Artikel · Potret Online

Saya Belum Sampai, Tetapi Saya Sudah Berjalan Jauh

Penulis Permata Fonna
Agustus 31, 2026
7 menit baca 13
WhatsApp Image 2026-08-30 at 18.07.46
Foto / IlustrasiSaya Belum Sampai, Tetapi Saya Sudah Berjalan Jauh
Disunting Oleh

Oleh: Permata Fonna

Hari ini, ketika gaun wisuda sudah kembali tersimpan rapi dan ijazah magister dengan predikat cumlaude berada di tangan, saya ingin berhenti sejenak untuk menarik napas panjang. Ada rasa lega, bahagia, dan syukur yang sulit dijelaskan. Bukan karena perjalanan saya telah selesai, tetapi karena satu tahapan yang dahulu hanya berupa cita-cita akhirnya berhasil saya lewati. Bagi saya, wisuda bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah kesempatan untuk melihat kembali perjalanan yang telah membawa saya sampai di titik ini.

Saya berasal dari keluarga sederhana. Sejak kecil saya belajar bahwa pendidikan bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya. Pendidikan harus diperjuangkan. Mimpi tidak jatuh dari langit. Ia harus ditenun sedikit demi sedikit dengan kesabaran, pengorbanan, doa, dan kerja keras. Karena itu, perjalanan dari sekolah dasar, sekolah menengah, sarjana, hingga akhirnya menyelesaikan pendidikan magister bukan hanya perjalanan akademik. Di dalamnya ada banyak hal yang tidak pernah tercatat dalam transkrip nilai: ada lelah, air mata, keraguan, kegagalan kecil, tetapi juga ada keberanian untuk terus mencoba.

Sebagai mahasiswa, saya tentu ingin memberikan perhatian terbaik kepada pendidikan. Namun kehidupan tidak selalu memberi kita kesempatan untuk hanya menjadi mahasiswa. Di sela-sela kuliah dan tugas akademik, saya juga berusaha membantu keluarga dengan apa yang saya mampu. Tidak selalu besar dan tidak selalu terlihat, tetapi saya percaya setiap kontribusi memiliki arti ketika diberikan dengan tulus. Ada hari-hari ketika pagi dan siang saya habiskan di ruang kelas, perpustakaan, atau mengerjakan tugas. Ketika malam tiba dan tubuh sebenarnya sudah meminta istirahat, saya kembali membuka buku, membaca, menulis, mengerjakan penelitian, dan berhadapan dengan tesis yang rasanya tidak pernah benar-benar selesai.

Tidak semua malam terasa heroik. Sebagian hanya terasa melelahkan. Ada malam ketika saya bertanya kepada diri sendiri, “Sebenarnya, sampai kapan saya harus sekuat ini?” Ada pula saat ketika saya bertanya apakah semua perjuangan ini benar-benar akan membawa saya ke tempat yang saya bayangkan. Sekarang saya memahami bahwa pertanyaan seperti itu tidak membuat seseorang menjadi lemah. Kita boleh lelah. Kita boleh takut. Kita boleh menangis. Bahkan kita boleh berhenti sejenak untuk mengumpulkan tenaga. Yang penting, kita tidak kehilangan keberanian untuk melanjutkan perjalanan.

Bagi saya, pendidikan bukan semata-mata tentang memperoleh gelar. Saya ingin membuktikan kepada diri sendiri bahwa perempuan dari keluarga sederhana juga berhak memiliki cita-cita yang tinggi. Bahwa perempuan dari daerah tidak harus merasa kecil ketika memasuki dunia pengetahuan yang lebih luas. Saya ingin ilmu yang saya peroleh tidak berhenti di ruang kelas, perpustakaan, atau selembar ijazah, tetapi suatu hari dapat menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa.

Karena itu, selama menjalani pendidikan, saya juga berusaha mempersiapkan diri untuk kemungkinan yang lebih luas. Salah satunya melalui tes kemampuan bahasa Inggris IELTS. Alhamdulillah, saya memperoleh skor 7,5. Bagi saya, skor itu bukan sekadar angka pada sebuah sertifikat. Ia menjadi bukti bahwa saya pernah berani menguji kemampuan diri dan mempersiapkan diri untuk memasuki ruang akademik yang lebih luas.

Saya pernah memiliki cita-cita untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Saya membayangkan kemungkinan melanjutkan ke jenjang doktoral, terutama program berbasis penelitian atau by research, di negara-negara Eropa maupun Commonwealth. Ada program yang pernah saya persiapkan dan harapkan, tetapi ternyata belum terlaksana. Tentu ada rasa kecewa. Namun saya belajar bahwa tidak semua rencana yang belum terwujud berarti sia-sia.

Saya tetap membawa pulang sesuatu dari proses itu: pengalaman, sertifikat IELTS, pematangan diri, keberanian untuk mengukur kemampuan, dan keyakinan bahwa kesempatan untuk belajar lebih jauh selalu mungkin datang dalam bentuk yang berbeda. Mungkin bukan sekarang. Mungkin melalui pintu yang lain. Karena itu, cita-cita untuk melanjutkan pendidikan doktoral tetap saya simpan sebagai bagian dari perjalanan saya.

Sambil mempersiapkan diri untuk kesempatan berikutnya, saya juga ingin membuka diri terhadap berbagai kemungkinan karier. Dunia akademik dan penelitian tetap menjadi bidang yang saya cintai. Namun saya juga terbuka untuk belajar dan bekerja di industri, perusahaan, lembaga, maupun bidang profesional lainnya. Saya tidak ingin membatasi masa depan hanya karena hari ini saya belum mengetahui persis bentuknya.

Saya mulai memahami bahwa jati diri profesional tidak selalu ditemukan sebelum kita memasuki dunia kerja. Kadang-kadang kita justru mengenal diri sendiri melalui pekerjaan, pengalaman, keberhasilan, kegagalan, penolakan, dan pertemuan dengan banyak orang. Karena itu, saya ingin memasuki dunia kerja bukan dengan perasaan bahwa saya sudah mengetahui semuanya, tetapi dengan kesiapan untuk terus belajar.

Sebagai perempuan, saya juga menyadari bahwa masa depan tidak hanya berbicara tentang pekerjaan dan pendidikan. Ada kehidupan personal yang juga perlu dipersiapkan. Ada keluarga, orang tua, kehidupan rumah tangga, dan harapan untuk suatu hari dipertemukan dengan pasangan hidup yang sejalan. Saya berharap kelak Tuhan mempertemukan saya dengan seseorang yang tidak melihat cita-cita sebagai ancaman, tetapi sebagai bagian dari diri yang perlu dihargai.

Saya ingin membangun keluarga yang memungkinkan dua orang tumbuh bersama. Karier dan keluarga, bagi saya, bukan dua hal yang harus saling meniadakan. Keduanya membutuhkan komunikasi, pengertian, kompromi, dan dukungan. Saya percaya seorang perempuan tidak harus memilih antara menjadi perempuan yang berpendidikan dan menjadi perempuan yang memiliki keluarga. Yang perlu diperjuangkan adalah bagaimana keduanya dapat dijalani dengan kesadaran dan tanggung jawab.

Pendidikan juga tidak membuat saya ingin meninggalkan akar. Justru pendidikan membuat saya semakin memahami dari mana saya berasal dan untuk apa saya melangkah. Saya membawa keluarga saya dalam perjalanan ini. Saya membawa pengalaman hidup saya. Saya membawa kampung halaman saya. Dan saya membawa harapan bahwa ilmu yang saya peroleh suatu hari dapat kembali menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Karena itu, ketika hari ini saya berdiri mengenakan toga, saya tidak merasa telah mencapai puncak. Saya justru merasa sedang berdiri di kaki sebuah gunung yang baru. Di belakang saya ada perjalanan panjang yang telah saya lewati. Di depan saya ada jalan yang lebih luas dengan berbagai kemungkinan.

Mungkin saya akan menemukan kesempatan di dunia akademik. Mungkin saya akan melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Mungkin saya akan bekerja di sebuah perusahaan atau industri. Mungkin jalan hidup membawa saya kepada sesuatu yang hari ini belum pernah saya bayangkan. Apa pun jalannya, saya ingin datang dengan bekal yang telah saya siapkan.

Gelar magister bukan jaminan bahwa semua pintu akan terbuka. Predikat cumlaude bukan tiket otomatis menuju pekerjaan impian. Skor IELTS 7,5 pun bukan jaminan bahwa kesempatan studi ke luar negeri akan langsung datang. Semua itu adalah bekal. Dan saya percaya, bekal yang baik membuat kita lebih siap ketika kesempatan akhirnya datang.

Saya juga belajar untuk tidak terlalu membandingkan perjalanan saya dengan orang lain. Tidak semua orang memulai dari garis yang sama. Ada yang mendapatkan fasilitas lengkap, ada yang harus bekerja sambil belajar. Ada yang memperoleh dukungan penuh, ada pula yang harus belajar menguatkan dirinya sendiri. Ada yang jalannya lurus, ada yang berkali-kali harus berbelok.

Karena itu, kepada perempuan-perempuan muda yang sedang berjuang mengejar pendidikan, membangun karier, membantu keluarga, atau sedang mencari arah hidup, saya ingin mengatakan: jangan merasa kecil hanya karena perjalananmu berbeda. Jangan menganggap langkahmu tidak berarti hanya karena belum sampai pada tujuan yang kamu bayangkan.

Kadang-kadang kita terlalu sibuk melihat seberapa jauh orang lain telah berjalan, sampai lupa menghargai jarak yang sudah kita tempuh sendiri.

Saya sendiri belum sampai. Saya belum tahu dengan pasti akan menjadi apa beberapa tahun dari sekarang. Tetapi ketika saya menoleh ke belakang, saya tahu satu hal: saya sudah berjalan jauh.

Dan mungkin itulah yang perlu kita rayakan.

Bukan hanya gelarnya. Bukan hanya predikat cumlaude-nya. Bukan hanya sertifikat IELTS 7,5-nya. Tetapi keberanian untuk terus berjalan ketika keadaan tidak selalu mudah. Keberanian untuk mencoba lagi ketika satu kesempatan tidak terlaksana. Keberanian untuk tetap bermimpi tanpa kehilangan pijakan pada kenyataan.

Saya ingin hidup saya kelak tidak hanya diukur dari jabatan atau gelar yang saya miliki. Saya ingin menjadi seseorang yang bermanfaat. Jika kesempatan membawa saya ke dunia akademik, saya ingin ilmu saya berguna. Jika saya menemukan jalan di dunia industri atau perusahaan, saya ingin pekerjaan saya memberi kontribusi. Jika suatu hari saya kembali belajar, saya ingin pengetahuan yang saya peroleh menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.

Pada akhirnya, saya ingin perjalanan ini memiliki arti—bagi diri saya, bagi keluarga, bagi masyarakat, dan bagi bangsa yang menjadi tempat saya tumbuh.

Hari ini saya menutup satu bab dengan rasa syukur. Besok saya akan membuka bab yang baru. Saya tidak membawa seluruh jawaban tentang masa depan, tetapi saya membawa ilmu, pengalaman, doa, dan keberanian untuk mencoba.

Kepada setiap perempuan yang sedang berjuang, saya ingin mengatakan: mimpimu tidak terlalu tinggi, langkahmu tidak terlalu kecil, dan perjalananmu tidak sia-sia.

Kita tidak harus memiliki seluruh peta untuk berani memulai perjalanan. Kita tidak harus mengetahui seluruh jawaban untuk terus bertumbuh.

Saya belum sampai.

Tetapi saya sudah berjalan jauh.

Dan dengan rasa syukur, rendah hati, serta kepala tegak, saya siap melanjutkan perjalanan itu.

Karena perjalanan saya belum selesai. Saya baru saja mulai.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Permata Fonna
Media Perempuan Kritis dan Cerdas
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...