Artikel · Potret Online

Dari Ramayana ke Panggung Dunia: Ketika Sebuah Bangsa Menjadikan Cerita sebagai Kekuatan Peradaban

Penulis  Nyakman Lamjame
Juni 14, 2026
4 menit baca 31
IMG_1568
Foto / IlustrasiDari Ramayana ke Panggung Dunia: Ketika Sebuah Bangsa Menjadikan Cerita sebagai Kekuatan Peradaban
Disunting Oleh

Oleh Nyakman Lamjame 

Di tengah percepatan kecerdasan buatan, transisi energi, dan kompetisi ekonomi global, India mengambil langkah yang jarang dibaca sekadar sebagai keputusan industri film. Mereka menginvestasikan sumber daya sangat besar untuk menghidupkan Ramayana, kisah yang telah berusia ribuan tahun dan hidup dalam memori peradaban Asia.

Nilai investasinya diperkirakan mencapai lebih dari Rp7,5–8 triliun. Angka ini wajar memantik perhatian. Namun dalam perspektif yang lebih luas, yang lebih penting bukan besarnya biaya, melainkan keberanian gagasan di baliknya: menjadikan kebudayaan sebagai instrumen masa depan.

Di sinilah Ramayana menjadi menarik bukan sebagai film, tetapi sebagai pernyataan peradaban.

India tampaknya memahami satu hal yang sering diabaikan dalam logika pembangunan modern: pengaruh global tidak hanya lahir dari ekonomi dan teknologi, tetapi juga dari kemampuan menguasai ruang imajinasi dunia. Dan ruang itu, sejak lama, dibentuk oleh cerita.

Peradaban besar selalu bertumpu pada narasi. Yunani dengan mitologinya, Romawi dengan epik imperium, Inggris dengan tradisi sastra, Amerika Serikat melalui Hollywood, Jepang melalui anime, Korea Selatan melalui gelombang budaya populer. 

Dalam semua contoh itu, kekuatan sesungguhnya bukan pada industri hiburannya, tetapi pada kemampuan membentuk cara dunia melihat mereka.

Dalam konteks itu, Ramayana bukan sekadar adaptasi epos kuno. Ia adalah upaya membaca ulang warisan budaya sebagai energi kontemporer. Apakah ia akan menjadi arsip sejarah, atau menjadi bahasa baru untuk berbicara kepada dunia.

Pilihan India jelas: menjadikannya relevan secara global tanpa kehilangan akar lokalnya.

Dalam pernyataan yang dikutip media internasional seperti Reuters, produser Namit Malhotra menegaskan ambisi untuk menghadirkan Ramayana dengan standar produksi terbaik yang dapat dicapai saat ini. Ini bukan sekadar ambisi teknis, tetapi sikap kultural: keyakinan bahwa kisah India layak berdiri setara dalam percakapan sinema dunia.

Di titik ini, kebudayaan tidak lagi berdiri sendiri. Ia bertemu industri, teknologi, manajemen, dan strategi global dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.

Produksi sebesar Ramayana tidak hanya melibatkan aktor dan sutradara, tetapi juga peneliti sejarah, budayawan, penulis, animator, komposer, teknisi visual, perancang produksi, manajer proyek, hingga jaringan distribusi internasional. 

Setiap lapisan bukan sekadar fungsi teknis, tetapi bagian dari rantai nilai ekonomi kreatif yang kompleks dan berlapis.

Dengan demikian, investasi besar dalam proyek ini tidak berhenti pada filmnya. Ia bergerak menjadi penguatan ekosistem: peningkatan kapasitas SDM, akselerasi teknologi kreatif, standardisasi manajemen produksi global, serta lahirnya generasi baru pelaku industri budaya.

Di sinilah letak perbedaan antara pengeluaran dan investasi. Pengeluaran berakhir ketika proyek selesai. Investasi terus bekerja jauh setelah layar gelap.

Pengalaman berbagai negara menunjukkan pola yang konsisten. 

Hollywood tumbuh karena sistem yang menghubungkan pendidikan, modal, teknologi, distribusi, dan pasar. Jepang menjadikan anime sebagai kekuatan ekonomi sekaligus diplomasi budaya. Korea Selatan membangun pengaruh global melalui strategi lintas sektor yang terintegrasi. India kini bergerak ke arah yang sama: menempatkan budaya sebagai bagian dari arsitektur pembangunan nasional.

Dalam ekonomi global hari ini, kekuatan tidak lagi hanya ditentukan oleh apa yang dimiliki secara fisik, tetapi juga oleh apa yang mampu diciptakan secara imajinatif dan kultural. Narasi, kreativitas, dan identitas menjadi sumber daya strategis baru.

Di sinilah konsep soft power menjadi sangat relevan. Pengaruh tidak selalu lahir dari paksaan, tetapi dari daya tarik. Ketika sebuah bangsa mampu membuat dunia tertarik pada cerita, nilai, estetika, dan cara pandangnya, maka pengaruh itu bekerja secara halus, luas, dan jangka panjang.

Karena itu, Ramayana lebih tepat dibaca sebagai proyek kebudayaan strategis, bukan sekadar film mahal. Ia adalah cara sebuah bangsa mengelola warisan peradabannya menjadi energi modern yang produktif.

Pertanyaannya pun bergeser: bukan lagi “berapa biaya produksinya”, tetapi “visi apa yang sedang dibangun melalui investasi ini”.

Jawabannya mengarah pada satu hal: pembentukan ekosistem budaya yang berkelas global—tempat kebudayaan, industri, teknologi, dan kreativitas bertemu dalam satu sistem yang saling memperkuat.

Pada titik ini, Ramayana tidak hanya berbicara tentang India. Ia berbicara tentang bagaimana sebuah peradaban memilih untuk tetap relevan: dengan tidak meninggalkan masa lalunya, tetapi mengolahnya menjadi bahasa masa depan.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...