Artikel · Potret Online

Mengapa Wamen Nezar Patria Membaca Puisi

Penulis LK. Ara
September 8, 2026
7 menit baca 4
a5363493-9350-4e8f-b6ff-547aa6927a38
Foto / IlustrasiMengapa Wamen Nezar Patria Membaca Puisi

“MENGHADIRI PENGAJIAN RUMI”?

Oleh: L K Ara

Ada pertanyaan yang menarik untuk direnungkan: mengapa Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, memilih membaca puisi “Menghadiri Pengajian Rumi”?

Pertanyaan ini penting bukan semata-mata karena puisi tersebut dibacakan oleh seorang pejabat negara. Lebih dari itu, pilihan sebuah puisi sering memperlihatkan pertemuan antara pengalaman pribadi, dunia pemikiran, kebudayaan, dan cara seseorang memandang kehidupan.

“Menghadiri Pengajian Rumi” bukan puisi yang menawarkan jawaban secara mudah. Ia justru membawa pembacanya memasuki sebuah ruang yang penuh pertanyaan. Di dalamnya hadir Alif, Ba, dan Ta—huruf-huruf yang bukan sekadar huruf, tetapi menjelma menjadi manusia, watak, pengalaman, dan jalan-jalan pencarian.

Mungkin di situlah salah satu alasan mengapa puisi ini layak dibaca oleh Nezar Patria.

MENCARI CAHAYA DI ZAMAN YANG TERLALU TERANG

Kita hidup pada zaman yang aneh.

Manusia dikelilingi oleh cahaya.

Layar menyala.

Telepon menyala.

Komputer menyala.

Berita datang tanpa berhenti.

Informasi bergerak lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk merenungkannya.

Tetapi, justru pada zaman yang demikian terang, manusia sering kehilangan cahaya batin.

Dalam bagian Alif, puisi mengatakan:

Pada Alif aku belajar segala awal
menuju Ya.

Alif adalah permulaan.

Ia muncul dari balik kitab.

Ia datang sebelum cahaya.

Ia berjalan menuju sesuatu yang lebih tinggi, sesuatu yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan oleh akal.

Bagi manusia modern, perjalanan Alif terasa sangat dekat.

Kita memiliki semakin banyak informasi, tetapi belum tentu semakin banyak kebijaksanaan.

Kita mengetahui banyak hal, tetapi belum tentu mengenal diri sendiri.

Kita dapat berbicara dengan seseorang di seberang bumi, tetapi kadang-kadang gagal berbicara dengan hati kita sendiri.

Barangkali Nezar Patria membaca puisi ini karena “Menghadiri Pengajian Rumi” mengingatkan bahwa di balik kemajuan pengetahuan dan teknologi, manusia tetap harus kembali kepada pertanyaan paling tua:

Dari mana aku datang?
Ke mana aku berjalan?
Dan untuk apa semua pengetahuan ini?

Alif berjalan menuju Ya.

Manusia pun demikian.

Ia terus bergerak.

Tetapi persoalannya: apakah ia mengetahui ke mana ia berjalan?

BA DAN KEBIJAKSANAAN UNTUK TERTAWA

Kemudian muncul Ba.

Ba tidak datang dengan wajah seorang filsuf yang serius.

Ia hadir sebagai seorang lelaki tambun yang tertawa.

Perutnya berguncang.

Wajahnya seakan-akan tidak dibebani oleh seluruh persoalan dunia.

Di sini puisi memperlihatkan sesuatu yang sangat manusiawi:

pencarian spiritual tidak selalu harus berwajah muram.

Kadang-kadang manusia terlalu sibuk mencari kebahagiaan sehingga ia lupa untuk berbahagia.

Terlalu sibuk mencari rumus kehidupan sehingga lupa menjalani kehidupan.

Terlalu sibuk membicarakan kedamaian sehingga tidak pernah memberi ruang kepada dirinya untuk tenang.

Ba mengajarkan bahwa hidup adalah pengalaman.

Ada luka.

Ada tawa.

Ada kegagalan.

Ada kegembiraan.

Ada samsara.

Dan semua itu dapat menjadi sumur daya cipta.

Bagi seorang yang hidup dalam dunia gagasan, komunikasi, media, dan teknologi seperti Nezar Patria, pesan ini terasa penting.

Dunia modern sering menuntut manusia untuk selalu produktif.

Selalu cepat.

Selalu berhasil.

Selalu hadir.

Selalu menjawab.

Tetapi Ba datang sambil tertawa.

Seakan-akan ia berkata:

“Berhentilah sebentar. Jangan sampai engkau kehilangan hidup ketika terlalu sibuk mengurus kehidupan.”

Mungkin itulah sebabnya puisi ini menarik.

Karena ia tidak hanya mengajak manusia berpikir.

Ia juga mengajak manusia tersenyum terhadap dirinya sendiri.

TA DAN DUNIA YANG SELALU DIBELAH DUA

Kemudian datang Ta.

Di hadapan Ta, dunia seperti terbelah:

langit dan bumi.
Air dan tanah.
Bahagia dan derita.

Demikianlah manusia sering melihat dunia.

Kita membelah segala sesuatu.

Benar atau salah.

Kawan atau lawan.

Kanan atau kiri.

Hitam atau putih.

Setuju atau tidak setuju.

Di zaman media sosial dan teknologi digital, pembelahan itu bahkan menjadi semakin cepat.

Sebuah kalimat dipotong.

Seseorang segera dihakimi.

Sebuah pendapat muncul.

Maka ribuan orang segera menentukan:

benar!

atau

salah!

Tidak banyak lagi ruang untuk berhenti.

Tidak banyak lagi waktu untuk bertanya.

Tidak banyak lagi kesabaran untuk mendengarkan.

Padahal, kehidupan manusia jauh lebih rumit daripada dua tombol:

ya atau tidak.

Di sinilah “Menghadiri Pengajian Rumi” menjadi sangat relevan.

Tokoh aku mengakui ketidakmampuannya:

ia tidak tahu mana yang lebih baik.

Ke kanan atau ke kiri.

Pengakuan itu sebenarnya adalah sebuah kebijaksanaan.

Sebab manusia yang paling berbahaya bukanlah manusia yang tidak tahu.

Tetapi manusia yang merasa sudah mengetahui segala-galanya.

SAVANA DI ANTARA BENAR DAN SALAH

Di sinilah Rumi hadir.

Bukan sebagai hakim.

Bukan sebagai polisi kebenaran.

Tetapi sebagai guru yang membuka sebuah ruang.

Antara benar dan salah, kata Rumi, ada sebuah padang.

Sebuah savana.

Di sana kita dapat bertemu.

Savana itu adalah metafora yang sangat penting.

Ia adalah ruang untuk berhenti sebelum menghakimi.

Ruang untuk mendengar sebelum berbicara.

Ruang untuk memahami sebelum membenci.

Ruang untuk bertanya sebelum merasa paling benar.

Dan mungkin, inilah alasan terdalam mengapa puisi “Menghadiri Pengajian Rumi” penting dibaca oleh seorang tokoh yang berada dalam dunia komunikasi dan digital.

Sebab teknologi mempercepat komunikasi.

Tetapi kecepatan tidak selalu menghasilkan pemahaman.

Media sosial dapat mempertemukan jutaan manusia.

Tetapi belum tentu membuat mereka saling memahami.

Kecerdasan buatan dapat menjawab banyak pertanyaan.

Tetapi manusia tetap harus belajar:

pertanyaan apa yang layak diajukan?

Teknologi dapat memperbesar suara manusia.

Tetapi tidak otomatis memperbesar kebijaksanaannya.

Karena itu, manusia memerlukan savana Rumi.

Sebuah tempat batin.

Sebuah ruang kesadaran.

Sebuah wilayah tempat manusia tidak segera menembakkan kata-kata kepada sesamanya.

KETIKA TEKNOLOGI BERTEMU TASAWUF

Pilihan membaca “Menghadiri Pengajian Rumi” juga dapat dimaknai sebagai sebuah pertemuan yang menarik:

antara teknologi dan tasawuf.

Sekilas keduanya tampak berjauhan.

Teknologi berbicara tentang masa depan.

Tasawuf berbicara tentang kedalaman.

Teknologi mempercepat perjalanan.

Tasawuf mengajarkan manusia untuk berhenti.

Teknologi membawa manusia keluar menuju dunia.

Tasawuf membawa manusia masuk ke dalam dirinya.

Tetapi sebenarnya keduanya dapat bertemu.

Sebab semakin maju teknologi, semakin besar pula kebutuhan manusia terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Kita tidak hanya membutuhkan mesin yang cerdas.

Kita membutuhkan manusia yang bijaksana.

Kita tidak hanya membutuhkan informasi.

Kita membutuhkan makna.

Kita tidak hanya membutuhkan koneksi.

Kita membutuhkan hubungan.

Kita tidak hanya membutuhkan kecerdasan.

Kita membutuhkan kesadaran.

Di sinilah Rumi menjadi relevan kembali.

Berabad-abad setelah hidupnya, ia masih berbicara kepada manusia modern.

Karena manusia boleh berubah pakaiannya.

Boleh berubah kendaraannya.

Boleh mengubah cara berkomunikasi.

Tetapi manusia tetap membawa pertanyaan yang sama:

Siapakah aku?

Mengapa aku hidup?

Ke mana aku menuju?

MEMBACA PUISI SEBAGAI CARA MERAWAT KEMANUSIAAN

Ketika seorang pejabat membaca puisi, sesungguhnya yang terjadi bukan sekadar sebuah kegiatan seni.

Ada pesan yang lebih dalam.

Bahwa manusia yang bekerja dengan angka, kebijakan, teknologi, dan kekuasaan tetap memerlukan bahasa hati.

Puisi mengingatkan bahwa manusia bukan mesin.

Manusia memiliki kegelisahan.

Memiliki kenangan.

Memiliki keraguan.

Memiliki ketakutan.

Dan memiliki kerinduan kepada sesuatu yang lebih besar daripada dirinya.

“Menghadiri Pengajian Rumi” tidak memberikan sebuah doktrin.

Puisi ini justru membuka pintu.

Alif membuka pintu awal.

Ba membuka pintu kegembiraan.

Ta membuka pintu pertentangan.

Dan Rumi membuka sebuah savana.

Pembaca dipersilakan masuk.

Tidak dipaksa.

Tidak dihakimi.

Tidak disuruh segera menemukan jawaban.

Barangkali, di zaman yang semua orang ingin segera menjawab, puisi justru mengajarkan keberanian untuk tinggal lebih lama di dalam pertanyaan.

NEZAR PATRIA DAN PILIHAN SEBUAH PUISI

Karena itu, pembacaan puisi “Menghadiri Pengajian Rumi” dapat dipahami bukan sebagai pilihan yang kebetulan.

Puisi ini berbicara tentang manusia yang hidup di antara pengetahuan dan misteri.

Di antara tawa dan penderitaan.

Di antara benar dan salah.

Di antara langit dan bumi.

Dan akhirnya, di antara dirinya sendiri dan Tuhan.

Bagi seorang pembaca yang hidup di tengah perkembangan komunikasi dan teknologi, puisi ini seperti sebuah pengingat:

jangan sampai manusia semakin canggih, tetapi kehilangan kedalaman.

Jangan sampai dunia semakin terhubung, tetapi manusia semakin jauh satu sama lain.

Jangan sampai informasi semakin banyak, tetapi kebijaksanaan semakin sedikit.

Jangan sampai kita terlalu cepat menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah, sehingga lupa mencari savana tempat kita dapat saling memahami.

Itulah pengajian Rumi.

Bukan sekadar duduk mendengarkan seorang guru.

Tetapi belajar membaca kehidupan.

Belajar membaca diri sendiri.

Belajar membaca manusia lain.

Dan akhirnya—

belajar bahwa perjalanan paling jauh

bukanlah perjalanan dari satu negeri ke negeri lain,

melainkan perjalanan

dari aku
menuju-Mu.

Mungkin itulah sebabnya Nezar Patria membaca
“Menghadiri Pengajian Rumi”.

Karena di tengah dunia yang semakin cepat,

puisi itu mengajaknya—

dan mengajak kita semua—

untuk berhenti sebentar.

Lalu bertanya:

Setelah semua yang kita ketahui,
apakah kita sudah benar-benar mengerti?

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
LK. Ara
Media Perempuan Kritis dan Cerdas
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...