Wisata Desa Sirapan: Ruang Perjumpaan Budaya, Sejarah, dan Spiritualitas

Oleh Fileski Walidha Tanjung
Pada malam Jumat, 28 Mei 2026, saya diajak rekan-rekan budayawan untuk menghadiri tradisi melekan di Desa Sirapan, Kabupaten Madiun. Malam itu adalah malam menjelang bersih desa. Saya datang dengan harapan menemukan sebuah ritual tahunan masyarakat pedesaan. Namun yang saya temukan justru jauh lebih besar daripada sekadar tradisi. Saya menemukan sebuah ruang perjumpaan antara sejarah, spiritualitas, kebudayaan, dan imajinasi kolektif yang perlahan sedang membangun masa depan.
Di tengah zaman yang semakin mengukur segala sesuatu dengan angka, statistik, dan keuntungan ekonomi, Desa Sirapan menghadirkan pelajaran yang jarang kita sadari: bahwa sebuah tempat tidak menjadi bernilai karena bangunan fisiknya semata, melainkan karena cerita yang hidup di dalamnya.
Malam itu, para pegiat budaya mengisahkan bagaimana Sirapan bukanlah desa biasa. Wilayah ini merupakan saksi perjuangan Pangeran Harijo Tedjokoesoemo melawan penjajah pada tahun 1826. Di tempat ini strategi perlawanan disusun bersama para ulama dan santri. Yang menarik, hingga hari ini warisan tersebut masih terasa. Islam tumbuh kuat, tetapi tidak meniadakan akar budaya leluhur. Sebaliknya, keduanya berdialog dan hidup berdampingan.
Di tengah arus globalisasi yang sering memaksa masyarakat memilih antara agama atau budaya, Sirapan menunjukkan kemungkinan lain: harmoni.
Pusat denyut kebudayaan desa ini berada di Punden Lancur Sari. Sebuah sumber mata air yang kini menjadi jantung berbagai aktivitas budaya. Di sekitarnya berdiri pendopo yang menjadi ruang cangkrukan budaya, pertunjukan wayang, festival, diskusi seni, hingga berbagai ritual adat masyarakat.
Ketika saya berada di sana, saya merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan oleh bahasa statistik. Barangkali inilah yang disebut orang Jawa sebagai rasa. Sebuah suasana hening yang membuat seseorang ingin duduk lebih lama, mendengarkan angin, dan berdamai dengan dirinya sendiri.
Nama Sirapan sendiri sering dikaitkan dengan kata sirep, yang berarti tenang, hening, dan damai. Dalam dunia yang gaduh oleh notifikasi, kontestasi politik, dan kecemasan ekonomi, ketenangan justru menjadi kemewahan baru. Mungkin itulah sebabnya desa ini memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata budaya dan spiritual.
Namun sejarah saja tidak cukup membangun daya tarik sebuah destinasi.
Di sinilah saya menemukan sesuatu yang lebih menarik: mitologi.
Banyak orang modern menganggap mitos sebagai kebohongan masa lalu. Saya justru melihatnya sebagai teknologi imajinasi yang diwariskan leluhur. Mitos bukan lawan dari fakta. Mitos adalah jembatan yang membuat fakta menjadi hidup.
Filsuf Prancis Roland Barthes pernah menulis bahwa mitos adalah cara budaya memberi makna pada dunia. Sementara penulis Amerika Joseph Campbell mengatakan, “Mitos adalah lagu semesta yang kita dengarkan melalui diri kita sendiri.”
Dalam bahasa sederhana, manusia tidak hanya hidup dengan data. Manusia hidup dengan cerita.
Ketika saya masih SMP, saya tahu bahwa kisah Bandung Bondowoso membangun Candi Prambanan dalam semalam adalah legenda. Namun justru legenda itulah yang membuat saya ingin datang ke Prambanan. Bukan karena saya mempercayai keajaibannya secara harfiah, melainkan karena saya ingin mengalami ruang yang melahirkan cerita sebesar itu.
Hal yang sama dapat terjadi di Sirapan.
Desa ini memiliki mitologi Asu Baong. Dalam banyak cerita masyarakat, sosok ini sering disalahpahami sebagai makhluk menakutkan. Padahal dalam khazanah spiritual Jawa, Asu Baong justru dipandang sebagai penjaga desa. Ia digambarkan berpatroli pada malam hari, memberikan pertanda jika bahaya mendekat, menjadi alarm alam yang menjaga ketenteraman warga.
Saya membayangkan suatu hari wisatawan berjalan menyusuri jalur budaya Sirapan pada malam hari, mendengarkan kisah tentang Asu Baong sambil menikmati suasana desa yang sunyi. Bukan untuk mencari ketakutan, melainkan untuk memahami bagaimana masyarakat Jawa membangun konsep kewaspadaan, kesetiaan, dan perlindungan melalui simbol seekor anjing mitologis.
Tidak jauh dari sana berkembang pula cerita tentang ayam jago wiring kuning. Dalam tradisi katuranggan Jawa, ayam ini dianggap sebagai simbol kepemimpinan, kewibawaan, dan kejayaan. Kita dapat melihat bagaimana masyarakat masa lalu menyimpan filosofi kepemimpinan bahkan melalui seekor ayam.
Ada pula pohon mentaok yang tumbuh di kawasan punden. Pohon yang mengingatkan kita pada Alas Mentaok, tempat lahirnya peradaban Mataram Islam. Pohon ini bukan sekadar vegetasi. Ia adalah monumen hidup tentang perjuangan mengubah hutan menjadi pusat peradaban. Dari akar hingga pucuknya, pohon mentaok mengajarkan bahwa setiap kejayaan selalu berawal dari keberanian membuka jalan di tengah keterbatasan.
Sirapan juga menyimpan kisah tentang watu lumpang yang konon selalu kembali ke tempat asalnya meski telah dipindahkan berkali-kali. Terlepas dari benar atau tidaknya cerita tersebut, legenda ini menghadirkan simbol yang menarik: bahwa ada hal-hal yang memiliki ikatan kuat dengan asal-usulnya.
Bukankah manusia modern pun sedang mengalami hal serupa? Kita pergi jauh mencari kemajuan, namun seringkali kembali mencari akar.
Di tengah geliat budaya itu, masyarakat Sirapan menggelar Sirapan Culture Festival. Puluhan tumpeng hasil bumi dikirab dari kantor desa menuju Punden Lancur Sari. Ada tumpeng nasi, sayuran, mie, uang, hingga berbagai hasil produksi warga. Semuanya menjadi simbol rasa syukur kepada Allah SWT atas limpahan rezeki dan keselamatan desa.
Tradisi ini menunjukkan bahwa kebudayaan bukan sekadar tontonan. Kebudayaan adalah mekanisme sosial yang menjaga solidaritas masyarakat.
Di sisi lain, Sirapan juga memiliki potensi wisata yang lengkap. Pengunjung dapat berziarah ke makam Eyang Tedjokusumo, menikmati panorama Gunung Mondoroko, mengunjungi Watu Sugih, menikmati kuliner khas samplok berbahan singkong, hingga menyelami berbagai cerita sejarah yang tersimpan di setiap sudut desa.
Semua itu sesungguhnya telah tersedia. Yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk merangkainya menjadi narasi besar.
Sebab pada akhirnya, ekonomi kreatif tidak lahir dari beton, melainkan dari cerita.
Lukisan bisa bernilai miliaran rupiah karena cerita di baliknya. Sebuah kota bisa mendunia karena legenda yang diwariskan turun-temurun. Sebuah desa dapat menjadi destinasi wisata unggulan karena masyarakatnya percaya bahwa warisan budaya layak dirawat dan diceritakan.
Albert Einstein pernah mengatakan, “Logika akan membawa Anda dari A ke B. Imajinasi akan membawa Anda ke mana saja.”
Filosof Chinua Achebe, pernah mengatakan “Sampai singa memiliki penulisnya sendiri, kisah perburuan akan selalu memuliakan pemburu.”
Mungkin inilah tantangan terbesar Sirapan hari ini. Bukan membangun cerita yang tidak ada, melainkan berani menuliskan cerita yang selama ini telah hidup di tengah masyarakat.
Desa ini memiliki sejarah, budaya, spiritualitas, seni, kuliner, lanskap alam, dan mitologi. Semua unsur yang dibutuhkan sebuah destinasi unggulan sesungguhnya telah tersedia. Tinggal bagaimana seluruh elemen masyarakat merawatnya menjadi narasi bersama.
Karena pada akhirnya, wisata terbaik bukanlah tempat yang paling megah, melainkan tempat yang mampu membuat seseorang pulang dengan membawa makna.
Dan ketika saya meninggalkan Sirapan malam itu, satu pertanyaan terus mengikuti langkah saya: jika sebuah desa mampu menjaga sejarah, budaya, mitos, dan ketenangan sekaligus, mungkinkah yang sebenarnya dicari manusia modern bukanlah destinasi baru, melainkan jalan pulang menuju dirinya sendiri. (*













