Artikel · Potret Online

Magrib : Panggilan Ketika Manusia Perjalanan Pulang ke Rumah dan Tanda Malam Tiba

7 menit baca 8
a5e28354-0546-4be8-a197-c58436554b7a
Foto / IlustrasiMagrib : Panggilan Ketika Manusia Perjalanan Pulang ke Rumah dan Tanda Malam Tiba

Oleh : Kaipal Wahyudi

Ada satu kalimat yang hampir setiap orang Aceh pernah dengar sejak kecil dari orang tuanya : “Meunyoe ka Magrib, kajeut jak woe neuk.” Kalimat itu sederhana, tetapi di baliknya terdapat nilai yang panjang. Anak diajarkan mengenal waktu, menghormati salat, menjaga diri, sekaligus memahami bahwa ada saatnya aktivitas di luar rumah harus dihentikan.

Selasa sore, 8 September 2026, waktu Magrib di Banda Aceh diperkirakan sekitar pukul 18.45 WIB berdasarkan jadwal Bimas Islam Kementerian Agama RI. Waktunya dapat berubah beberapa menit dari hari ke hari mengikuti posisi matahari. Namun suasananya selalu memiliki ciri yang sama. Cahaya sore mulai menghilang, langit perlahan berubah warna, jalanan mulai berganti ritme, dan suara azan terdengar dari masjid-masjid di berbagai penjuru kota.

Bagi masyarakat Aceh yang kehidupannya lekat dengan Islam, Magrib bukan sekadar pergantian waktu dari siang menuju malam. Ia menjadi bagian dari kebiasaan sosial dan kehidupan keagamaan. Ada waktu untuk bekerja, belajar dan beraktivitas, tetapi ada pula waktu untuk berhenti sejenak, menunaikan salat dan kembali kepada keluarga.

Secara bahasa, Magrib berasal dari kata Arab gharaba yang berkaitan dengan terbenamnya matahari di sebelah barat. Dalam pengertian syariat, Magrib juga menjadi nama salah satu salat wajib yang waktunya dimulai setelah matahari terbenam. Penentuan waktu salat tersebut kemudian berkembang menjadi bagian penting dalam tradisi ilmu falak Islam.

Sejak masa klasik, para ilmuwan Muslim telah mengembangkan pengetahuan astronomi untuk mengetahui posisi matahari, menentukan waktu salat dan menetapkan arah kiblat. Salah satunya Abu Rayhan al-Biruni yang dikenal memiliki kontribusi besar dalam perkembangan ilmu astronomi. Jika dahulu manusia mengandalkan pengamatan langsung terhadap ufuk, hari ini waktu Magrib dapat diketahui melalui kalender, situs resmi, jam digital maupun telepon pintar. Teknologi berubah, tetapi fenomena alam yang menjadi dasarnya tetap sama: matahari terbenam dan cahaya siang perlahan berganti malam.

Dalam khazanah keislaman juga terdapat berbagai kisah yang menghubungkan waktu-waktu salat dengan pengalaman para nabi terdahulu. Sebagian karya ulama klasik, termasuk yang dinisbatkan kepada Syekh Nawawi al-Bantani, memuat kisah mengenai Nabi Isa AS dan salat ketika matahari terbenam. Ada pula riwayat yang menghubungkan waktu tertentu dengan kisah Nabi Ya’qub AS dan Nabi Yusuf AS. Cerita-cerita tersebut menjadi bagian dari khazanah pengajaran Islam yang diwariskan dari generasi ke generasi. Sementara dalam syariat, salat lima waktu, termasuk Magrib, menjadi kewajiban utama bagi umat Islam.

Di Aceh, pemaknaan terhadap waktu salat memiliki akar sejarah yang panjang. Dari Perlak hingga Samudera Pasai, Islam berkembang bersama jaringan perdagangan, ulama dan masyarakat pesisir. Catatan Ibnu Battutah pada abad ke-14 menunjukkan Samudera Pasai sebagai salah satu kawasan penting dalam dunia perdagangan dan kehidupan Islam di Asia Tenggara.

Dalam kehidupan masyarakat Aceh masa lalu, waktu salat menjadi salah satu penanda penting dalam mengatur aktivitas sehari-hari. Tradisi keagamaan kemudian bertemu dengan kebiasaan masyarakat dan melahirkan pola kehidupan yang menjadikan waktu Magrib sebagai batas antara aktivitas sore dan suasana malam.

Nasihat agar anak-anak pulang ketika Magrib juga memiliki akar dalam ajaran agama. Di Aceh, orang tua dan indatu mewariskan berbagai ungkapan untuk mengingatkan anak agar tidak terus bermain ketika hari mulai gelap. Ungkapan seperti “Geulanyang Setan” merupakan bagian dari bahasa budaya yang digunakan untuk menyampaikan pesan tentang agama, keselamatan dan batas waktu kepada anak-anak.

Pesan tersebut memiliki hubungan dengan hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim dari Jabir bin Abdullah mengenai anjuran menahan anak-anak ketika malam mulai datang, menutup pintu dan menyebut nama Allah. Dalam perjalanan sejarah, ajaran agama kemudian diterjemahkan masyarakat ke dalam kebiasaan sehari-hari yang mudah dipahami anak.

Di gampong-gampong Aceh, meunasah memainkan peranan penting dalam tradisi tersebut. Meunasah bukan hanya tempat salat, tetapi juga ruang belajar agama, mengaji, bermusyawarah dan membentuk karakter. Ketika azan Magrib berkumandang, anak-anak yang sebelumnya bermain mulai beranjak ke meunasah. Sebagian lainnya salat bersama keluarga di rumah. Setelah itu, waktu selepas Magrib menjadi kesempatan membaca Al-Qur’an, belajar agama dan berbicara bersama keluarga.

Tradisi semacam ini mengajarkan sesuatu yang sederhana: waktu memiliki batas dan manusia perlu mengetahui kapan harus berhenti. Magrib menjadi salah satu penanda yang mempertemukan ibadah dengan kehidupan keluarga.

Tetapi kehidupan kota hari ini sudah berubah. Aktivitas ekonomi berlangsung hingga malam, mahasiswa masih berada di kampus, kendaraan memenuhi jalan, warung kopi tetap ramai dan telepon pintar membuat manusia terus terhubung dengan dunia luar. Banda Aceh yang dikenal sebagai kota dengan kehidupan keislaman yang kuat juga menghadapi perubahan tersebut.

Karena itu, makna Magrib tidak semestinya hanya dilihat dari apakah seseorang berada di luar rumah atau tidak. Yang lebih penting adalah kemampuan manusia memberikan ruang kepada waktu salat di tengah kesibukan. Dunia boleh terus berjalan, tetapi kewajiban kepada Allah SWT tetap memiliki tempat dalam kehidupan.

Di tengah perubahan itu, sains juga memberikan penjelasan mengenai masa peralihan sore menuju malam. Tubuh manusia memiliki sistem sirkadian yang dipengaruhi siklus terang dan gelap. Ketika cahaya mulai berkurang, tubuh bersiap memasuki fase malam. Dari sisi keselamatan, perubahan cahaya menjelang malam juga membuat visibilitas menurun sehingga pengendara perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika kepadatan lalu lintas sore bertemu dengan kelelahan setelah beraktivitas sepanjang hari.

Di sinilah agama, budaya dan sains dapat berjalan berdampingan. Agama memberikan makna spiritual, budaya menerjemahkannya menjadi kebiasaan sosial, sementara sains membantu manusia memahami perubahan biologis dan lingkungan yang terjadi ketika siang berganti malam.

Yang penting dijaga adalah jangan sampai Magrib kehilangan makna dalam kesadaran. Azan jangan hanya menjadi suara yang terdengar dari kejauhan, sementara perhatian tetap tertuju pada pekerjaan, percakapan, hiburan atau layar telepon.

Padahal manusia modern justru membutuhkan jeda. Dunia bergerak semakin cepat, informasi datang tanpa henti dan hubungan digital membuat seseorang dapat terus bekerja bahkan ketika tubuhnya sudah berada di rumah. Dalam keadaan seperti itu, Magrib dapat menjadi ruang untuk berhenti sejenak.

Menghidupkan kembali makna Magrib tidak berarti membawa masyarakat kembali ke masa lalu atau melarang perkembangan kota. Warung kopi tetap boleh ramai, kampus tetap menjalankan aktivitas, perdagangan tetap berlangsung dan masyarakat tetap dapat bergerak. Yang perlu dijaga adalah keseimbangan antara kesibukan dunia dengan kewajiban kepada Allah SWT.

Rumah juga perlu kembali menjadi tempat berkumpul, bukan hanya tempat seseorang tidur setelah seharian beraktivitas. Setelah salat Magrib, orang tua dapat mengajak anak membaca beberapa ayat Al-Qur’an, kemudian berbicara mengenai sekolah, pekerjaan, pergaulan atau persoalan yang mereka hadapi. Kebiasaan sederhana seperti itu dapat membangun hubungan keluarga yang semakin kuat.

Sebab, persoalan pulang sebenarnya tidak hanya berkaitan dengan tempat. Seseorang mungkin sudah berada di ruang tamu, tetapi pikirannya masih berada di kantor. Ia mungkin duduk bersama anak-anak, tetapi matanya terus terpaku pada telepon genggam.

Maka pertanyaan penting pada setiap Magrib bukan hanya, “Apakah kita sudah pulang?” Lebih jauh dari itu: “Apakah kita benar-benar sudah kembali?”

Kembali kepada keluarga, kembali kepada ketenangan, kembali kepada diri sendiri dan akhirnya kembali mengingat Allah SWT.

Magrib juga dapat menjadi waktu untuk bermuhasabah. Ketika matahari tenggelam, satu bagian dari umur manusia juga ikut berlalu. Hari yang telah dilewati tidak dapat diulang. Karena itu, setiap senja sebenarnya mengajak manusia bertanya kepada dirinya sendiri: apa yang sudah dilakukan hari ini, ke mana waktu dihabiskan, apakah keluarga telah mendapat perhatian, dan apakah hubungan dengan Allah semakin dekat atau justru semakin jauh?

Tidak seorang pun mengetahui kapan Magrib terakhir dalam hidupnya akan datang. Karena itu, setiap senja adalah kesempatan untuk bersyukur, memperbaiki kesalahan dan berkumpul bersama orang-orang yang dicintai.

Di Aceh, suara azan Magrib masih terdengar dari gampong-gampong hingga sudut-sudut Kota Banda Aceh. Dari masjid dan meunasah, panggilan itu datang setiap hari. Ia tidak harus dimaknai sebagai ajakan untuk takut kepada malam, tetapi sebagai pengingat bahwa manusia membutuhkan jeda.

Dunia boleh terus bergerak. Kota boleh semakin ramai. Teknologi boleh semakin canggih. Namun manusia tetap membutuhkan waktu untuk berhenti dan mengingat bahwa hidup bukan hanya tentang mengejar kesibukan.

Matahari akan terus tenggelam. Siang akan berganti malam. Hari demi hari akan terus berlalu. Tetapi di balik pergantian itu terdapat pesan yang sederhana: jangan sampai manusia terlalu sibuk mengejar dunia hingga lupa jalan pulang kepada Tuhannya.

Pada akhirnya, Magrib bukan sekadar tanda bahwa matahari telah tenggelam. Ia adalah panggilan untuk pulang—pulang ke rumah, pulang kepada keluarga, pulang kepada ketenangan, dan pulang kepada Allah SWT sebelum kesempatan itu benar-benar habis.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Mahasiswa Program Doktor (S3) Studi Islam, Pascasarjana, UIN Ar-Raniry Banda Aceh.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...