Artikel · Potret Online

Manajemen Filosofi Kebencanaan Berbasis Ligatnisme, Bukan Viralisme

Penulis M. Azril Ihksan
September 8, 2026
3 menit baca 12
IMG_2906
Foto / IlustrasiManajemen Filosofi Kebencanaan Berbasis Ligatnisme, Bukan Viralisme

Oleh M. Azril Ihksan

Pemerhati Sosial & Kebencanaan 

Tampilan penanggulangan bencana kita hari ini sering kali baru moving setelah layar gawai bergetar. Sebuah video  tentang tanggul  yang jebol, kepulan asap kebakaran di hutan dan lahan Pulau Borneo yang melalap ratusan hektar, atau tangisan pengungsi banjir Sumatra yang belum menerima bantuan tenda dahulu, mendadak beredar di media sosial pada masanya. 

Algoritma lalu memicu ribuan komentar dan akhirnya mendorong paksa birokrasi bergegas. Fenomena ini adalah sebuah realitas pahit di mana badan kebencanaan baru menunjukkan taji dan kecepatan puncaknya setelah ditekan oleh opini publik digital.

Ketimpangan Algoritma dan Nyawa di Wilayah Blank Spot

Tentu ada yang keliru jika kepedulian dan kecepatan evakuasi harus menunggu jumlah views atau shares menyentuh angka ribuan. Menolak viralisme bukan berarti kita antipati terhadap media sosial; media sosial adalah alat bantu, bukan setir utama penyelamatan nyawa. 

Ketika keselamatan manusia digantungkan pada algoritma internet, kita sedang mempertaruhkan nyawa warga di wilayah pelosok seperti pedalaman Bener Meriah, Aceh Timur kemarin hingga titik-titik rawan karhutla sekarang dan banjir pedalaman Sumatra dahulu. 

Mengadopsi Ligatnisme sebagai filosofi. 

Sebagai antitesa dari kelambanan birokrasi, kita perlu mengadopsi apa yang disebut sebagai ligatnisme. Kata “ligat”yang dalam khazanah bahasa kita berarti bergerak dengan sangat cepat, gesit, tangkas, dan lincah harus diterjemahkan menjadi sebuah pemaknaan baru dalam Disaster Management

Konsep ligatnisme menuntut seluruh komponen, mulai dari BNPB, BPBD, hingga Satgas Kebencanaan di tingkat desa, untuk bergerak secara taktis dan tuntas, sebelum ruang publik sempat ramai menyadari adanya bahaya. 

Prinsip utamanya tegas: Before Viral, Masalah Telah/Hampir Selesai.

Roda operasional dalam mewujudkan manajemen bencana, berbasis ligatnisme membutuhkan perombakan mendasar pada sistem operasional kita secara runtut:

1) Sistem Pemicu Otomatis (Automatic Trigger) 

Pergerakan personel dan pencairan logistik darurat tidak boleh disandera oleh rantai birokrasi yang panjang atau menunggu lama terbitnya Surat Keputusan (SK) tanggap darurat dari kepala daerah.

Begitu sistem BMKG memperingatkan potensi banjir/curah hujan ekstrem atau satelit mencatat peningkatan titik panas (hotspot) karhutla, armada penyelamat dan tim pemadam harus langsung meluncur dengan Surat Keputusan (SK) yang telah disegerakan. Kecepatan di menit-menit awal (the golden time) adalah batas tipis antara keselamatan dan petaka besar.

2) Desentralisasi Logistik dan Mitigasi Berbasis Komunitas

Ketergantungan daerah terhadap bantuan pusat atau provinsi sering kali melumpuhkan penanganan awal. Berkaca pada kearifan lokal masyarakat kita yang mandiri dan bergotong royong dalam setiap desa rawan banjir, wajib memiliki lumbung logistik mandiri yang dikelola oleh Satgas Desa. Kesiapan lokal membuat warga mampu bertahan di jam-jam awal tanpa perlu berteriak meminta pertolongan di media sosial.

3) Infrastruktur Mitigasi Aktif, Bukan Sekadar Responsif

Ligatnisme menuntut tindakan jauh sebelum bencana memuncak. Daripada sibuk membagikan masker saat asap karhutla mengepung atau membagikan mi instan saat air merendam permukiman, pendekatan ini mendorong pengerukan sungai, pembersihan saluran air, pembasahan lahan gambut (rewetting), dan perbaikan tanggul kritis dilakukan sejak fase pra-bencana.

Indikator Keberhasilan Tertinggi

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan tertinggi dari badan kebencanaan kita harus diubah. Keberhasilan tidak lagi dihitung dari seberapa responsif pejabat menjawab kritikan di media sosial setelah sebuah kasus menjadi viral.

Indikator keberhasilan utama dari ligatnisme adalah “kesenyapan dengan Keselesaian”. Keberhasilannya adalah ketika cuaca ekstrem melanda atau musim kemarau tiba, mitigasi bekerja secara senyap: titik api padam sebelum membesar, tanggul kritis diperbaiki sebelum jebol, dan warga dievakuasi dengan baik tanpa ada ruang bagi kepanikan untuk menjadi viral. 

Manajemen bencana adalah  menyelamatkan jiwa dan lingkungan secara real di lapangan, bukan memenangkan pemenuhan tanggungan sosial di dunia maya.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
M. Azril Ihksan
Media Perempuan Kritis dan Cerdas
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...