid-muridnya telah berubah menjadi generasi digital yang berpikir lebih cepat, lebih visual, dan lebih kritis.

Dalam perjalanan profesi pendidik, setidaknya terdapat tiga tipe guru.

Yang pertama adalah guru diam.

Guru diam bukan berarti tidak berbicara. Ia tetap mengajar, tetap hadir di sekolah, bahkan mungkin memiliki pengalaman mengajar puluhan tahun. Namun sesungguhnya ia telah berhenti bertumbuh.

Ia merasa dirinya sudah cukup. 

Pengalaman dianggap lebih penting daripada pembaruan. Buku baru tidak lagi menarik. Seminar dianggap sekadar formalitas. Pelatihan dipandang sebagai beban administrasi.

Padahal, ilmu tidak pernah berhenti berkembang.

Allah Swt. bahkan memerintahkan Nabi Muhammad  untuk terus memohon tambahan ilmu.

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Dan katakanlah: Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu.” (QS. Ṭāhā [20]: 114).

Menurut Ibnu Katsir, ayat ini merupakan kemuliaan ilmu. Allah tidak memerintahkan Nabi-Nya meminta tambahan harta atau kekuasaan, tetapi meminta tambahan ilmu. Ini menunjukkan bahwa pencarian ilmu adalah perjalanan yang tidak pernah selesai.

Tipe kedua adalah guru camping.

Seperti seorang pendaki yang berhenti di tengah gunung lalu mendirikan tenda, guru tipe ini sebenarnya sudah memulai perjalanan belajar. Ia pernah mengikuti pelatihan, membaca buku, mencoba metode baru, bahkan melanjutkan studi.

Sayangnya, perjalanan itu berhenti.

Zona nyaman terasa lebih menyenangkan daripada perjuangan. Rutinitas dianggap lebih aman daripada perubahan. Perlahan semangat belajar memudar.

Boleh jadi bukan karena tidak mampu, tetapi karena merasa sudah cukup.

Padahal tantangan pendidikan tidak pernah berhenti berubah.

Kecerdasan buatan, pembelajaran digital, literasi multimodal, pendidikan karakter, hingga kemampuan berpikir kritis menuntut guru terus memperbarui kompetensinya.

Yang ketiga adalah guru mendaki.

Inilah guru pembelajar.

Ia memahami bahwa puncak ilmu tidak pernah benar-benar dapat dicapai. Setiap puncak hanya akan memperlihatkan puncak-puncak lain yang lebih tinggi.

Guru mendaki menikmati proses belajar.

Ia membaca buku ketika orang lain sibuk mencari alasan. Ia mengikuti seminar bukan karena mendapat sertifikat, tetapi karena ingin memperoleh wawasan baru. Ia berdiskusi dengan rekan sejawat, melakukan penelitian, menulis artikel, memperbaiki strategi pembelajaran, bahkan tidak ragu kembali menjadi mahasiswa.

Baginya, belajar bukan kewajiban administratif, melainkan kebutuhan ruhani.

Rasulullah  bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa “jalan mencari ilmu” bukan hanya berjalan menuju majelis ilmu, tetapi juga setiap ikhtiar yang dilakukan untuk memperoleh pengetahuan yang bermanfaat.

Lebih jauh lagi, M. Quraish Shihab menafsirkan doa Rabbi zidni ‘ilma sebagai ajaran agar manusia tidak pernah merasa selesai dalam belajar. Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin besar kerendahan hatinya.

Di sinilah letak kemuliaan seorang guru.

Bukan pada banyaknya sertifikat yang dimiliki.

Bukan pula pada panjangnya masa kerja.

Tetapi pada kesediaannya untuk terus memperbaiki diri.

Ki Hajar Dewantara pernah mengingatkan bahwa pendidikan adalah proses menuntun tumbuhnya kodrat anak. Guru hanya dapat menuntun apabila dirinya sendiri juga terus bertumbuh.

Hal yang sama ditegaskan oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas. Menurutnya, hakikat pendidikan adalah ta’dib, yakni proses pembentukan manusia yang berilmu sekaligus beradab. Guru tidak cukup hanya menguasai pengetahuan, tetapi harus terus menyucikan niat, memperluas wawasan, dan memperindah akhlaknya.

Hari ini dunia berubah lebih cepat daripada sebelumnya.

Murid-murid datang ke sekolah dengan informasi yang melimpah di genggaman mereka. Yang mereka butuhkan bukan sekadar guru yang pandai berbicara, melainkan guru yang mampu menginspirasi, membimbing, dan menunjukkan bagaimana cara terus belajar.

Karena itu, setiap guru perlu bertanya kepada dirinya sendiri setiap pagi.

Apakah hari ini saya masih membaca?

Apakah saya masih belajar?

Apakah saya masih memiliki rasa ingin tahu?

Apakah saya masih berani berubah?

Jangan sampai usia mengajar terus bertambah, tetapi semangat belajar justru semakin berkurang.

Sebab, sesungguhnya yang membedakan guru biasa dengan guru luar biasa bukanlah lamanya mengajar, melainkan kemauannya untuk terus belajar.

Mari menjadi guru pendaki.

Terus melangkah meski perlahan.

Terus belajar meski tidak mudah.

Terus bertumbuh meski harus keluar dari zona nyaman.

Sebab di setiap langkah pencarian ilmu, bukan hanya kualitas diri yang meningkat, tetapi juga masa depan anak-anak bangsa sedang kita bangun.

Guru yang terus belajar akan melahirkan murid yang gemar belajar.

Dan murid yang gemar belajar akan melahirkan peradaban yang gemilang.

“Guru pembelajar bukanlah guru yang merasa paling tahu, tetapi guru yang setiap hari ingin mengetahui sesuatu yang baru. Sebab ketika guru berhenti belajar, pada saat itulah sesungguhnya ia berhenti menginspirasi.”

Wallāhu a’lam biṣ-ṣawāb.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Dr. Mochamad Taufik, M.Pd.
Media Perempuan Kritis dan Cerdas
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...