Artikel · Potret Online

Pariwisata Budaya, Ekowisata, dan Tantangan Keberlanjutan dalam Pembangunan Pariwisata Modern

Penulis  Novita Sari Yahya
Mei 31, 2026
7 menit baca 2
c16a2f10-82d0-4ab2-b575-89ad23869962
Foto / IlustrasiPariwisata Budaya, Ekowisata, dan Tantangan Keberlanjutan dalam Pembangunan Pariwisata Modern


Oleh: Novita Sari Yahya.

Konsep pariwisata budaya (cultural tourism) selama beberapa dekade menjadi salah satu pendekatan penting dalam industri pariwisata global. Pada dasarnya, pariwisata budaya merupakan kegiatan wisata yang menjadikan unsur budaya sebagai daya tarik utama perjalanan.

Wisatawan melakukan perjalanan untuk mengenal sejarah, tradisi, seni, adat istiadat, arsitektur, kuliner, hingga kehidupan sosial masyarakat lokal. Menurut United Nations World Tourism Organization (UNWTO), pariwisata budaya memberikan kesempatan bagi wisatawan untuk mempelajari, mengalami, dan mengapresiasi warisan budaya material maupun nonmaterial suatu masyarakat.

Secara teoritis, konsep tersebut memiliki tujuan yang positif karena dapat memperkenalkan identitas budaya lokal kepada masyarakat internasional. Selain itu, pariwisata budaya juga dinilai mampu meningkatkan ekonomi masyarakat melalui sektor jasa, kerajinan tradisional, pertunjukan seni, kuliner, serta pengembangan desa wisata. Dalam banyak negara berkembang, termasuk Indonesia, pariwisata budaya bahkan dipandang sebagai instrumen pembangunan daerah dan sumber pendapatan ekonomi masyarakat.

Namun, dalam praktiknya, perkembangan pariwisata budaya juga memunculkan berbagai kritik. Sejumlah akademisi dan peneliti sosial menilai bahwa industri pariwisata modern sering kali mengubah budaya menjadi komoditas ekonomi.

Tradisi dan ritual yang awalnya memiliki makna spiritual maupun sosial kemudian dipertontonkan secara berulang untuk memenuhi kebutuhan pasar wisata. Dalam kondisi seperti ini, budaya berisiko kehilangan makna autentiknya karena lebih diarahkan untuk konsumsi wisatawan dibanding kebutuhan masyarakat lokal sendiri.

Meski demikian, komodifikasi budaya tidak selalu dipandang sepenuhnya negatif. Dalam beberapa kasus, aktivitas pariwisata justru membantu pelestarian seni tradisional, meningkatkan kebanggaan identitas lokal, dan memberikan sumber pendapatan bagi masyarakat adat. Oleh karena itu, persoalan utama bukan terletak pada keberadaan pariwisata budaya itu sendiri, melainkan pada bagaimana pengelolaannya dilakukan secara etis dan berkelanjutan.

Kritik terhadap pariwisata budaya menjadi semakin relevan ketika pariwisata berkembang dalam pola pariwisata massal (mass tourism). Model ini biasanya berorientasi pada peningkatan jumlah wisatawan sebanyak mungkin demi pertumbuhan ekonomi jangka pendek.

Akibatnya, banyak wilayah wisata mengalami tekanan sosial dan ekologis. Desa adat berubah menjadi kawasan komersial, harga tanah meningkat, masyarakat lokal kehilangan ruang hidup, dan lingkungan mengalami kerusakan akibat pembangunan yang tidak terkendali.

Fenomena tersebut dapat dilihat di berbagai destinasi wisata dunia maupun di Indonesia. Di sejumlah daerah wisata populer terjadi peningkatan produksi sampah, kemacetan, krisis air bersih, kerusakan ekosistem, serta perubahan pola kehidupan masyarakat lokal akibat tekanan industri wisata. Dalam beberapa kasus, masyarakat adat bahkan kehilangan kontrol terhadap warisan budaya mereka sendiri karena pengelolaan pariwisata lebih banyak dikuasai investor dan industri besar.

Karena itu, berkembang pemikiran bahwa pembangunan pariwisata seharusnya tidak hanya berbasis budaya, tetapi juga harus berbasis keberlanjutan (sustainable tourism). Konsep keberlanjutan menekankan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, pelestarian lingkungan, perlindungan budaya, dan kesejahteraan sosial masyarakat lokal.
Dalam pendekatan ini, keberhasilan pariwisata tidak hanya diukur dari jumlah wisatawan atau besarnya devisa, tetapi juga dari kemampuan menjaga kualitas lingkungan dan keberlangsungan budaya masyarakat.

Salah satu negara yang sering dijadikan contoh dalam pembangunan pariwisata berkelanjutan adalah Bhutan. Negara kecil di kawasan Himalaya tersebut dikenal menerapkan kebijakan High Value, Low Volume Tourism. Pemerintah Bhutan membatasi jumlah wisatawan dan menerapkan biaya kunjungan yang relatif tinggi agar tekanan terhadap lingkungan dan budaya lokal dapat dikendalikan.

Pendekatan Bhutan menarik perhatian dunia karena berbeda dengan logika pariwisata massal yang mengejar jumlah pengunjung sebanyak mungkin. Bhutan justru lebih memilih jumlah wisatawan terbatas dengan kualitas kunjungan yang lebih tinggi. Kebijakan tersebut berkaitan dengan filosofi pembangunan negara yang dikenal sebagai Gross National Happiness (GNH).

Dalam konsep GNH, pembangunan tidak hanya diukur berdasarkan pertumbuhan ekonomi seperti Produk Domestik Bruto (Gross Domestic Product/GDP), tetapi juga mempertimbangkan kesejahteraan psikologis masyarakat, pelestarian budaya, perlindungan lingkungan, dan kualitas kehidupan sosial.

Dalam konteks pariwisata, pendekatan Bhutan menunjukkan bahwa budaya dan alam dipandang sebagai warisan yang harus dijaga, bukan sekadar sumber eksploitasi ekonomi. Kebijakan tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan pariwisata dapat dirancang secara lebih etis dan terkendali.

Meski demikian, model Bhutan juga bukan tanpa tantangan. Pembatasan wisatawan membuat sektor pariwisata tidak berkembang secara masif seperti negara lain. Setelah pandemi global, Bhutan menghadapi penurunan jumlah wisatawan dan tantangan ekonomi domestik.

Selain itu, sebagian generasi muda Bhutan mulai mengalami perubahan sosial akibat globalisasi dan migrasi tenaga kerja. Hal ini menunjukkan bahwa konsep keberlanjutan tetap memiliki dinamika dan tantangan tersendiri.

Di sisi lain, berkembang pula konsep ekowisata (ecotourism) yang lebih menitikberatkan pada pelestarian lingkungan dan pendidikan ekologis. Menurut The International Ecotourism Society (TIES), ekowisata adalah perjalanan yang bertanggung jawab terhadap kawasan alam dengan tujuan menjaga kelestarian lingkungan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Dalam konsep ini, wisatawan tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga memahami pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem.

Namun demikian, tidak semua wisata alam dapat disebut sebagai ekowisata. Ekowisata memiliki prinsip khusus seperti konservasi lingkungan, edukasi ekologis, partisipasi masyarakat lokal, dan pengelolaan yang bertanggung jawab. Dalam praktiknya, terdapat pula fenomena greenwashing, yaitu penggunaan label “eco” hanya sebagai strategi pemasaran tanpa penerapan prinsip konservasi yang nyata.

Banyak pihak menilai bahwa ekowisata memiliki hubungan yang lebih jelas dengan konsep keberlanjutan dibanding pariwisata budaya konvensional karena secara eksplisit memasukkan unsur konservasi lingkungan dan partisipasi masyarakat sebagai prinsip utama. Akan tetapi, pariwisata budaya dan ekowisata sebenarnya dapat saling melengkapi. Hubungan masyarakat dengan alam sering kali dibentuk oleh tradisi, nilai spiritual, dan pengetahuan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan model pariwisata berkelanjutan berbasis budaya dan lingkungan. Keragaman etnis, bahasa, seni tradisional, kuliner, serta kekayaan alam merupakan modal penting yang tidak dimiliki banyak negara lain. Desa adat, kawasan konservasi, hutan tropis, pegunungan, dan wilayah pesisir dapat menjadi bagian dari pembangunan wisata yang berkelanjutan apabila dikelola secara hati-hati.

Namun, tantangan terbesar Indonesia adalah bagaimana membangun sistem pariwisata yang tidak hanya mengejar keuntungan ekonomi jangka pendek. Banyak proyek wisata masih berorientasi pada investasi besar, pembangunan infrastruktur masif, dan peningkatan jumlah wisatawan tanpa mempertimbangkan daya dukung lingkungan maupun kesiapan sosial masyarakat lokal.

Karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih kritis dan seimbang dalam memahami pariwisata budaya. Budaya tidak boleh diposisikan hanya sebagai objek hiburan atau komoditas ekonomi semata. Budaya merupakan identitas sosial, memori sejarah, dan bagian penting dari kehidupan masyarakat yang memiliki nilai filosofis mendalam. Jika budaya hanya dipasarkan demi keuntungan industri wisata, maka terdapat risiko degradasi makna dan hilangnya autentisitas tradisi lokal.

Dalam pembangunan modern, ukuran keberhasilan pariwisata seharusnya tidak hanya terletak pada jumlah wisatawan, pendapatan daerah, atau pertumbuhan investasi. Keberhasilan juga harus dilihat dari kualitas hidup masyarakat lokal, keberlanjutan lingkungan, pelestarian budaya, serta kemampuan generasi mendatang untuk tetap menikmati warisan sosial maupun ekologis yang sama.

Dengan demikian, kritik terhadap pariwisata budaya sebagai bentuk eksploitasi budaya dan alam memiliki dasar yang cukup kuat. Akan tetapi, solusi yang dibutuhkan bukanlah menolak pariwisata budaya sepenuhnya, melainkan mengembangkan model pariwisata yang lebih etis, berkelanjutan, dan berorientasi pada keseimbangan antara ekonomi, lingkungan, budaya, serta martabat masyarakat lokal. Dalam konteks tersebut, pendekatan keberlanjutan seperti yang diterapkan Bhutan dapat menjadi inspirasi penting bagi masa depan pembangunan pariwisata global maupun Indonesia.

Daftar Referensi.

Department of Tourism Bhutan
Department of Tourism Bhutan. (n.d.). High value, low volume tourism policy. Government of Bhutan. Diakses pada 29 Mei 2026, dari Department of Tourism – Ministry of Foreign Affairs and External Trade atau melalui laman resmi pariwisata di Tourism Policy of Bhutan. [1]

The International Ecotourism Society
The International Ecotourism Society. (2015). What is ecotourism? Diakses dari The International Ecotourism Society (TIES).

United Nations Environment Programme (UNEP)
United Nations Environment Programme. (2011). Towards a green economy: Pathways to sustainable development and poverty eradication. UNEP. Diunduh dari UN Environment Programme Report.

United Nations World Tourism Organization (UNWTO)
United Nations World Tourism Organization. (2018). Tourism and the sustainable development goals: Journey to 2030. UNWTO. Diakses dari laman resmi UN Tourism Publications atau versi dokumen lengkap di UNDP Publications.

UNESCO World Heritage Centre
UNESCO World Heritage Centre. (n.d.). World Heritage and Sustainable Tourism Programme. UNESCO. Diakses pada 29 Mei 2026, dari UNESCO World Heritage Centre.

Ura, K., Alkire, S., Zangmo, T., & Wangdi, K.
Ura, K., Alkire, S., Zangmo, T., & Wangdi, K. (2012). An extensive analysis of GNH index. Centre for Bhutan Studies. Diunduh dalam format PDF dari Oxford Poverty and Human Development Initiative (OPHI).

World Bank
World Bank. (2017). Tourism for development: 20 reasons sustainable tourism counts for development. World Bank Group. Diakses dari World Bank Tourism Topic.

Buku Cetak (Smith, 2016 & Weaver, 2008)

Smith, M. K. (2016). Issues in cultural tourism studies (3rd ed.). Routledge. (Buku fisik berbayar, informasi detail di Routledge).

Weaver, D. B. (2008). Ecotourism (2nd ed.). John Wiley & Sons. (Buku fisik akademis, informasi di Wiley).

Suara yang meredup pencipta lagu Gede Jerson

Lagu Pria dari tanah Zamrud .
Pencipta lagu Gede Jerson
https://youtu.be/gIL8vH_8DD8?si=klqE9IFgQ4QO_P6q

Lagu berdasarkan puisi karya Novita Sari Yahya

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Novita sari yahya penulis dan peneliti yang bergabung di Filantropi kesehatan PKMK FKKMK UGM dan Filantropi Indone
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...