Islam, Teknologi, dan Kearifan Sambas: Model Pendidikan Modern Berbasis Nilai Lokal

Oleh: Aslan
Di tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, pendidikan tinggi Islam menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Kampus tidak lagi cukup hanya menjadi ruang transfer ilmu pengetahuan agama dalam pengertian normatif, tetapi harus mampu melahirkan generasi yang memiliki kemampuan intelektual, spiritual, sosial, dan keterampilan menghadapi perubahan zaman. Dalam konteks inilah Sambas sesungguhnya memiliki peluang besar untuk membangun model pendidikan Islam modern yang berakar pada kearifan lokal Melayu.
Sambas bukan sekadar wilayah di tepian Kalimantan Barat. Ia adalah ruang sejarah yang pernah melahirkan tradisi intelektual dan spiritual penting di kawasan Melayu Borneo. Kesultanan Sambas pada masanya bukan hanya pusat pemerintahan, tetapi juga simpul perdagangan, pendidikan, dakwah, dan kebudayaan Islam Melayu. Letaknya yang strategis di kawasan pesisir menjadikan Sambas terbuka terhadap interaksi global tanpa kehilangan identitas keislaman dan kemelayuannya.
Namun hari ini, masyarakat menghadapi perubahan sosial yang begitu cepat. Dunia digital menghadirkan kemudahan sekaligus tantangan baru. Generasi muda hidup dalam arus informasi yang tidak terbendung. Teknologi membentuk cara berpikir, pola komunikasi, bahkan cara memandang kehidupan. Di satu sisi hal ini membuka peluang besar bagi kemajuan pendidikan, tetapi di sisi lain juga dapat melahirkan keterputusan sejarah dan krisis identitas budaya.
Karena itu, pendidikan Islam di Sambas tidak boleh berjalan secara konvensional semata. Kampus perlu menghadirkan pendekatan baru yang mampu mengintegrasikan Islam, teknologi, dan nilai-nilai budaya lokal secara seimbang.
Pendidikan Islam modern tidak cukup hanya menghasilkan sarjana yang memahami teks keagamaan, tetapi juga harus melahirkan manusia yang mampu membaca realitas sosial dan memberi dampak nyata bagi pembangunan masyarakat.
Hari ini kita membutuhkan lulusan yang tidak hanya fasih berbicara tentang teori agama, tetapi juga mampu menjadi penggerak perubahan sosial, ekonomi, dan kebudayaan. Pendidikan Islam harus melahirkan generasi yang menguasai teknologi digital, komunikasi global, literasi media, kewirausahaan sosial, dan kemampuan kepemimpinan masyarakat. Namun semua itu tetap harus dibangun di atas fondasi akhlak, spiritualitas, dan identitas budaya Melayu Sambas.
Sebab kekuatan terbesar masyarakat Melayu sejatinya bukan hanya terletak pada adat dan simbol budaya, tetapi pada cara pandangnya terhadap kehidupan. Budaya Melayu Sambas mengajarkan kesantunan, penghormatan terhadap ilmu, keseimbangan sosial, dan penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Nilai-nilai seperti inilah yang dahulu menjadikan masyarakat Melayu mampu membangun peradaban yang diterima luas tanpa kehilangan martabatnya.
Sayangnya, pendidikan modern di banyak tempat sering kali justru melahirkan keterasingan budaya. Kampus terlalu sibuk mengejar formalitas akademik, sementara mahasiswa perlahan kehilangan hubungan dengan sejarah dan identitas lokalnya sendiri. Mereka mengenal dunia luar melalui teknologi, tetapi tidak mengenal kekayaan intelektual daerahnya sendiri.
Padahal Sambas memiliki warisan sejarah yang sangat besar. Salah satu tokoh penting yang lahir dari tanah ini adalah Ahmad Khatib Sambas. Sosok beliau menunjukkan bahwa Sambas pernah melahirkan ulama besar yang pengaruhnya melampaui batas geografis Nusantara. Ia bukan hanya tokoh agama, tetapi simbol kedalaman spiritual dan kekuatan intelektual Melayu Islam.
Selain itu terdapat pula Sultan Muhammad Syafiuddin II yang dikenal memiliki perhatian terhadap pendidikan dan pembangunan masyarakat. Nama beliau hari ini diabadikan menjadi identitas universitas di Sambas. Hal ini seharusnya tidak berhenti pada simbol kelembagaan semata, tetapi menjadi inspirasi lahirnya gerakan intelektual baru yang mampu membawa pendidikan tinggi di Sambas naik kelas.
Masalah terbesar pendidikan Islam hari ini sebenarnya bukan sekadar keterbatasan fasilitas, melainkan kurangnya visi besar. Kampus sering berjalan rutin secara administratif, tetapi belum sepenuhnya menjadi pusat perubahan sosial masyarakat.
Padahal universitas seharusnya hadir sebagai motor intelektual daerah. Dosen bukan hanya pengajar di ruang kelas, tetapi juga pembimbing masyarakat dan produsen gagasan.
Karena itu, universitas Islam di Sambas perlu membangun budaya akademik yang lebih hidup. Tradisi membaca, menulis, riset, dan diskusi ilmiah harus menjadi bagian dari kehidupan kampus.
Mahasiswa perlu didorong menjadi pencipta gagasan, bukan sekadar penerima teori. Mereka harus dibiasakan berpikir kritis terhadap persoalan masyarakat seperti kemiskinan, pendidikan desa, lingkungan pesisir, ekonomi umat, hingga tantangan budaya digital.
Di sisi lain, kampus juga harus mulai serius membangun ekosistem teknologi pendidikan. Dunia masa depan adalah dunia yang berbasis informasi dan kecerdasan digital. Jika pendidikan Islam lambat beradaptasi, maka generasi muda akan lebih banyak dibentuk oleh media sosial dibanding oleh institusi pendidikan.
Karena itu dakwah dan pendidikan Islam harus hadir secara kreatif di ruang digital melalui media edukasi, podcast, jurnal populer, video pembelajaran, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan dalam pendidikan.
Namun modernisasi tidak boleh menjadikan manusia kehilangan dimensi batinnya. Salah satu krisis besar dunia modern adalah lahirnya generasi yang cerdas secara teknologi,tetapi kosong secara spiritual. Dalam situasi seperti ini, pendidikan Islam memiliki posisi penting untuk menghadirkan keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan nilai kemanusiaan.
Sambas memiliki modal sosial yang sangat kuat untuk itu. Karakter masyarakat yang religius, budaya gotong royong, penghormatan terhadap guru, serta akar Melayu yang masih hidup menjadi fondasi penting membangun pendidikan berbasis peradaban. Yang dibutuhkan hari ini adalah keberanian membangun visi besar dan keberanian keluar dari pola pikir lama.
Universitas Islam di Sambas harus mulai membayangkan dirinya sebagai pusat kebangkitan intelektual Melayu modern di kawasan Borneo. Kampus tidak boleh hanya menjadi penonton perubahan zaman, tetapi harus menjadi pelaku utama transformasi sosial. Pendidikan Islam harus mampu melahirkan generasi yang menguasai ilmu agama sekaligus teknologi, memahami tradisi lokal sekaligus berpikir global, serta memiliki kepekaan sosial terhadap masyarakatnya.
Jika masa lalu Sambas pernah melahirkan ulama besar, pemimpin visioner, dan jaringan intelektual lintas kawasan, maka tidak ada alasan generasi hari ini merasa kecil di hadapan masa depan. Sejarah telah menunjukkan bahwa masyarakat Melayu Sambas memiliki kemampuan untuk tumbuh sebagai kekuatan intelektual dan spiritual.
Barangkali yang dibutuhkan hari ini hanyalah keberanian membaca ulang sejarah, memperkuat identitas, dan membuka diri terhadap pembaruan. Sebab peradaban besar selalu lahir dari masyarakat yang mampu menghormati akar budayanya sambil menyiapkan diri menghadapi masa depan. Dan mungkin, dari tepian Sambas itulah akan lahir generasi baru yang mampu menjadikan Islam, teknologi, dan kearifan Melayu sebagai fondasi kebangkitan peradaban modern di Borneo.













