Reboan Musik: Ruang Perjumpaan Karya Lintas Disiplin Seni

Oleh Fileski Walidha Tanjung
Di zaman ketika hampir segala hal diukur dengan angka, algoritma, dan keuntungan ekonomi, ruang-ruang kebudayaan sering kali dianggap sebagai kegiatan sampingan yang boleh ada, tetapi tidak dianggap penting.
Padahal sejarah menunjukkan bahwa peradaban tidak dibangun hanya oleh jalan raya, gedung tinggi, atau kawasan industri. Peradaban dibangun oleh kemampuan manusia menciptakan makna. Dan makna lahir dari kebudayaan.
Di tengah arus zaman yang semakin pragmatis, hadirnya Reboan Musik di pelataran Dekranasda Kota Madiun menjadi peristiwa yang lebih besar daripada sekadar pertunjukan musik rutin. Ia adalah upaya merawat ruang bersama di tengah kecenderungan masyarakat modern yang semakin terfragmentasi. Ketika orang sibuk membangun identitas di dunia digital, para musisi, perajin, seniman, dan warga Madiun justru berkumpul secara fisik untuk menciptakan pengalaman yang tidak dapat digantikan oleh layar gawai.
Filsuf Hannah Arendt pernah mengingatkan bahwa manusia sejatinya adalah makhluk yang hidup dalam ruang publik. “Dunia menjadi manusiawi hanya ketika menjadi objek pembicaraan antarmanusia.” Dalam terjemahan bebas, pernyataan itu menunjukkan bahwa kebudayaan lahir ketika manusia bertemu, berdialog, dan saling berbagi pengalaman. Tanpa ruang perjumpaan, masyarakat perlahan kehilangan kemampuan untuk memahami dirinya sendiri.
Di sinilah pentingnya Reboan Musik. Acara ini bukan hanya panggung bagi musisi seperti Xtrim Percussion, Daniel The Genks, maupun Rusa Terbang Project. Ia adalah laboratorium sosial tempat kreativitas, solidaritas, dan harapan diuji setiap pekan. Ketika musisi lokal mendapatkan ruang tampil, sesungguhnya yang sedang tumbuh bukan sekadar karya seni, melainkan ekosistem kebudayaan yang memungkinkan lahirnya generasi kreatif berikutnya.
Namun ada hal lain yang membuat Reboan Musik layak mendapat perhatian lebih luas. Pada gelaran ini, seni tidak berhenti sebagai hiburan. Seni hadir sebagai kritik sosial. Seni menjadi suara bagi sesuatu yang sering tidak memiliki kesempatan untuk berbicara.
Hal itu tampak dalam karya performance art “Jerit Akar yang Tercabut” yang dibawakan Rusa Terbang Project. Karya tersebut mengangkat isu kehancuran hutan akibat pengalihan fungsi lahan dan eksploitasi lingkungan. Tubuh performer yang dibalut kain hijau dan cokelat menjelma metafora hutan yang hidup. Ketika kain itu ditarik paksa, ranting dipatahkan, dan tanah ditebarkan ke ruang pertunjukan, penonton tidak sedang menyaksikan sebuah cerita. Mereka sedang menyaksikan gambaran tentang apa yang sesungguhnya terjadi di banyak tempat di negeri ini.
Menariknya, karya ini tidak menawarkan kemarahan sebagai akhir cerita. Di puncak pertunjukan, bibit-bibit pohon yang berserakan kembali ditanam. Ada harapan yang tumbuh dari reruntuhan. Ada keyakinan bahwa manusia masih memiliki kesempatan memperbaiki hubungannya dengan alam.
Perspektif semacam ini penting karena selama ini pembangunan sering ditempatkan berhadapan dengan lingkungan. Seolah-olah masyarakat harus memilih antara pertumbuhan ekonomi atau kelestarian alam. Padahal pertanyaan yang lebih mendasar adalah: pembangunan untuk siapa jika pada akhirnya menghancurkan sumber kehidupan itu sendiri?
Pemikir lingkungan Arne Naess pernah mengatakan, “Kualitas hidup tidak ditentukan oleh meningkatnya konsumsi, melainkan oleh kedalaman hubungan kita dengan kehidupan.” Pernyataan tersebut terasa semakin relevan hari ini. Ketika banyak wilayah kehilangan ruang hijau, mengalami krisis air, dan menghadapi perubahan iklim yang semakin nyata, kita perlu mengkaji ulang cara memandang kemajuan. Mungkin kemajuan bukan tentang seberapa cepat kita membangun, melainkan seberapa lama kehidupan dapat bertahan.
Dalam konteks itulah Reboan Musik menghadirkan gagasan yang menarik. Musik, kerajinan, seni pertunjukan, dan kesadaran lingkungan dipertemukan dalam satu ruang. Sebuah model kebudayaan yang tidak memisahkan kreativitas dari tanggung jawab sosial. Seni tidak lagi hanya berbicara tentang estetika, tetapi juga etika.
Di banyak kota, ruang publik sering dipenuhi baliho komersial, pusat belanja, dan aktivitas konsumsi. Sementara ruang untuk berimajinasi bersama semakin menyempit. Reboan Musik justru bergerak ke arah yang berbeda. Ia mengingatkan bahwa kota yang sehat bukan hanya kota yang mampu menghasilkan uang, tetapi juga kota yang mampu menghasilkan gagasan, empati, dan harapan.
Mungkin karena itu acara semacam ini perlu dipandang sebagai investasi peradaban. Dari ruang sederhana, bisa lahir musisi-musisi baru yang kreatif. Bisa tumbuh jaringan ekonomi kreatif yang memberi penghidupan bagi para pelaku seni. Bisa muncul kesadaran ekologis yang mempengaruhi cara masyarakat memandang alam. Dan yang tidak kalah penting, bisa tercipta kembali rasa memiliki terhadap komunitas yang selama ini perlahan terkikis oleh individualisme.
Pada akhirnya, pertanyaan terbesar yang diajukan “Jerit Akar yang Tercabut” bukanlah tentang hutan semata. Pertanyaannya adalah tentang diri kita sendiri. Jika akar kehidupan terus dicabut atas nama kemajuan, masihkah kita memahami arti kemajuan itu? Jika ruang-ruang kebudayaan hilang digantikan ruang transaksi, masihkah kita memiliki tempat untuk belajar menjadi manusia? Dan ketika generasi mendatang mewarisi dunia yang kita tinggalkan, apakah mereka akan mengenang kita sebagai pembangun peradaban atau sekadar penebang pohon terakhir yang berdiri. (*)











