Esai · Potret Online

Bongkar

Penulis  Yani Andoko
Agustus 30, 2026
5 menit baca 10
IMG_2729
Foto / IlustrasiBongkar
Disunting Oleh

Oleh Yani Andoko

Getaran Yang Tak Bisa Didiamkan

Pernahkah kamu merasakan ada sesuatu yang mengganjal di dada saat melihat berita tentang seorang ibu yang kehilangan rumahnya karena penggusuran, atau saat mendengar siswa SMA di daerah terpencil harus berjalan 5 kilometer untuk mencari sinyal internet? 

Atau saat membaca data tentang kesenjangan ekonomi yang semakin menganga, sementara para pejabat sibuk berfoto di acara seremonial?

Getaran itu bukan sakit hati, tapi kesadaran. Dan kesadaran, seperti kata filsuf Paulo Freire, adalah awal dari pembebasan. Tapi kesadaran tanpa tindakan hanyalah mimpi. Karena itu, kita perlu bicara tentang satu kata yang selama ini sering disalahpahami: 

BONGKAR.

Bongkar bukan tentang merusak. Bongkar bukan tentang anarki. Bongkar adalah tindakan cinta paling berani. Cinta yang marah. Cinta yang tak rela melihat negeri ini terus tertidur dalam kepalsuan.

Antara Fakta, Cerita, Dan Gagasan

Cerita Dari Pinggiran: Ketika Rakyat 

Bicara

Di sebuah desa di lereng Merapi, seorang petani bernama Suparno (55) menolak menjual lahannya untuk tambang pasir. Ia bukan pahlawan. Ia hanya tak mau diam. Selama tiga tahun ia datang ke kantor desa, mengikuti rapat, bahkan rela belajar tentang aturan perizinan. Hasilnya? 

Lahan itu akhirnya digugat secara hukum dan sementara dihentikan.

Suparno bukan sarjana hukum. Ia lulusan SD. Tapi ia tak mau diam.

Cerita Suparno adalah mikro dari apa yang terjadi di seluruh negeri: rakyat biasa yang memilih menjadi pengawal negerinya sendiri. 

Di Kalimantan, suku Dayak mengawal hutan adat. Di Papua, perempuan-perempuan mempertahankan sungai dari tambang. Di Jakarta, anak muda mengawal anggaran di aplikasi publik.

Mereka tak punya kekuasaan, tapi punya keberanian. Dan keberanian itu menular.

Data yang Bicara: Mengapa Bongkar Menjadi Tuntutan?

Mari kita lihat beberapa angka yang menggugah:

Kesenjangan ekonomi: 1% orang terkaya di Indonesia menguasai hampir 50% kekayaan nasional (Credit Suisse, 2023).

Korupsi: Indonesia kehilangan sekitar Rp 100 triliun per tahun akibat korupsi (ICW, 2024). Cukup untuk membangun 10 juta rumah layak huni.

Kerusakan lingkungan: Lebih dari 20 juta hektar hutan hilang dalam 20 tahun terakhir, sebagian besar untuk kelapa sawit dan tambang (KLHK, 2023).

Partisipasi pemuda: Hanya 30% pemuda yang percaya bahwa suaranya didengar oleh pemerintah (Survei Nasional, 2024).

Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Ini adalah jeritan yang terabaikan. Dan ketika jeritan terus diabaikan, maka “bongkar” bukan lagi pilihan. Ia menjadi respon alami dari tubuh yang sesak napas.

Gagasan: Bongkar Dengan Cinta Yang Marah

Di sinilah idealisme harus dihidupkan. Seperti yang dinyanyikan Iwan Fals: “Bongkar! Bongkar! Jangan ragu-ragu.” Tapi bagaimana caranya agar bongkar tidak menjadi liar?

Pertama, bongkar kebodohan.

Kita hidup di era informasi, tapi justru kebodohan massal yang dihasilkan. Hoaks, politik identitas, dan populisme menggantikan nalar. Bongkar berarti berani membaca, berani membandingkan fakta, berani mengatakan “ini tidak benar”. Seperti kata filsuf Socrates, “Hidup yang tidak diuji tidak layak dijalani.”

Kedua, bongkar ketakutan.

Banyak orang diam karena takut. Takut dipecat, takut dimusuhi, takut dianggap radikal. Tapi ketakutan adalah penjara yang dibangun sendiri. Bongkar ketakutan dengan komunitas karena ketika kita tidak sendirian, ketakutan kehilangan kekuatannya.

Ketiga, bongkar sistem yang melanggengkan ketidakadilan.

Ini yang paling berat. Sistem bukan orang, tapi susunan aturan yang menguntungkan segelintir orang. Sistem bisa dibongkar bukan dengan dendam, tapi dengan partisipasi terukur: mengawal APBD, menuntut transparansi, memilih pemimpin yang jujur meski tidak populer.

Nilai-nilai Yang Harus Ditanam

Jika bongkar adalah tuntutan, maka nilai-nilai ini harus menjadi dasar:

Kejujuran: Tanpa jujur, bongkar menjadi fitnah.

Keberanian: Tanpa berani, bongkar hanya wacana.

Persaudaraan: Tanpa cinta, bongkar menjadi perpecahan.

Kesabaran: Tanpa sabar, bongkar menjadi anarki.

Harapan: Tanpa harap, bongkar menjadi nihilisme.

Kritik Sosial: Yang Diperintah Bukan Pasrah, Tapi Mengawal

Kritik paling tajam dari esai ini adalah: selama ini kita diajari bahwa yang dipimpin adalah yang pasrah. Padahal dalam demokrasi, yang dipimpin adalah yang mengawal. Kita bukan domba yang digembalakan, melainkan penunggang yang memberi arah.

Pemimpin hanyalah pemandu jalan, bukan pemilik jalan. Jika pemandu salah arah, maka penunggangnya yang berhak mengingatkan. Dan ketika pemandu terus-terusan salah, maka rakyat berhak mengganti.

Tapi penggantian bukan lewat kekerasan, melainkan lewat kesadaran kolektif. Kesadaran yang dibangun dari dapur ke dapur, dari warung ke warung, dari medsos ke medsos.

Sintesis Empirik Dan Referensi

Pengalaman Suparno, data kesenjangan, dan narasi Iwan Fals adalah tiga sudut yang membentuk segitiga perlawanan: empirik, data, dan kultural.

Secara empirik, kita melihat bahwa perlawanan tanpa kekerasan berhasil di banyak tempat dari Gerakan Mahasiswa 1998 hingga pengawalan kasus-kasus lingkungan akhir-akhir ini.

Secara teoritis, konsep dekonstruksi Derrida mengajarkan bahwa semua struktur yang terlihat kokoh sebenarnya memiliki celah. Tugas kita adalah menemukan dan membongkar dari dalam.

Secara kultural, tradisi musyawarah dan gotong royong Indonesia adalah modal sosial terbesar yang kita miliki. Ini bukan budaya Eropa atau Amerika, ini kearifan lokal yang bisa dihidupkan kembali.

Referensi tambahan yang relevan:

Pedagogy of the Oppressed (Paulo Freire) tentang kesadaran kritis.

Sapiens (Yuval Noah Harari) tentang bagaimana narasi membentuk peradaban.

Manusia Indonesia (Mochtar Lubis) tentang karakter bangsa yang perlu dibongkar.

Bukan Pilihan, Tapi Panggilan

Esai ini bukan ajakan berperang. Ini ajakan untuk bangun. Karena Indonesia bukan hanya tanah dan pulau. Indonesia adalah kita yang bekerja, yang bermimpi, yang mengeluh, tapi juga yang berharap.

“Bongkar bukan untuk menghancurkan dengan benci, tapi untuk membangun dengan cinta yang marah.”

Cinta yang marah adalah cinta yang tak tahan melihat anak-anak kelaparan di negeri gemah ripah. Cinta yang marah adalah cinta yang rela kehilangan kenyamanan demi kebenaran. Cinta yang marah adalah cinta yang berkata: “Aku tak akan diam.”

Dan ketika rakyat tak diam, maka sejarah akan berubah. Bukan karena mereka kuat, tapi karena mereka bersatu. Seperti sapu lidi satu batang mudah patah, tapi serikatnya sulit ditaklukkan.

Indonesia sedang menunggu. Bukan pahlawan tanpa cacat, tapi rakyat biasa yang tak mau diam. Dan di esai ini, saya memanggilmu pembaca yang sedang memegang ponsel atau membaca di layar untuk menjadi salah satu dari mereka.

Mulailah dari hal kecil:

Baca berita dengan kritis.

Bicarakan fakta di lingkunganmu.

Hadiri rapat warga.

Cari tahu ke mana pajakmu pergi.

Itu adalah bongkar. Perlahan. Tentu Bersama.

Karena pada akhirnya, yang membangun negeri bukanlah mereka yang duduk di istana. Tapi kita, yang setiap pagi memilih untuk tidak diam.

                 Batu, 3 Juni 2026

                       Yani Andoko

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Yani Andoko Penulis | Mantan Anggota DPRD Kota Batu (2004–2014) | Sekretaris Satupena Jawa Timur Lahir di Batu, 1 Maret 1968 Menulis sejak 1980-an di Anita Cemerlang, Aneka, Nona, Gadis, Mode, Surya, Jawa Pos, Kedaulatan Rakyat dan lain-lain Pimpinan redaksi & jurnalis Kopindo Jakarta,(Surya Kompas Group, Tabloid Sinergi Kopindo, Jatim News) Ketua FORWAL (Forum Lingkungan Hidup) Kota Batu (1999–2003) Anggota DPRD Kota Batu 2 periode Mengikuti Seminar Nasional Anti Korupsi di Lemhannas RI (2005) & Kursus Lemhannas RI Angkatan XVIII (2008) S1 Ilmu Hukum, Universitas Wisnu Wardhana (2007) Sekretaris Satupena Jawa Timur (2023–sekarang) Hobi: membaca, fotografi, traveling Menulis adalah caraku berbicara kepada dunia.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...