Melawan Bias Negatif di Otak Kita: Alasan Psikologis di Balik Sulitnya Bersyukur

Oleh: Yasmina Luthfiyya
Dalam hidup ini sehari-hari, sering sekali kita lebih fokus pada kritik daripada pujian. Bisa saja dalam satu hari kita dihujani pujian bertubi tubi, tapi semua itu serasa hilang atau tak terasa manakala ada satu kritikan yang sampai ke telinga kita.
Saat mendengar kritikan kita bisa merasakan hal-hal yang tak nyaman seperti marah, kesal, sedih, dan sebagainya, sehingga hal itu bisa membuat kita terus memikirkan kritikan tersebut selama seharian penuh, hingga berhari-hari. Kenapa hal itu terjadi demikian?
Nah hal tersebut ternyata ditimbulkan oleh sebuah kecenderungan bagi manusia yang bernama Bias Negatif, yaitu ketika seseorang lebih memprioritaskan, mengingat, dan merespons informasi atau pengalaman negatif dibandingkan hal-hal positif dengan intensitas yang sama.
Fenomena ini merupakan bias kognitif yang membuat otak kita lebih fokus pada ancaman atau keburukan untuk tujuan bertahan hidup. Jadi kita mengeluh bukanlah tanda kita orang yang jahat, melainkan sebuah respon refleks.
Zaman dahulu nenek moyang kita bertahan hidup menggunakan kewaspadaan mereka terhadap bahaya dan ancaman binatang buas serta cuaca buruk, menggunakan kewaspadaan mereka sebagai upaya bertahan hidup ke depannya hingga kini kemampuan itu diwariskan untuk anak cucunya.
Kemampuan ini yang kita kenal sebagai Bias Negatif, sebuah kecenderungan ketika orang memprioritasan hal-hal negatif yang melandanya.
Nenek moyang kita sering dihadapi dengan ancaman langsung seperti ancaman hewan buas dan alam di sekitarnya, di masa kini ancaman itu telah bertransformasi menjadi sebuah ancaman yang lebih, dalam bentuk seperti media massa, pencapaian orang lain, kegagalan pribadi dan serta berita buruk lainnya.
Otak kita yang hakikatnya memang sudah memiliki kemampuan mendeteksi hal negatif sehingga hal-hal tersebut membuat kita membacanya sebagai tanda “Bahaya”, sehingga respon mengeluh menjadi semakin aktif setiap harinya.
Jika hal ini terus dibiarkan dan membiarkan otak kita terus bekerja tanpa henti dan terus memikirkan hal tersebut itu bisa berubah menjadi sebuah stres yang berkepanjangan. Mengeluh terus menerus melepaskan hormon kortisol yang membuat kita cemas dan lelah secara mental.
Dalam masalah ini kita tak bisa menanggani hal tersebut secara instan ketika kita menggunakan syukur sebagai upaya dalam mengatasi masalah negative bias. Tidak sama halnya dengan rasa lapar atau kantuk. Bersyukur adalah sebuah keterampilan kognitif (cognitive skill) yang harus dipelajari.
Namun kabar baiknya otak manusia itu juga memiliki kemampuan yang disebut neuroplastisitas—sebuah kemampuan otak untuk mengubah struktur dan “kabel-kabel” jalurnya berdasarkan apa yang sering kita lakukan secara berulang.
Jadi selama bertahun-tahun jika kita sudah membiasakan otak kita untuk sering mengeluh maka jalur saraf penyesalan akan menjadi semakin lancar ibaratkan sebuah jalan tol yang begitu cepat, namun jika sebaliknya kita membiasakan dan melatih diri dalam melatih syukur, kita sedang membiasakan diri membangun jalur baru walaupun bermula dari jalan yang kecil dan sulit, namun lama kelamaan jika terus di tempa dia akan berubah menjadi sebuah jalan tol yang lancar. Sama halnya dengan sisi negatif tadi.
Lantas, bagaimana cara kita “meretas” otak yang sudah telanjur disetel untuk rajin mengeluh ini? Kuncinya bukan dengan memaksa diri memikirkan hal-hal besar seperti memenangkan lotre atau mendapat promosi jabatan setiap hari.
Kita bisa memulainya dengan teknik micro-gratitude, yaitu melatih kesadaran penuh (mindfulness) pada kenyamanan-kenyamanan kecil yang sering luput dari perhatian. Saat kita terjebak macet dan kebetulan mendapatkan lampu hijau, sadari momen itu dan ucapkan terima kasih dalam hati.
Ketika kita sedang sangat haus di siang yang terik, resapi tegukan pertama air dingin tersebut selama beberapa detik. Dengan mengarahkan perhatian secara sengaja pada hal-hal mikro ini, kita sedang melatih “otot” kognitif baru di otak.
Strategi ini jauh lebih realistis dan berdampak jangka panjang bagi kesehatan mental kita di era modern, ketimbang menunggu datangnya kebahagiaan besar yang belum tentu terjadi setiap minggu.
Pada akhirnya, kita harus berdamai dengan kenyataan bahwa mengeluh adalah hal yang manusiawi—itu hanyalah cara kuno otak kita untuk memastikan kita tetap bertahan hidup. Namun, bertahan hidup saja tentu tidak cukup bagi manusia modern yang mendambakan kedamaian mental.
Jika mengeluh adalah respons otomatis dari “setelan pabrik” otak kita, maka bersyukur adalah sebuah keputusan sadar untuk meningkatkan kualitas hidup.
Bersyukur adalah tanda bahwa kita menolak didikte oleh insting purba, dan memilih untuk melatih pikiran melihat kebaikan yang sering kali luput dari perhatian. Jadi, jangan tunggu hidup kita menjadi sempurna baru kita bersyukur; melainkan latihlah otak kita untuk bersyukur, agar kita bisa menyadari bahwa kebahagiaan itu sebenarnya sudah ada di sini, di depan mata kita.
Bio Narasi












