Mengantar Anak Adalah Kebahagiaan

Oleh : Teuku Masrizar
Muhammad Amin orang sukses di ibukota, dia menjabat direktur pada salah satu Kementrian. Karirnya moncer karena kegigihan dan disiplin yang terbangun sejak mendapatkan didikan dari keluarganya yang sederhana.
Amin lahir di salah satu kampung di Aceh jauh dari ibukota kecamatan dan kabupaten apalagi dari ibukota negara. Pak Ilyas ayahnya hanya seorang pedagang sayur, pagi ke pasar menjual sayur, siangnya kembali ke rumah dan sorenya bekerja di kebun. Itulah rutinitas Pak Ilyas dalam memenuhi kehidupan keluarga dengan tanggungan istri dan tiga anak.
Muhammad Amin dan Muhammad Syukur sekolah di SD Inpres kampung sebelah dengan bangunan sederhana dan fasilitas minim, guru-pun hanya empat orang. Sementara Darwiya adik bungsunya masih usia empat tahun tinggal di rumah bersama ibunya dan belum bersekolah, karena kampungnya belum ada PAUD, TK/RA.
Setiap hari Pak Ilyas membawa sayur dagangannya, sekaligus mengantarkan Amin dan Syukur ke sekolah. Sepeda onthel tua yang selalu terawat dan rapi masih tangguh membawa sayuran dan kedua anaknya. Syukur di depan telah disiapkan dudukan dan pada bagian bawah ditempatkan sayuran, sementara Amin di jok belakang langsung menghadap punggung ayahnya, di bagian belakang Amin diikat sayuran.
Setiap harinya saat di depan sekolah pak Ilyas turun dari sepedanya dan membimbing kedua anaknya sampai di gerbang sekolah, serta menyampaikan pesan “rajin-rajin belajar nak”.
20 tahun berlalu, Muhammad Amin telah sukses dalam dunia pemerintahan sementara Muhammad Syukur menjadi pengusaha sukses dan si Bunsu Darwiya sedang menyelesaikan pendidikan dokter di perguruan tinggi ternama.
Kegigihan, kemauan keras didukung disiplin telah menjadikan anak-anak Pak Ilyas sukses dalam pendidikan. Dalam benak Muhammad Amin dan adik-adiknya “rajin-rajin belajar” yang setiap pagi dibisikkan di telinga ternyata menjadi motivasi dan inspirasi untuk terus belajar.
Belum lagi kala itu bila dibandingkan dengan teman-temannya yang diantar dan dijemput sekolah oleh orang tua mereka dengan kenderaan bermotor, jauh beda. Tapi tidak menyurutkan niat belajar dan telah menjadi alasan kuat untuk terus belajar untuk merubah hidup menjadi lebih baik.
Ternyata manfaat mengantar dan menjemput anak ke sekolah tidak saja untuk memastikan anak tidak keluyuran dan bolos dari sekolah, namun serta merta memberikan keyakinan, kesungguhan, motivasi serta semangat bagi anak untuk benar-benar serius dalam belajar.
Kesempatan mengantar dan menjemput anak sekolah hanya dapat dilakukan dalam beberapa tahun saja dan tidak akan terulang, hanya pada usia TK sampai dengan SMP saja. Biasanya usia SMA dan telah kuliah anak tidak bersedia untuk diantar dan dijemput, ada rasa malu dan dianggap tidak mandiri.
Mengantar dan menjemput anak sekolah adalah kebahagian bagi setiap ayah. Tidak semua ayah mendapatkan kebahagian ini. Terkadang ayah bekerja jauh dari rumah sehingga tidak sempat melakukannya, pun ayah terlalu sibuk dengan pekerjaannya di kantor atau tempat kerja sehingga abai dengan anaknya. Ironinya bila tidak ada anak maka kebahagian itu tidak pernah dirasakan.
Selamat mengantarkan anak menuju masa depan yang cerah.###











