Esai · Potret Online

NYAK SANDANG: Lelaki Tua Penjual Sawah Itu

Mei 13, 2026
4 menit baca 12
IMG_1157
Foto / IlustrasiNYAK SANDANG: Lelaki Tua Penjual Sawah Itu
Disunting Oleh

Oleh: Ayah Ilham

Pagi di Lamno selalu datang pelan-pelan. Matahari naik dari balik bukit, menyentuh pucuk kelapa, lalu turun ke halaman rumah-rumah kayu yang masih menyimpan bau embun. Di sebuah rumah sederhana di Gampong Lhuet, seorang lelaki tua terbaring tenang. Nafasnya tipis. Matanya sesekali terbuka, memandang langit-langit yang mungkin baginya sudah penuh kenangan.

Namanya ‘Nyak Sandang’.

Orang kampung memanggilnya “Abu”. Anak-anak muda mengenalnya sebagai lelaki tua yang sering duduk diam di teras masjid. Sebagian orang luar mengenalnya sebagai penyumbang pesawat pertama Indonesia. Tetapi bagi dirinya sendiri, ia mungkin hanya merasa sebagai orang biasa yang pernah melakukan apa yang seharusnya dilakukan.

Usianya seratus tahun.

Ia telah melihat terlalu banyak hal. Belanda datang. Jepang datang. Indonesia merdeka. Konflik datang. Damai datang. Jalan aspal masuk kampung. Telepon genggam sampai ke tangan cucu-cucunya. Dunia berubah berkali-kali, tetapi Nyak Sandang tetap sederhana seperti dulu.

Pagi itu, 7 April 2026, ia pergi diam-diam.

Tidak ada dentuman meriam. Tidak ada sirene panjang. Hanya suara isak keluarga dan bisik takbir dari tetangga yang berdatangan. Sejarah sering memang pergi tanpa upacara.

Padahal puluhan tahun sebelumnya, lelaki tua itu pernah membantu negeri ini terbang.

Tahun 1948, republik masih muda. Uangnya sedikit. Musuhnya banyak. Masa depannya samar. Indonesia belum punya kekuatan udara yang cukup. Pesawat bukan sekadar alat transportasi; ia adalah lambang harga diri sebuah negara yang ingin diakui dunia.

Di Aceh, Bung Karno datang meminta dukungan. Rakyat berkumpul. Ada yang membawa emas. Ada yang membawa uang. Ada yang membawa hasil kebun. Ada yang membawa doa.

Di antara kerumunan itu berdirilah seorang pemuda 23 tahun bernama Nyak Sandang.

Ia pulang ke rumah dengan langkah cepat, mengambil sehelai surat tanah, dan bergegas menjualnya ke tuan tanah.

Sawah itu bukan sekadar tanah. Di sanalah padi tumbuh. Di sanalah masa depan keluarga bergantung. Sawah adalah tabungan orang kampung. Sawah adalah harga diri.

Namun tidak bagi Nyak Sandang “Kalau untuk Indonesia, ia kuat apa saja.”

Maka sawah itu pun dijual. Emas ikut dilepas. Harta yang dikumpulkan susah payah berpindah tangan demi sesuatu yang bahkan belum bisa mereka lihat hasilnya.

Beberapa orang kampung menyebutnya nekat. Sebagian menyebutnya gila.

Tetapi dari kegilaan semacam itulah sejarah kadang lahir.

Dana dari rakyat Aceh kemudian membantu pembelian pesawat ‘Seulawah RI-001″. Dari sana, cerita besar dimulai. Kelak nama Garuda Indonesia tumbuh dari jejak-jejak pengorbanan itu.

Puluhan tahun berlalu.

Indonesia makin tinggi terbang. Pesawat hilir mudik di bandara-bandara modern. Orang bepergian ke Jakarta hanya hitungan jam. Anak-anak muda memesan tiket lewat telepon genggam.

Tetapi lelaki yang pernah menjual sawah untuk pesawat itu hidup biasa-biasa saja. Tidak kaya. Tidak ramai diberitakan. Tidak sibuk meminta penghargaan.

Ia tinggal di kampung. Menikmati hari tua. Kadang sakit-sakitan. Kadang duduk di teras menatap jalan.

Seolah sejarah besar itu tak pernah terjadi.

Sampai suatu hari negara datang menjemputnya.

Di Istana Negara, Presiden Prabowo Subianto menyematkan tanda jasa di dada lelaki tua itu. Presiden berlutut agar sejajar dengan kursi rodanya. Kamera menangkap momen haru itu. Banyak orang meneteskan air mata.

Negara akhirnya ingat.

Bahwa ada rakyat kecil yang dulu rela menjadi besar ketika negara membutuhkan.


Kini Nyak Sandang telah tiada.

Siang itu, jenazahnya diusung ke pemakaman kampung. Tanah merah dibuka perlahan. Takbir berkumandang. Orang-orang berdiri hening. Beberapa anak kecil memandang bingung, belum tahu siapa yang sedang mereka antar.

Mungkin suatu hari mereka akan tahu.

Bahwa di bawah tanah itu berbaring seorang lelaki yang pernah menjual sawah agar bangsanya punya sayap.

Bahwa pahlawan tidak selalu berseragam. Tidak selalu berpidato. Tidak selalu namanya ada di buku pelajaran.

Kadang pahlawan hanya petani kampung yang berani kehilangan miliknya demi masa depan orang lain.

Sore turun di Lamno. Angin laut berembus lagi. Daun kelapa bergerak pelan. Di langit jauh, sebuah pesawat melintas, suaranya samar.

Entah mengapa, orang-orang yang menengadah ke atas mendadak teringat satu nama.

Nyak Sandang.

Lelaki tua penjual sawah itu.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Tgk. Ilham Misal, MA (Ayah Ilham), Merupakan Dosen STAI Tapaktuan, dan Warga Gampong Ujung Batee (Terbangan Cut), Kemukiman Terbangan, Kecamatan Pasie Raja, Aceh Selatan.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...