Artikel · Potret Online

MBG di Lapangan Sadakata Ternyata Bukan Makan Bergizi Gratis, Melainkan Membaca Buku Gratis

Penulis  Redaksi
Agustus 10, 2026
5 menit baca 18
f047258d-265d-4976-80dd-28810162a921
Foto / IlustrasiMBG di Lapangan Sadakata Ternyata Bukan Makan Bergizi Gratis, Melainkan Membaca Buku Gratis

Oleh: M. Fauzan Febriansyah

Kepala Sekolah Sadakata Leadership Academy 

Minggu sore biasanya punya tabiat yang sulit dibantah. Tabiat minggu sore terlalu santai untuk disebut hari kerja, tetapi terlalu singkat untuk benar-benar disebut liburan. Anak-anak keluar rumah, remaja mencari tempat nongkrong, orang tua mengajak keluarga jalan-jalan. Sebagian orang menghabiskan sore dengan secangkir kopi, sebagian lagi sibuk menggulir layar ponsel.

Tetapi Minggu sore kali ini, di Lapangan Sadakata, Kota Subulussalam, ada pemandangan yang sedikit berbeda.

Sebuah banner berukuran besar berdiri mencolok.

*LAPAK MBG.*

Bagi warga yang terbiasa dengan istilah MBG, kepanjangan pertama yang mungkin muncul di kepala adalah _Makan Bergizi Gratis._ Program prioritas pemerintah yang paling sering masuk berita, percakapan warung kopi, bahkan grup WhatsApp keluarga.

Namun di Lapangan Sadakata, MBG punya kepanjangan lain: *Membaca Buku Gratis.*

Begitulah, sebuah singkatan program nasional dipinjam sebentar untuk urusan yang mungkin jauh lebih sederhana: mengajak orang membuka buku.

*Minggu lalu masih Arisan Buku*

Kalau pekan sebelumnya kita mengikuti cerita ini, Arisan Buku Subulussalam dimulai dengan gagasan yang sederhana: ‘bagaimana kalau buku tidak menunggu pembaca datang ke perpustakaan, tetapi justru dibawa keluar menemui pembaca?’

Itulah yang kemudian terjadi.

Arisan Buku Subulussalam hadir di ruang terbuka, berkolaborasi dengan komunitas dan relawan literasi. Gagasan tersebut bukan sekadar memindahkan lokasi membaca dari dalam ruangan ke lapangan. Arisan Buku seperti sedang menguji sebuah hipotesis kecil:

‘jangan-jangan orang bukan tidak suka membaca; jangan-jangan kita saja yang selama ini terlalu serius mengajak mereka membaca’.

Minggu ini eksperimennya berlanjut.

Kalau minggu lalu orang datang untuk arisan buku, kali ini ada Lapak MBG.

Buku-buku ditata. Dihampar rapi di atas matras yang sejatinya adalah spanduk bekas. Kemudian orang boleh datang, memilih, membuka halaman, lalu membaca.

Gratis.

*Buku, ternyata, bisa dijajakan seperti gorengan*

Ada sesuatu yang menarik dari konsep Lapak MBG ini. Lapak ini membuat buku kehilangan sedikit kesan “angkernya”.

Selama ini—(bagi orang yang belum gemar membaca) buku sering diperlakukan seperti benda yang harus dihormati dengan cara yang agak berlebihan. Raknya tinggi, ruangnya sunyi, perpustakaannya serius, dan pengunjungnya kadang merasa seperti sedang memasuki wilayah yang membutuhkan izin khusus.

Padahal buku juga ingin diajak jalan-jalan. Buku ingin dibawa ke lapangan. Buku ingin terkena angin sore, sambil lembar lembar halamannya dibuka. Buku juga ingin dibaca oleh anak yang tadinya datang hanya untuk bermain, juga dibaca oleh remaja yang awalnya cuma menemani temannya.

Bahkan kalau perlu, buku harus rela diperlakukan seperti gorengan: dipajang, ditawarkan, lalu dipilih sesuai selera.

Sebab persoalan literasi kadang bukan semata-mata soal tidak adanya buku. Persoalannya adalah bagaimana mempertemukan buku dengan manusia.

Dan pertemuan itu membutuhkan sedikit kreativitas.

Ketika di tengah suasana keramaian sore Lapangan Sadakata, kemudian muncul sebuah lapak buku. Lapak MBG ini menjadi semacam “jebakan” yang menyenangkan.

Orang yang tadinya hanya lewat bisa berhenti. Orang yang tadinya duduk bisa mengambil buku. Orang yang tadinya menunggu teman bisa membaca beberapa halaman. 

Dan beberapa halaman kadang cukup untuk menimbulkan rasa penasaran. Besok mungkin ia mencari buku yang sama. Minggu depan mungkin ia kembali. Dari situlah kebiasaan kecil bisa tumbuh.

Sebab budaya membaca tidak selalu lahir dari program besar. Kadang kebiasaan membaca dimulai dari seseorang yang sore itu iseng mengambil sebuah buku.

*MBG yang satu ini tidak membuat kenyang perut*

Jadi ceritanya, setelah semua relawan bahagia dengan dua kegiatan Arisan Buku sebelumnya. Dalam forum diskusi di WhatsApp grup, Bina Paderi, salah seorang relawan Arisan Buku, memberikan usulan nama yang lucu untuk kegiatan lapak buku: Lapak MBG (Membaca Buku Gratis). 

Usul ini disambut baik teman-teman yang lain. Untuk menarik perhatian warga yang menghabiskan waktu minggu sore di lapangan Sadakata tidak ada salahnya usul kreatif ini dicoba.

Saya menilai ada pesan yang mungkin sedikit filosofis soal MBG ini:

Yang satu mengisi perut.

Yang satu mengisi kepala.

Keduanya sama-sama gratis.

Tapi kita bisa kompak mengatakan bahwa kota Subulussalam membutuhkan keduanya.

Anak-anak membutuhkan makanan bergizi agar tumbuh sehat. Mereka juga membutuhkan bacaan agar pikirannya tumbuh.

Karena bangsa yang ingin memiliki generasi kuat tidak cukup hanya memastikan anak-anaknya kenyang. Mereka juga perlu memastikan anak-anaknya punya sesuatu untuk dipikirkan.

Dan buku menyediakan itu.

Buku membuat seseorang bertemu dengan gagasan yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.

Membuat seseorang mengenal tempat yang belum pernah ia datangi.

Mengenal manusia yang belum pernah ditemuinya.

Bahkan berdebat dengan penulis yang sudah puluhan tahun meninggal.

Itulah keajaiban buku.

Buku memungkinkan percakapan lintas ruang dan waktu tanpa perlu sambungan internet.

*Dari arisan, menjadi gerakan*

Arisan Buku Subulussalam yang kemudian hadir dengan wujud Lapak MBG di Lapangan Sadakata pada awalnya mungkin terdengar seperti kegiatan kecil.

Orang berkumpul.

Membawa buku.

Membaca.

Berbincang.

Pulang.

Tetapi gerakan sosial memang hampir selalu dimulai dari sesuatu yang kelihatannya kecil.

Satu orang mengajak satu orang.

Satu buku dibaca.

Satu percakapan terjadi.

Satu gagasan berpindah.

Kemudian orang lain ikut.

Dari sana, sebuah kebiasaan bisa tumbuh menjadi komunitas membaca. Dari komunitas membaca, kalau terus dirawat dengan sabar, akhirnya bisa menjadi kebudayaan.

Inisiatif kecil ini diharapakan dapat terus bertumbuh. Kolaborasi Sadakata Leadership Academy, Relawan Literasi Masyarakat Subulussalam, dan BEM STIT Hamzah Fansuri, bukanlah formasi pakem. Kami selalu terbuka dan mengajak teman-teman komunitas lainnya untuk bisa hadir bersama. Membaca buku dan bercerita.

Bukankah perubahan yang paling awet memang sering dimulai dari hal-hal kecil yang dilakukan berulang-ulang?

Sampai jumpa minggu depan.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Media Perempuan Kritis dan Cerdas
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...