Esai · Potret Online

Tabrani Yunis, Pejuang Literasi yang Provokatif

Penulis Irwan Saputra
Juni 28, 2026
4 menit baca 8
3e9ac1bb-a091-46b0-9c54-c2c46a56b5e3
Foto / IlustrasiTabrani Yunis, Pejuang Literasi yang Provokatif

Oleh: Irwan Saputra, S.HI.,MH

Di Aceh, tidak banyak orang yang mampu bertahan sebagai pengkritik kebijakan pendidikan selama puluhan tahun, tanpa kehilangan konsistensi. Lebih sedikit lagi yang memilih jalan sunyi sebagai pejuang literasi, meski tahu bahwa jalan itu tidak menjanjikan popularitas ataupun kekuasaan. Salah satu di antaranya adalah Tabrani Yunis.

Bagi generasi yang tumbuh pada era 2000-an, nama Tabrani Yunis mungkin lekat dengan Majalah Potret, sebuah majalah perempuan yang mengusung tema pendidikan dan literasi. Jauh sebelum media sosial menjadi ruang diskusi publik, Potret telah menjadi wadah bagi pelajar dan guru untuk belajar menulis, berpikir kritis, sekaligus menyuarakan gagasan. Di balik majalah itu berdiri seorang mantan guru yang mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk pendidikan.

Namun, Tabrani bukan sekadar pendidik atau penulis. Ia adalah seorang pemikir yang tidak pernah berhenti mempertanyakan arah pendidikan Aceh. Pengalamannya yang pernah di lembaga swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang pendidikan memperkaya cara pandangnya. Ia melihat pendidikan bukan hanya soal gedung sekolah yang megah, tingginya angka kelulusan, atau banyaknya program seremonial. Pendidikan, baginya, adalah soal membangun manusia yang mampu berpikir.

Barangkali karena itulah Tabrani sering dianggap “provokatif”. Provokatif bukan karena gemar mencari sensasi, melainkan karena berani menggugat cara berpikir yang telah lama dianggap biasa. Ia tidak segan mengkritik kebijakan yang menurutnya keliru, bahkan ketika kritik itu ditujukan kepada mereka yang sedang memegang kekuasaan.

Saya cukup sering berdiskusi dengannya. Yang paling saya kagumi bukanlah kerasnya kritik yang ia lontarkan, melainkan konsistensi berpikirnya. Ia selalu mengembalikan setiap perdebatan kepada ilmu pengetahuan, data, dan pengalaman. Bagi Tabrani, pendidikan tidak boleh dikelola berdasarkan selera politik, melainkan berdasarkan kebutuhan peserta didik dan masa depan daerah.

Dalam banyak kesempatan, ia berulang kali menegaskan bahwa kemajuan pendidikan Aceh hanya dapat dibangun dari dua fondasi utama.

Pertama, tata kelola pendidikan yang sehat. Baginya, kualitas pendidikan tidak mungkin meningkat jika birokrasinya masih jauh dari prinsip meritokrasi. Jabatan strategis harus diisi oleh orang-orang yang memiliki kompetensi, integritas, dan rekam jejak, bukan sekadar kedekatan politik atau pertimbangan nonprofesional. Ketika tata kelola dibangun di atas kepentingan sesaat, maka yang dikorbankan adalah masa depan generasi Aceh.

Kedua, penguatan literasi. Tabrani meyakini bahwa kemampuan membaca, menulis, memahami informasi, dan berpikir kritis merupakan jantung pendidikan. Selama literasi masih dipandang sebagai pelengkap, jangan berharap lahir generasi yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun global. Sekolah boleh memiliki fasilitas lengkap, tetapi tanpa budaya membaca dan berpikir, semuanya hanya menjadi bangunan yang kehilangan ruh.

Konsistensi itulah yang membuatnya tetap kritis hingga hari ini. Kritik-kritiknya mengalir melalui artikel opini, tulisan di media massa, media sosial, meja kopi, hingga podcast. Ia tidak pernah menunggu diundang untuk berbicara. Ketika melihat sesuatu yang menurutnya keliru, ia akan menyampaikannya, apa adanya.

Sikap seperti ini tentu tidak selalu menyenangkan bagi penguasa. Kritik sering kali lebih mudah dianggap sebagai gangguan daripada masukan. Maka tidak mengherankan jika, setelah pensiun sebagai guru, suara Tabrani seolah semakin dijauhkan dari ruang-ruang pengambilan kebijakan. Kekuasaan bisa saja memilih untuk tidak mendengar, tetapi itu tidak membuatnya berhenti berbicara.

Dedikasinya juga tercermin melalui karya-karya yang ia tulis. Salah satunya adalah buku Membumikan Literasi, sebuah ikhtiar untuk mengajak masyarakat melihat bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca huruf, tetapi kemampuan memahami kehidupan. Buku itu menjadi perpanjangan dari gagasan yang selama ini terus ia perjuangkan: bahwa perubahan besar selalu dimulai dari kebiasaan membaca, berpikir, dan menulis.

Tabrani Yunis mungkin tidak selalu disukai karena kritik-kritiknya. Namun sejarah sering menunjukkan bahwa perubahan justru lahir dari orang-orang yang berani mengusik kenyamanan. Pendidikan membutuhkan lebih banyak pemikir yang bersedia mengingatkan ketika arah mulai melenceng, bukan sekadar orang-orang yang pandai bertepuk tangan.

Menurut saya, Aceh beruntung memiliki sosok seperti Tabrani Yunis. Seorang pejuang literasi yang memilih pena sebagai alat perjuangan, dan menjadikan kritik sebagai bentuk kecintaannya terhadap pendidikan. Sebab kritik yang lahir dari kepedulian sejatinya bukan ancaman, melainkan cermin agar kita tidak kehilangan arah.[]

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Irwan Saputra
Media Perempuan Kritis dan Cerdas
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...