Artikel · Potret Online

Aceh Singkil, yang Kita Lupakan

Mei 22, 2026
3 menit baca 258
99f47683-a595-4774-80e9-b9932879fa52
Foto / IlustrasiAceh Singkil, yang Kita Lupakan

Oleh: Tgk. Ilham Mirsal, MA.

Saya baru sadar: Aceh ini sering tidak adil kepada daerahnya sendiri.

Kita ribut membicarakan Banda Aceh. Kita bangga dengan Sabang. Kita hafal sejarah Pasee. Tapi ada satu wilayah di ujung selatan yang kadang hanya disebut kalau banjir datang atau kalau jalan nasional longsor: Singkil.

Padahal kalau sejarah Aceh itu diibaratkan pohon besar, Singkil adalah salah satu akar tuanya.

Saya teringat percakapan dengan seorang kawan dosen di STAI Tapaktuan. Ia berkata begini:“Kalau bukan orang Singkil sendiri yang menulis sejarahnya, lama-lama orang mengira Singkil itu cuma tempat transit menuju Pulau Banyak.”

Saya diam.

Ada benarnya.

Padahal dari tanah itu lahir nama sebesar Syekh Abdurrauf As-Singkili. Orang Aceh lebih akrab menyebutnya Syiah Kuala. Nama yang hari ini diabadikan menjadi universitas terbesar di Aceh.

Tapi sering kita lupa satu hal penting:di belakang nama “Syiah Kuala” itu, ada kata kecil yang sangat menentukan: As-Singkili.

Artinya: orang Singkil.

Begitu juga Hamzah Fansuri. Ulama sufi yang syair-syairnya melompat jauh melampaui zamannya. Orang yang membuat bahasa Melayu menjadi bahasa ilmu pengetahuan dan sastra. Sebelum republik ini lahir, sebelum bahasa Indonesia diresmikan, Hamzah Fansuri sudah menulis dengan bahasa yang kelak menjadi akar bahasa persatuan kita.

Dan ia berasal dari Fansur.Wilayah pantai barat yang sejarahnya bertaut kuat dengan Singkil dan Barus.

Kadang saya berpikir:mengapa Aceh begitu hebat dahulu?

Jawabannya mungkin sederhana:karena Aceh dulu tidak hanya kuat dengan pedang, tetapi juga kuat dengan pena.

Dan Singkil menyumbang banyak pena itu.

Saya membaca kembali catatan-catatan lama tentang kerajaan di Singkil. Ada Tanjung Mas. Ada Tualang. Ada Batu-Batu. Ada Raja Sinambelas.

Nama-nama itu terdengar kecil sekarang. Tetapi dahulu, wilayah itu bukan daerah pinggiran. Ia jalur penting perdagangan laut. Kapur barus, damar, rotan, lada, sutera, semua keluar dari sana.

Bahkan Tome Pires, penulis Portugis abad ke-16, sudah mencatat Singkil dalam peta perdagangan dunia.

Artinya apa?

Artinya ketika sebagian wilayah Nusantara masih sunyi, Singkil sudah lebih dulu bergaul dengan dunia luar.

Yang menarik justru begini: Orang Singkil dahulu hidup di antara sungai dan laut.

Mereka belajar bertahan dari arus. Belajar membaca ombak. Belajar hidup dari perpindahan.

Mungkin itu sebabnya masyarakat Singkil punya watak lentur tapi kuat.

Mereka bisa menerima banyak pengaruh, tetapi tetap tidak kehilangan dirinya.

Saya juga tertarik dengan kisah tentang hubungan Aceh dengan Pagaruyung. Tentang “Rantau 12”. Tentang maskawin wilayah Simpang Kiri dan Simpang Kanan.

Di situ saya sadar:Aceh zaman dulu ternyata tidak dibangun hanya dengan perang. Tetapi juga dengan perkawinan politik, diplomasi budaya, dan hubungan kekerabatan.

Hari ini orang suka bicara identitas dengan marah-marah. Padahal leluhur kita dulu menyatukan wilayah dengan hubungan keluarga.

Ada hal lain yang membuat saya merenung.

Mengapa tokoh-tokoh besar Singkil sering seperti tenggelam dalam sejarah Aceh?

Mungkin karena sejarah kita terlalu lama ditulis dari pusat kekuasaan.Daerah pinggir sering hanya menjadi catatan kaki.

Padahal kadang justru dari pinggiran itu lahir cahaya paling terang.

Lihat saja Syekh Abdurrauf. Lihat Hamzah Fansuri.

Satu menjadi penjaga hukum.Satu menjadi penjaga ruh.

Keduanya lahir dari tanah yang hari ini lebih sering dikenal karena Pulau Banyak dan hasil lautnya.

Padahal Singkil bukan hanya tentang wisata. Ia adalah perpustakaan sejarah yang belum selesai dibaca.

Dan saya kira, Aceh perlu lebih jujur mengakui itu.

Karena bangsa yang besar bukan bangsa yang hanya menghafal sejarah pusatnya.Tetapi bangsa yang mau menghormati semua serpihan sejarah di pinggirannya.

Singkil adalah salah satu serpihan penting itu.

Dan serpihan itu, sesungguhnya ikut membentuk wajah Aceh hari ini.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Tgk. Ilham Misal, MA (Ayah Ilham), Merupakan Dosen STAI Tapaktuan, dan Warga Gampong Ujung Batee (Terbangan Cut), Kemukiman Terbangan, Kecamatan Pasie Raja, Aceh Selatan.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...