Artikel · Potret Online

Anak Muda dan Krisis Skala Prioritas

Juli 22, 2026
7 menit baca 65
213d8e66-eac5-4a5e-8d77-f665850823a2
Foto / IlustrasiAnak Muda dan Krisis Skala Prioritas

Ketika Orang Tua Menunggu di Rumah, tetapi Dunia Luar Menjadi Segalanya

Oleh: Teuku Muhammad Jamil*

Pagi itu saya duduk di sebuah warung kopi di Aceh Besar. Di hadapan saya tersaji secangkir kopi dan sepiring nasi bebek. Di sekeliling, puluhan anak muda, mahasiswa dan mahasiswi, memenuhi setiap sudut warkop. Mereka bercengkerama, tertawa, sibuk menatap layar telepon genggam, dan sebagian larut dalam percakapan yang seolah tak mengenal waktu.

Pemandangan itu sesungguhnya bukan sesuatu yang salah. Warkop adalah ruang sosial yang telah menjadi bagian dari budaya masyarakat Aceh. Namun, di tengah hiruk-pikuk itu muncul satu pertanyaan yang terus mengusik pikiran saya.

*Berapa banyak di antara mereka yang hari ini telah menyempatkan diri menelepon ibunya? Berapa banyak yang telah bertanya kabar ayahnya? Dan berapa banyak yang lebih lama menghabiskan waktu bersama orang lain daripada bersama keluarga yang telah membesarkannya?*

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin sederhana, tetapi sesungguhnya menyentuh persoalan yang jauh lebih besar, yaitu krisis skala prioritas di kalangan generasi muda.

Generasi muda hari ini hidup di zaman yang penuh kemudahan. Teknologi mempercepat komunikasi, media sosial mendekatkan yang jauh, dan kecerdasan buatan mempermudah banyak pekerjaan. Namun, di balik semua kemajuan itu, ada sesuatu yang perlahan memudar, yaitu kemampuan membedakan siapa yang seharusnya mendapat tempat paling utama dalam hidup.

Tidak sedikit anak muda yang rela begadang demi membalas pesan seseorang yang baru dikenalnya beberapa bulan, tetapi merasa berat mengangkat telepon dari ibunya sendiri.

Tidak sedikit yang mudah menghabiskan uang untuk membahagiakan orang yang belum tentu menjadi pasangan hidupnya, tetapi menunda membantu kebutuhan orang tua yang telah mengorbankan seluruh hidupnya demi masa depan anak-anaknya.

Lebih menyedihkan lagi, ada yang merasa lebih takut kehilangan pacar daripada kehilangan doa ayah dan ibunya.

Fenomena ini tidak boleh dipandang sebagai persoalan pribadi semata. Ia adalah gejala sosial yang perlahan mengubah wajah keluarga Indonesia.

Dalam kajian sosiologi, keluarga merupakan sekolah pertama bagi setiap manusia. Dari keluarga seorang anak belajar tentang kasih sayang, kejujuran, tanggung jawab, kesetiaan, dan pengorbanan. Jika hubungan dengan keluarga mulai tergeser oleh hubungan-hubungan yang belum memiliki kepastian, maka sesungguhnya sedang terjadi pergeseran nilai yang patut kita waspadai.

Pacaran, persahabatan, dan pergaulan bukanlah sesuatu yang dilarang. Islam maupun ilmu sosial mengakui manusia sebagai makhluk yang hidup dalam interaksi sosial. Namun, semua hubungan itu harus ditempatkan secara proporsional. Jangan sampai orang tua yang telah mengorbankan usia, tenaga, bahkan air mata demi membesarkan anak-anaknya justru menjadi pihak yang paling sedikit menerima perhatian.

Ironisnya, sebagian generasi muda menganggap nasihat orang tua sebagai sesuatu yang kuno. Mereka lebih percaya kepada media sosial, influencer, atau teman sebaya daripada kepada ayah dan ibu yang telah menghabiskan puluhan tahun memahami kehidupan. Padahal, pengalaman hidup tidak pernah bisa digantikan oleh teknologi secanggih apa pun.

Dalam perspektif psikologi, ketergantungan emosional kepada seseorang yang belum memiliki komitmen yang jelas sering membuat seseorang kehilangan objektivitas, mudah dimanfaatkan, dan rapuh ketika hubungan itu berakhir.

Sementara dalam perspektif etika, manusia yang beradab adalah manusia yang mampu menempatkan hak pada tempatnya. Ada hak orang tua yang tidak boleh dikalahkan oleh kepentingan sesaat. Ada hak keluarga yang tidak boleh dikorbankan demi pencarian pengakuan sosial.

Islam bahkan meletakkan kedudukan orang tua pada posisi yang sangat mulia. Setelah perintah untuk mentauhidkan Allah, Al-Qur’an memerintahkan manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa ridha Allah bergantung pada ridha kedua orang tua, dan murka Allah bergantung pada murka keduanya. Pesan ini bukan sekadar ajaran ritual, melainkan fondasi peradaban yang menjaga keutuhan keluarga dan keberkahan kehidupan.

Karakter seorang anak tidak dibentuk oleh status, melainkan oleh kebiasaan. Jika sejak muda seseorang terbiasa mengabaikan orang tuanya, maka bukan mustahil suatu hari nanti ia akan merasakan perlakuan yang sama dari anak-anaknya sendiri.

Inilah siklus sosial yang terus berulang dari generasi ke generasi. Karena itu, kepada seluruh generasi muda Indonesia, izinkan saya menitipkan sebuah pesan.

Jangan pernah merasa telah dewasa hanya karena banyak orang menyukaimu. Jangan pernah merasa berhasil hanya karena memiliki banyak teman. Dan jangan pernah merasa bahagia jika kebahagiaan itu dibangun di atas kesedihan orang tua yang diam-diam menunggumu pulang.

Sebelum ada seseorang yang mencintaimu hari ini, ada dua manusia yang lebih dahulu mencintaimu tanpa syarat. Mereka tidak pernah meminta imbalan. Tidak pernah menghitung pengorbanan. Dan Tidak pernah membuat daftar utang atas setiap tetes keringat yang mereka keluarkan demi masa depanmu. Mereka hanyalah berharap anak yang mereka besarkan tidak melupakan asal-usul kasih sayangnya.

Karena itu, sebelum sibuk membangun masa depan bersama orang lain, pastikan engkau tidak sedang meruntuhkan kebahagiaan orang-orang yang telah membangun hidupmu sejak awal. Hormatilah sahabatmu. *Sayangilah pasanganmu ketika waktunya tiba.*

Bangunlah masa depanmu dengan sungguh-sungguh. Namun jangan pernah menukar cinta orang tua dengan perhatian yang belum tentu bertahan selamanya. Sebab banyak orang datang karena keadaan. Tetapi ayah dan ibu tetap bertahan, bahkan ketika seluruh dunia meninggalkanmu.

Di sanalah letak kemuliaan seorang anak, kedewasaan seorang generasi muda, dan keberkahan sebuah kehidupan. Sebab bangsa yang besar tidak hanya lahir dari generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga dari generasi yang tahu kepada siapa cinta, hormat, dan baktinya harus diprioritaskan.

*Refleksi Akhir: Generasi Hebat Dimulai dari Anak yang Berbakti*

Sesungguhnya, ukuran kemajuan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh tingginya gedung-gedung pencakar langit, canggihnya teknologi, atau pesatnya pertumbuhan ekonomi. Bangsa yang benar-benar besar adalah bangsa yang mampu melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak, dan tahu menempatkan orang tua sebagai sumber keberkahan hidupnya.

Hari ini kita sering berbicara tentang bonus demografi, Indonesia Emas 2045, transformasi digital, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), dan daya saing global. Semua itu memang penting. Namun, sebesar apa pun kemajuan teknologi yang kita capai, semuanya akan kehilangan makna apabila anak-anak muda tumbuh menjadi generasi yang miskin empati, kehilangan adab, dan lupa kepada orang tua yang telah mengantarkan mereka mengenal kehidupan.

Kemajuan tanpa akhlak hanya akan melahirkan manusia yang cerdas, tetapi kering nurani. Pendidikan tanpa penghormatan kepada orang tua hanya akan menghasilkan lulusan yang kaya pengetahuan, tetapi miskin kebijaksanaan. Sebab, hakikat pendidikan bukan sekadar membentuk manusia yang mampu mencari nafkah, melainkan membentuk manusia yang mampu menghargai pengorbanan, membalas kasih sayang, dan menjaga martabat keluarganya.

Karena itu, saya mengajak para orang tua untuk terus menjadi teladan, bukan hanya pemberi nasihat. Anak-anak lebih banyak belajar dari apa yang mereka saksikan daripada dari apa yang mereka dengarkan. Rumah harus kembali menjadi sekolah pertama yang mengajarkan cinta, hormat, tanggung jawab, dan pengorbanan.

Kepada para guru, dosen, tokoh agama, dan pemimpin masyarakat, marilah kita bersama-sama menanamkan kembali pendidikan karakter yang berakar pada nilai-nilai agama, budaya, dan kearifan lokal Aceh. Kita tidak boleh membiarkan generasi muda tumbuh dalam budaya yang mengagungkan popularitas, tetapi mengabaikan bakti kepada orang tua.

Dan kepada anak-anak muda yang saya cintai, ingatlah bahwa waktu adalah sesuatu yang tidak pernah dapat diputar kembali. Kesempatan memeluk ayah, mencium tangan ibu, mendengar nasihat mereka, atau sekadar duduk menikmati secangkir kopi bersama mereka, suatu saat akan menjadi kenangan yang tidak dapat dibeli dengan harta sebanyak apa pun.

Jangan menunggu kehilangan untuk menyadari betapa berharganya kehadiran mereka.

Jangan menunggu penyesalan ketika kursi yang biasa diduduki ayah telah kosong, atau ketika suara lembut ibu hanya tinggal dalam ingatan.

Selagi mereka masih ada, pulanglah… Luangkan waktumu. Dengarkan cerita mereka. Genggam tangan mereka. Mohonlah doa mereka. Sebab tidak ada investasi kehidupan yang lebih besar daripada ridha kedua orang tua. Tidak ada warisan yang lebih mulia daripada akhlak seorang anak kepada ayah dan ibunya. Dan tidak ada kemuliaan yang lebih tinggi daripada menjadi generasi yang sukses di dunia tanpa kehilangan keberkahan akhirat.

Semoga Allah Swt. menjadikan anak-anak kita sebagai generasi yang cerdas pikirannya, lembut hatinya, mulia akhlaknya, luas ilmunya, serta senantiasa berbakti kepada kedua orang tua. Sebab dari keluarga yang kokoh akan lahir masyarakat yang kuat, dan dari generasi yang berbakti akan lahir bangsa yang bermartabat. Wallāhu a’lam bi al-shawāb.

——

Sekilas tentang Penulis

*Teuku Muhammad Jamil,* adalah akademisi Universitas Syiah Kuala (USK), pengamat sosial, peneliti, dan Guru Besar yang aktif mengkaji berbagai isu pembangunan, pendidikan, kebijakan publik, politik, serta dinamika sosial kemasyarakatan, khususnya di Aceh. Beliau juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pakar DPW Gerakan Rakyat Provinsi Aceh.

Sebagai dosen dan intelektual publik, Prof. TM. Jamil secara konsisten menulis artikel ilmiah dan opini di berbagai media massa sebagai bagian dari ikhtiarnya membangun budaya berpikir kritis, memperkuat nilai-nilai kebangsaan, serta menghadirkan gagasan yang berpijak pada ilmu pengetahuan, nilai-nilai Islam, kemanusiaan, dan kearifan lokal. Melalui tulisan-tulisannya, ia mendorong lahirnya kebijakan publik yang berkeadilan, pendidikan yang memanusiakan manusia, serta pembangunan yang berorientasi pada kemaslahatan masyarakat.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...