Artikel · Potret Online

Menanam Berkah di Bumi Saree:Kedaulatan Pangan, Jiwa Merdeka, dan “Hijrah” Mental Gen Z

Penulis Khatmi Ilyas, S.Pd.
Juni 15, 2026
6 menit baca 4
3a70201d-2be6-4222-8daa-42e2e34f4ef9
Foto / IlustrasiMenanam Berkah di Bumi Saree:Kedaulatan Pangan, Jiwa Merdeka, dan “Hijrah” Mental Gen Z

Oleh: Khatmi Ilyas, S.Pd.

Guru SMK-PP Negeri Saree


Email: khatmi@smkppsaree.sch.id

Pagi hari di Saree, Aceh Besar, selalu punya cara sendiri untuk menyapa kita. Kabut tipis yang menyelimuti kaki Gunung Seulawah, berpadu dengan aroma tanah basah dan hamparan hijau lahan praktik SMK-PP Negeri Saree, selalu berhasil menghadirkan ketenangan. Namun, sebagai seorang pendidik yang setiap hari berhadapan dengan ratusan anak muda Gen Z di sekolah pertanian ini, ketenangan alam itu sering kali kontras dengan dinamika di dalam ruang kelas. Hari ini, tepat tanggal 16 Juni 2026, kalender Islam memasuki babak baru: 1 Muharram 1448 Hijriah. Sebuah momentum sakral yang memaksa kita sejenak menekan tombol pause dari rutinitas, lalu bertanya pada diri sendiri: ada di mana posisi kita saat ini, dan ke mana arah langkah anak-anak didik kita?

Berbicara tentang anak didik masa kini, khususnya Gen Z, kita sedang membicarakan generasi yang lahir dengan gawai di tangan. Mereka adalah generasi yang mahir melakukan multitasking antara memegang cangkul digital di era modernisasi sekaligus asyik melakukan scrolling di media sosial. Di satu sisi, ada kecemasan kolektif yang sering kita dengar dari kaum “boomer” atau generasi di atas mereka—mulai dari isu kesehatan mental, kecenderungan mencari kepuasan instan, hingga fenomena FOMO (Fear of Missing Out) yang akut. Namun, di sisi lain, saya melihat potensi yang luar biasa besar jika energi meluap ini diarahkan dengan tepat. Di sinilah relevansi momen Tahun Baru Islam muncul sebagai jembatan perubahan.

Arti Hijrah yang ‘Relate’ dengan Gen Z

Bagi anak muda sekarang, istilah “hijrah” kadang terdengar terlalu berat atau bahkan mengalami pergeseran makna yang sekadar kosmetik—ganti penampilan, ganti tongkrongan, lalu selesai. Padahal, esensi asli hijrah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW jauh lebih tajam dan esensial. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari, Rasulullah SAW menegaskan sebuah prinsip dasar yang sebetulnya sangat kasual dan masuk akal:

“Al-Muhaajiru man hajara maa nahallaahu ‘anhu…”
“Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa saja yang dilarang oleh Allah.” (HR. Bukhari)

Jika kita terjemahkan ke dalam bahasa anak muda hari ini, hijrah itu adalah tindakan nyata untuk move on dari kebiasaan buruk (toxic habits) menuju produktivitas yang berdampak positif. Hijrah bukan sekadar ganti casing, melainkan ganti mindset atau sistem operasi di dalam kepala kita. Bagi seorang murid di SMK Pertanian, hijrah mental di tahun 1448 H ini berarti mengubah kebiasaan doomscrolling yang tidak menghasilkan apa-apa, menjadi gerakan eksplorasi ilmu pengetahuan. Dari yang tadinya pasif menerima keadaan, menjadi aktif menciptakan solusi.

Sawah, Ternak, dan Sajadah Akhirat

Sebagai SMK-PP Negeri Saree yang berfokus pada empat pilar utama—Pertanian, Peternakan, Pengolahan Hasil, dan Mekanisasi Pertanian—kita sesungguhnya memegang kunci dari sektor yang paling krusial bagi kehidupan: pangan. Sering kali ada stigma keliru di tengah masyarakat bahwa dunia pertanian itu kotor, miskin, dan tidak menjanjikan masa depan. Ini adalah cara pandang kuno yang harus didelete dari pikiran kolektif kita.

Islam memandang aktivitas bertani dan beternak dengan kacamata yang sangat mulia. Sektor ini bukan sekadar urusan perut di dunia, melainkan sebuah investasi besar untuk kehidupan akhirat. Mari kita tengok sebuah hadis yang sangat menenangkan hati para petani:

“Tidaklah seorang muslim menanam pohon atau menanam tanaman, lalu pohon atau tanaman tersebut dimakan oleh burung, manusia, atau binatang, melainkan hal itu akan bernilai sedekah bagi penanamnya.” (HR. Bukhari & Muslim)

Hadis ini adalah penegasan bahwa setiap tetes keringat siswa kita yang mengalir di lahan pertanian, setiap jerih payah mendesain formulasi pakan ternak, setiap inovasi dalam pengolahan hasil panen, hingga ketelitian merawat traktor dalam mekanisasi pertanian, semuanya tercatat sebagai ibadah. Pertanian adalah jalan ninja menuju ketahanan pangan di dunia sekaligus jaminan pahala jariyah di akhirat. Dunia dapet, akhirat aman!

Menjawab Program Prioritas Pemerintah dari Saree

Jika kita tarik ke konteks kebangsaan dan kedaerahan, posisi SMK-PP Negeri Saree sangat strategis dalam menyukseskan program prioritas pemerintah. Pemerintah Pusat saat ini gencar mengumandangkan Kedaulatan Pangan Nasional dan Modernisasi Pertanian berbasis teknologi (Smart Farming). Di tingkat daerah, Pemerintah Aceh juga terus mendorong Revitalisasi Pertanian dan Kemandirian Pangan agar Bumi Serambi Mekkah ini tidak terus-menerus bergantung pada pasokan pangan dari luar daerah.

Bagaimana program ini bisa jalan jika anak mudanya enggan turun ke sawah? Di sinilah posisi ideal murid kita di era 1448 Hijriah. Mereka tidak boleh lagi diproyeksikan sebagai buruh tani konvensional yang pasrah pada alam. Profil murid ideal yang kita impikan adalah mereka yang mampu mengoperasikan drone pertanian dan mesin otomatis (Mekanisasi), menguasai bioteknologi tanaman (Pertanian), mampu mengelola peternakan modern yang higienis (Peternakan), serta piawai mengemas produk segar menjadi komoditas bernilai jual tinggi (Pengolahan Hasil). Mereka adalah para Agripreneurs muda yang mandiri secara ekonomi dan kokoh secara spiritual.

Kaca Spion: Refleksi untuk Guru dan Masyarakat

Namun, untuk melahirkan generasi ideal seperti itu, perubahan tidak bisa dibebankan kepada murid sendirian. Kita sebagai pendidik dan masyarakat luas juga harus berani melakukan refleksi diri. Sebagai guru, sudahkah kita berhijrah dari metode mengajar yang kaku dan membosankan? Kita tidak bisa memaksa anak Gen Z mendengarkan ceramah teori selama berjam-jam di dalam kelas. Kita yang harus masuk ke dunia mereka, memanfaatkan teknologi, dan memotivasi mereka dengan cara-cara yang relevan. Jangan jadi guru yang “boomer” dalam berpikir, yang hanya bisa mengkritik tanpa memberikan ruang kreativitas.

Masyarakat dan para orang tua juga perlu melakukan refleksi besar-besaran. Berhentilah menganggap remeh anak-anak yang memilih sekolah di SMK Pertanian. Ingat, ketika krisis ekonomi atau pandemi melanda, sektor yang paling tangguh bertahan adalah pertanian dan pangan. Menyekolahkan anak di SMK-PP Negeri Saree bukanlah sebuah kegagalan, melainkan sebuah langkah strategis untuk mempersiapkan pahlawan masa depan bangsa.

Solusi Nyata Menuju Tahun Baru 1448 H

Sebagai penutup dari refleksi Muharram ini, kita memerlukan langkah konkret yang melampaui sekadar retorika. Ada tiga solusi nyata yang harus kita jalankan bersama di SMK-PP Negeri Saree:

1. Sinergi Kurikulum Spiritual dan Teknikal. Kita harus memastikan bahwa penguasaan teknologi pertanian modern (seperti IoT, hidroponik, dan mekanisasi) berjalan beriringan dengan penguatan karakter (akhlak). Praktek di lapangan harus dimaknai sebagai perwujudan rasa syukur kepada Sang Pencipta.

2. Transformasi Mindset “Petani Keren”. Sekolah dan media harus masif melakukan kampanye atau flexing positif tentang keberhasilan alumni dan inovasi pertanian produk Saree. Kita tunjukkan pada dunia bahwa memegang cangkul dan mengoperasikan mesin pertanian itu keren dan estetik di media sosial.

3. Penguatan Ekosistem Kewirausahaan (Agripreneurship). Murid-murid tidak hanya diajarkan cara menanam, tetapi juga cara berbisnis. Dengan demikian, setelah lulus mereka siap membuka lapangan kerja baru di Aceh, mengurangi angka pengangguran, dan berkontribusi langsung pada ekonomi syariah daerah.

Selamat menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah. Mari jadikan momentum ini sebagai titik tolak untuk melakukan hijrah massal—hijrah dari mentalitas rebahan menjadi mentalitas pembuat perubahan. Dari Bumi Saree, kita tanam benih-benih kebaikan, kita rawat dengan ilmu dan iman, demi menuai keberkahan melimpah di dunia dan akhirat. Aceh mandiri pangan, pemudanya mulia berakhlak!

Profil Penulis:
Khatmi Ilyas adalah seorang pendidik dan Guru di SMK-PP Negeri Saree, institusi pendidikan vokasi pertanian terkemuka di Provinsi Aceh. Aktif dalam pengembangan karakter siswa dan inovasi pembelajaran berbasis kompetensi kejuruan.
Email: khatmi@smkppsaree.sch.id | Kontak: 08126918967

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Khatmi Ilyas, S.Pd.
Media Perempuan Kritis dan Cerdas
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...