Artikel · Potret Online

Islam Ala Prabowo

September 8, 2026
3 menit baca 19
IMG_2907
Foto / IlustrasiIslam Ala Prabowo


Oleh: Ilham Mirsal

Buku itu belum sampai ke tangan saya. Masih di jalan. Dikirim lewat kurir belanja online. Harganya Rp116.000. Lengkap dengan ongkirnya sampai ke meja kerja saya di kampus STAI Tapaktuan, Aceh Selatan.

Tapi hebohnya sudah sampai duluan. Jauh sebelum paketnya mendarat di pesisir barat selatan Aceh.

Orang-orang meributkannya dari segala sisi. Ada yang sibuk membedah isinya. Ada yang kritis melihat peluncurannya di Rakornas BAZNAS. Ada yang meradak soal judulnya yang dianggap menyempitkan ajaran agama. Lalu puncaknya: klaim catut-mencatut nama ulama. Dari TGB Zainul Majdi, Kiai Said Aqil Siraj, sampai Gus Kautsar.

Penulis kawakan sekelas Tere Liye pun sampai mengelus dada. Marah besar. Soal marwah industri buku yang dinilainya ikut rusak gara-gara kecerobohan etika penulisan.

Semua perdebatan itu masuk akal. Benar semua.

Tapi, mari kita lihat dari sudut yang agak berbeda. Dari kacamata yang tidak terlalu tegang.

Mengapa buku seperti ini bisa lahir? Dan mengapa harus sekarang?

Jawabannya sederhana: kekuasaan itu selalu butuh ruang tafsir.

Presiden Prabowo Subianto bukan figur baru. Dia mantan jenderal, tokoh politik senior, dan kini memegang puncak pimpinan negara. Jejak pribadinya dalam beragama nyata. Dia umrah, salat Idulfitri di Istiqlal, sampai salat Iduladha bersama diaspora di Paris. Itu fakta. Tak perlu diperdebatkan.

Masalahnya, dalam panggung politik, fakta pribadi tidak pernah cukup jika tidak dijadikan narasi.

Di situlah lingkungan di sekitarnya bekerja. Ada keinginan kuat dari para pendukung, politisi, hingga elit keagamaan untuk memberi “pakaian moral” pada kekuasaan. Mereka ingin menegaskan satu hal ke publik: presiden kita ini bukan cuma tegas dan kuat, tapi juga saleh.

Maka dikumpulkanlah tulisan, testimoni, dan kutipan. Dijahit jadi satu. Diberi judul yang mentereng: Islam ala Prabowo.

Sayang, cara menjahitnya terlalu terburu-buru.

Inginnya buat baju kebesaran yang indah, tapi lupa mengukur badan yang mau dipasangani. Bahannya dicomot sana-sini tanpa izin pemiliknya. Begitu dipamerkan ke publik, bukannya makin gagah, kancingnya malah lepas satu per satu.

Apakah Presiden Prabowo sendiri yang minta buku ini ditulis? Saya kok ragu.
Seorang kepala negara punya ribuan masalah lebih rumit untuk dipikirkan daripada minta diterbitkan buku pujian tentang dirinya. Sangat mungkin Presiden sendiri kaget ketika buku itu mendadak viral karena polemik pencatutan nama.

Inilah fenomena klasik di lingkaran kekuasaan: penyakit “asal bapak senang” (ABS). Kadang, niat melayani atau memuji justru berbalik merugikan orang yang ingin dipuji.

Padahal, masyarakat hari ini tidak tinggal di dalam lembaran buku 368 halaman. Rakyat tinggal di dalam realitas kebijakan.

Bagi rakyat di daerah, termasuk kami di Aceh, kesalehan seorang pemimpin tidak diukur dari berapa banyak ulama yang testimoninya dimasukkan ke dalam daftar isi. Kesalehan politik itu diukur dari hal-hal yang sangat membumi: Apakah harga beras terjangkau? Apakah hukum ditegakkan secara adil? Apakah anggaran negara dikelola tanpa bocor? Dan apakah kritik masyarakat tetap didengar?

Buku seharga Rp116.000 yang sedang menuju Tapaktuan ini mungkin sebentar lagi tiba. Saya akan tetap membacanya dengan teliti saat paket itu mendarat.

Bukan untuk mencari bukti apakah Presiden Prabowo seorang yang Islami atau tidak. Melainkan untuk membuktikan satu hal lain: betapa sibuknya orang-orang di sekitar kekuasaan mendefinisikan sang pemimpin, sementara sang pemimpin sendiri sebenarnya cukup dinilai dari bagaimana ia menjalankan amanah negara.

Agama tidak pernah butuh judul buku untuk membuktikan dirinya. Begitu juga kekuasaan. Sejarah akan mencatat seorang presiden bukan dari apa yang ditulis orang tentangnya, melainkan dari apa yang ia perbuat untuk rakyatnya.

Penulis Tgk. Ilham Mirsal, MA
Dosen STAI Tapaktuan dan juga Merupakan Sekretaris Ikatan Pesantren Indonesia (IPI) Cabang Kabupaten Aceh Selatan.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Tgk. Ilham Misal, MA (Ayah Ilham), Merupakan Dosen STAI Tapaktuan, dan Warga Gampong Ujung Batee (Terbangan Cut), Kemukiman Terbangan, Kecamatan Pasie Raja, Aceh Selatan.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...