Jalan yang Ditinggalkan

Ketika Tol Mengambil Semua, Tapi Kenangan Tetap Bertahan
Oleh: Dayan Abdurrahman
Peneliti & Pendidik, Bireuen – Aceh
Jalan gunung Salawah, jalur Saree — bagi siapa saja yang pernah besar di pesisir timur Aceh, dari Bireuen, hingga Pidie, dari Sigli hingga Langsa, menuju Banda Aceh maupun Medan, jalan ini bukan sekadar aspal yang menghubungkan kota ke kota. Ia adalah urat nadi kehidupan.
Ia adalah saksi bisu perjalanan pulang-pergi yang tak terhitung jumlahnya — dari anak rantau yang merantau mengejar mimpi, dari pedagang yang membawa hasil bumi ke pasar, dari keluarga yang berziarah, dari siapa pun yang pernah berjalan di atasnya dengan harapan di dada.
Dulu, jalan ini tak pernah sepi. Dari fajar hingga larut malam, kendaraan beriringan menanjak dan menurun perlahan. Di sepanjang jalur, kafe-kafe kecil berdiri rapi — tempat orang berhenti melepas lelah, menyeruput kopi panas, dan berbagi cerita. Penjual keripik pisang, emping, dan makanan khas lainnya menyambut setiap tamu yang singgah.
Pada hari raya, jalan ini berubah menjadi lautan kendaraan — lampu kendaraan berjejer memanjang naik ke puncak gunung, seolah bintang-bintang turun ke bumi. Suara tawa, sapaan, dan pertemuan kembali keluarga terasa di setiap sudut. Jalan ini bukan sekadar dilewati — ia adalah tempat bertemu, tempat berbagi, tempat hidup berlangsung di sepanjang perjalanan.
Dulu perjalanan Bireuen–Banda Aceh memakan waktu empat hingga lima jam lewat jalur ini. Kini lewat tol, hanya dua jam. Dua jam yang dihemat — terdengar kecil. Namun yang hilang di dua jam itu adalah kehidupan yang terjadi di sepanjang jalan.
Saat masa kuliah tiba, jalan ini menjadi jembatan antara rumah dan mimpi. Kami yang merantau dari kampung ke kota, naik motor berdua, berteduh saat hujan, berbagi bekal di pinggir jalan, dan saling menyemangati saat tanjakan terasa berat.
Di masa konflik dulu, jalan ini juga saksi ketakutan dan keberanian — kami berjalan perlahan, berdoa dalam hati, berharap selamat sampai tujuan. Namun kami tetap berjalan, karena di ujung jalan ada keluarga yang menunggu, ada masa depan yang diperjuangkan. Jalan ini melihat kami dalam keadaan paling rapuh, dan juga paling berani.
Kini, semuanya berubah. Jalan tol Lintas Aceh telah terbentang mulus dan lebar. Mobil-mobil melesat cepat, mencapai tujuan dalam waktu singkat tanpa berbelok, tanpa menanjak, tanpa berhenti. Mereka sampai lebih cepat, namun mereka tidak pernah benar-benar melewati Aceh.
Mereka tidak melihat ladang di lereng bukit, tidak menyapa pedagang di pinggir jalan, tidak merasakan angin yang berhembus dari hutan pinus. Mereka tiba, tetapi mereka tidak pernah benar-benar berada di perjalanan.
Dan di belakang, jalan lama kami mulai sepi. Kafe-kafe yang dulu penuh tawa kini sepi. Penjual keripik yang dulu sibuk melayani tamu kini hanya menatap kendaraan yang semakin jarang lewat. Mereka berinvestasi besar-besaran — membangun tempat yang nyaman, menyediakan makanan yang lezat, berharap kehidupan akan terus berjalan seperti dulu. Mereka tidak tahu bahwa sebuah jalan tol akan mengambil semuanya dalam sekejap. Mereka tidak salah, tetapi dunia berubah tanpa menanyakan izin.
Para pedagang keripik, pemilik kafe, dan pengusaha kecil di sepanjang jalur ini bukan sekadar kehilangan pelanggan. Mereka kehilangan sumber kehidupan yang telah dibangun puluhan tahun — tanpa peringatan, tanpa solusi, tanpa pendampingan. Yang tersisa kini adalah kami — pengendara motor, petani yang membawa hasil bumi, warga lokal yang tidak bisa masuk ke tol, dan mereka yang tidak punya pilihan selain tetap berjalan di jalur lama. Kami yang masih menanjak pelan-pelan, satu per satu, dalam gelap malam. Kami yang melewati kafe yang tutup, toko yang sepi, dan jalan yang dulu ramai kini sunyi seperti tahun enam puluhan.
Namun di dalam kesepian itu, ada sesuatu yang tetap utuh — kenangan. Karena kami tahu: perjalanan bukan tentang seberapa cepat kita sampai. Perjalanan adalah tentang apa yang kita lihat, siapa yang kita temui, dan apa yang kita rasakan di sepanjang jalan. Orang di tol mungkin sampai lebih cepat, tetapi mereka tidak membawa pulang cerita seperti yang kami bawa.
Mereka tidak tahu betapa dinginnya angin di puncak Salawah saat malam, tidak tahu betapa hangatnya kopi di kafe pinggir jalan saat hujan turun, tidak tahu betapa dalamnya doa yang diucapkan saat menanjak bersama teman-teman.
Jalan ini mungkin ditinggalkan banyak orang, tetapi ia tidak akan pernah hilang dari hati mereka yang pernah tumbuh bersamanya. Para pedagang yang bertahan, para petani yang tetap berjalan, kami para pengendara motor yang masih menanjak setiap malam — kami adalah penjaga kenangan. Kami yang tahu bahwa kemajuan tidak harus melupakan, dan perubahan tidak harus menghapus.
Mobil-mobil boleh melesat di atas sana, tetapi di sini, di jalan lama yang berkelok dan menanjak — di sinilah jiwa Aceh sebenarnya berjalan. Pelan, namun pasti. Sepi, namun setia. Ditinggalkan, namun tidak pernah hilang.
Mereka yang melesat di tol sampai lebih cepat. Tapi kami yang berjalan di jalan lama — kami sampai dengan membawa seluruh Aceh di dalam hati.












