Esai · Potret Online

Empat Pemikir di Balik Kabut

Membaca "Topi Loreng dan Boni" Karya Yanto Bule
Penulis Wiko Antoni
Juni 15, 2026
4 menit baca 2
1001618993_11zon
Foto / IlustrasiEmpat Pemikir di Balik Kabut
Oleh
Wiko Antoni

Saya duduk sendirian di depan sebuah meja kayu tua. Di tangan saya terbuka sebuah buku tipis berjudul Topi Loreng dan Boni karya Yanto Bule. Di luar jendela, kabut turun perlahan dari perbukitan, mengaburkan pepohonan yang berdiri jauh di lereng. Sore bergerak pelan menuju senja.

Saya mulai membaca.

Mula-mula yang hadir hanyalah sebuah sekolah Inpres dengan dinding kawat besi, halaman tanah, dan suara anak-anak yang berlari di jalan kerikil. Namun semakin jauh saya melangkah ke dalam cerita, semakin terasa bahwa yang sedang saya baca bukan sekadar kenangan masa kecil. Ada sesuatu yang lebih dalam bergerak di balik kesederhanaan itu.

Saat itulah empat sosok datang.

Entah dari mana.

Mereka tidak mengetuk pintu. Tidak pula memperkenalkan diri. Tahu-tahu mereka telah berdiri di sekeliling meja saya.

Saya mengenali mereka.

Émile Durkheim. John Dewey. Paulo Freire. Lev Vygotsky.

Empat pemikir yang selama puluhan tahun mengisi ruang-ruang diskusi pendidikan di berbagai belahan dunia.

Durkheim adalah orang pertama yang berbicara.

Ia mengambil buku itu dari tangan saya lalu membuka halaman yang memperlihatkan Sertu Taib mengajar Pendidikan Moral Pancasila.

“Lihatlah,” katanya pelan.

“Di sini sekolah bukan sekadar tempat belajar membaca dan menulis. Ia adalah tempat masyarakat menanamkan nilai-nilainya kepada generasi berikutnya.”

Ia berbicara tentang disiplin, tanggung jawab, hormat kepada orang tua, dan rasa memiliki terhadap tanah tempat seseorang dilahirkan.

Menurut Durkheim, sekolah dalam cerita ini bukan bangunan.

Ia adalah ruang tempat sebuah masyarakat mempertahankan dirinya.

Saya memandang halaman-halaman buku itu.

Memang benar. Yanto Bule tidak sedang menulis gedung sekolah. Ia sedang menulis jiwa sebuah kampung.

Belum sempat saya menjawab, John Dewey sudah tersenyum dan mengambil alih percakapan.

“Dan semua itu terjadi melalui pengalaman,” katanya.

“Anak-anak ini tidak hanya belajar di kelas. Mereka belajar dari kehidupan yang mereka jalani.”

Dewey tampak bahagia.

Barangkali karena di desa kecil dalam cerita itu ia menemukan sesuatu yang selama ini ia yakini: bahwa pendidikan bukanlah persiapan untuk hidup.

Pendidikan adalah hidup itu sendiri.

Sementara kami berbicara, Paulo Freire berdiri dekat jendela. Matanya menatap kabut yang mulai menebal.

“Yang menarik bagi saya justru hubungan antara anak-anak dan Sertu Taib.”

Dalam banyak kisah, tentara sering hadir sebagai simbol kekuasaan. Namun dalam Topi Loreng dan Boni, sosok itu tampil berbeda.

Ia tidak menakutkan. Ia tidak memerintah. Ia mendampingi.

Freire tersenyum tipis. “Di sinilah pendidikan menjadi dialog.”

Menurutnya, jarak antara rakyat kecil dan negara seakan mencair melalui kehadiran seorang guru yang kebetulan mengenakan seragam loreng.

Yang hadir bukan ketakutan. Melainkan kedekatan.

Yang tumbuh bukan kepatuhan buta. Melainkan rasa percaya.

Saya terdiam. Karena semakin saya memikirkan cerpen ini, semakin terasa bahwa Yanto Bule memang menulis manusia sebelum menulis simbol.

Lev Vygotsky yang sejak tadi diam akhirnya ikut berbicara. Ia membuka beberapa halaman terakhir, lalu menunjuk percakapan-percakapan sederhana antara anak-anak.

“Di sinilah keajaiban itu terjadi. Bukan di ruang guru. Bukan di buku pelajaran. Melainkan di antara anak-anak itu sendiri.”

Mereka belajar dari tawa. Dari rasa takut. Dari pertanyaan yang tampak sepele. Dari percakapan yang berlangsung di jalan pulang.

Menurut Vygotsky, manusia tumbuh melalui hubungan dengan manusia lain.

Dan dalam cerita ini, hubungan-hubungan kecil itu hadir begitu alami hingga nyaris tak terlihat. Namun justru di sanalah kekuatannya.

Perdebatan berlangsung semakin panjang. Durkheim berbicara tentang moral. Dewey tentang pengalaman. Freire tentang pembebasan. Vygotsky tentang interaksi sosial.

Mereka saling menguatkan, sesekali saling menyanggah. Sementara saya hanya mendengarkan. Kabut di luar jendela semakin rapat.

Senja perlahan tenggelam. Lalu saya menutup buku itu. Keempat pemikir tersebut menoleh kepada saya. Seolah menunggu sesuatu.

Maka saya berkata pelan, “Barangkali kalian semua benar.” Mereka tersenyum. “Tetapi saya kira Yanto Bule telah mempertemukan semua gagasan itu dalam satu ruang kelas kecil jauh di pedalaman, tanpa pernah menyebut satu pun nama kalian.”

Tak ada yang menjawab.

Durkheim hanya tersenyum. Dewey mengangguk pelan. Freire tertawa kecil. Vygotsky menepuk sampul buku yang kini tergeletak di atas meja.

Di luar, kabut telah menelan seluruh pemandangan. Dan ketika saya mengangkat kepala kembali, keempat sosok itu telah menghilang.

Hanya buku Topi Loreng dan Boni yang masih terbuka di hadapan saya.

Saya memandangnya lama.

Lalu menyadari sesuatu. Cerita yang baik tidak pernah sibuk menjelaskan teori. Ia cukup menghadirkan kehidupan. Dan dari kehidupan itulah teori-teori lahir. Barangkali itulah yang dilakukan Yanto Bule dalam cerpen ini.

Ia tidak sedang mengajar pembaca tentang pendidikan. Ia hanya bercerita tentang manusia. Namun justru dari situlah pelajaran-pelajaran paling berharga menemukan jalannya sendiri.

Kabut di luar jendela terus turun. Dan dari kejauhan, saya seperti masih mendengar suara empat pemikir itu berbisik pelan: “Belajarlah dari kehidupan. Sebab kehidupan selalu lebih luas daripada teori.”

Tentang Penulis
Wiko Antoni
Wiko Antoni adalah pengajar sastra di Universitas Merangin, Jambi.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Wiko Antoni
Wiko Antoni adalah pengajar sastra di Universitas Merangin, Jambi.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...