Artikel · Potret Online

Dua Skripsi, Dua Perjuangan, Yang Satu Ustaz, Yang Satu Hampir DO

Penulis  Rosadi Jamani
Agustus 30, 2026
3 menit baca 8
53556603-609f-452b-bc1e-02f11e5fef26
Foto / IlustrasiDua Skripsi, Dua Perjuangan, Yang Satu Ustaz, Yang Satu Hampir DO

Oleh Rosadi Jamani

Hari ini puncak demo besar di Jakarta. Sambil menunggu kabar dari ibu kota, ada baiknya baca cerita saya. Kemarin, saya ikut menguji dua mahasiswa tidak biasa. Benar-benar beda dengan kebanyakan mahasiswa lainnya. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Yang pertama bernama Faturrohman. Ia seorang ustaz, sudah punya tiga anak dan tentu satu istri. Di usia tidak muda lagi, ketika sebagian orang mungkin sudah nyaman menjadi penonton kehidupan, ia malah kembali duduk di bangku kuliah.

Hebatnya, ketika presentasi skripsi ia mengenakan jas dan songkok. Gaya sudah seperti calon menteri, tetapi yang menunggunya bukan kabinet. Empat penguji sudah siap dengan pertanyaan yang kadang bisa membuat mahasiswa mendadak lupa nama sendiri.

Namun Faturrohman santai. Karena terbiasa berceramah di depan masyarakat, presentasinya penuh percaya diri. Pertanyaan empat penguji dijawab dengan elegan. Tidak banyak drama. Tidak ada adegan menatap langit-langit sambil berharap jawaban turun dari malaikat.

Nilai terbaik pun pantas ia dapatkan. Gelar Sarjana Manajemen, SM, kini layak disandangnya.

Di sela-sela ujian, saya iseng mengetes ilmu agamanya. “Orang yang beribadah karena ingin mendapatkan pahala dan surga, apakah termasuk syirik?”

Saya kira ia akan mikir keras. Ternyata, Alquran dan hadis langsung meluncur. Jawabannya lengkap. Dalam hati saya berkata, “Ini sebenarnya saya yang menguji atau saya yang sedang ikut kuliah?”

Bu Marhamah kemudian bertanya soal susuk yang ditanam di wajah. Lagi-lagi ia bisa menjawab. Begitulah. Ustaz satu ini bukan hanya membawa skripsi ke ruang sidang. Ia membawa ilmu agama sekaligus pengalaman hidup.

Mahasiswa kedua bernama Gedeon Krisdianto. Cerita Gedeon lebih bikin dada sesak. Ia hampir DO.

Tujuh tahun sudah ia jalani kehidupan sebagai mahasiswa. Tujuh tahun! Ada orang tujuh tahun sudah membangun karier, menikah, punya anak yang sudah pandai bertanya, “Ayah, kapan wisuda?”

Gedeon masih berjuang menyelesaikan kuliahnya. Namun jangan buru-buru mencibir. Mahasiswa berdarah Dayak-Jawa ini adalah tulang punggung tiga adiknya. Bahkan, adik keduanya sudah lebih dahulu menjadi sarjana. 

Nuan bayangkan tekanannya. Adik sudah wisuda, dirinya masih mengejar skripsi. Ia rela resign dari perusahaan tempatnya bekerja demi satu hal, menuntaskan kuliah.

Kemarin menjadi hari terakhirnya sebagai mahasiswa. Setelah tujuh tahun berkelahi dengan waktu, pekerjaan, tanggung jawab keluarga, rasa lelah, dan mungkin godaan untuk berkata, “Sudahlah, ijazah ini memang jodoh orang lain,” akhirnya ia berhasil.

Gelar SM kini boleh disematkan di ujung namanya. Dua mahasiswa. Dua cerita. Dua perjuangan.

Faturrohman mengajarkan, usia bukan alasan untuk berhenti belajar. Gedeon mengajarkan, terlambat bukan berarti kalah. Kita sering melihat mahasiswa dari angka. Semester berapa, IPK berapa, lulus kapan.

Padahal di balik angka itu mungkin ada anak harus dinafkahi, orang tua harus dibantu, adik harus disekolahkan, pekerjaan harus ditinggalkan, atau perjuangan tidak pernah masuk transkrip akademik.

Karena itu, jangan gampang mengatakan, “Kok belum lulus?” Kita tidak pernah tahu perang apa sedang dilaluinya.

Kemarin, Faturrohman dan Gedeon sebenarnya bukan cuma mempertahankan skripsi. Mereka sedang mempertahankan harapan. Yang satu melawan usia. Yang satu melawan keadaan. Keduanya menang dengan cara masing-masing.

Maka, selamat Faturrohman. Selamat Gedeon. Kalian mengajarkan, pendidikan bukan perlombaan siapa paling cepat sampai. Yang paling penting adalah tetap berjalan. Sebab dalam kehidupan, ada orang berlari, ada berjalan, ada tertatih.

Tetapi selama belum menyerah, semuanya masih punya kesempatan untuk sampai ke garis finis. Kalau sudah sampai, jangan lupa, wisuda itu bukan akhir perjuangan. Itu cuma tanda, bab berikutnya siap dimulai.

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani

#camanewak

#jurnalismeyangmenyapa

#JYM

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Ketua Satupena Kalbar
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...