Artikel · Potret Online

Perlawanan Tawa Dan Kebodohan Samin 

Penulis  Yani Andoko
Agustus 22, 2026
8 menit baca 5
IMG_2642
Foto / IlustrasiPerlawanan Tawa Dan Kebodohan Samin 

Oleh Yani Andoko 

Kami tidak bayar pajak. Tanah ini milik kami.”

Kalimat itu mungkin terdengar biasa hari ini. Namun, lebih dari seabad lalu, di tanah tandus Blora, perkataan itu adalah sebuah deklarasi perang tanpa pedang, tanpa bedil, hanya dengan tekad dan tawa.

Terlahir Sebagai Ningrat, Memilih Jadi Wong Cilik

Samin Surosentiko bukanlah petani sembarangan. Ia lahir dengan nama Raden Kohar pada 1859, putra dari Raden Surowijaya, seorang bangsawan keturunan Bupati Sumoroto (kini Tulungagung) yang berkuasa pada 1802–1826 . Darah biru mengalir dalam nadinya, tapi justru itulah yang membuatnya malu.

Sang ayah, Raden Surowijaya yang kemudian dikenal sebagai Samin Sepuh telah lebih dulu memilih jalan merakyat. Ia membenci kebijakan kolonial yang eksploitatif dan memilih menjalani hidup sebagai wong cilik . Samin meneruskan semangat itu. Ia membuang gelar kebangsawanannya dan memilih nama “Samin” yang bernafaskan rakyat kecil . 

Ini bukan sekadar ganti nama. Ini adalah pernyataan politik: aku memilih berada di sisi rakyat.

Di saat keluarganya menikmati kemewahan, rakyat di sekitarnya merana di bawah cengkeraman pajak kolonial. Samin yang memiliki sawah 3 bau (sekitar 2,1 hektare), ladang 1 bau, dan 6 ekor sapi tergolong petani gogol petani yang punya tanah sendiri dan wajib membayar pajak . 

Namun, ia melihat sendiri bagaimana pajak itu menghancurkan hidup tetangga-tetangganya.

Ketika Perlawanan Berwujud Tawa Dan Kebodohan

Di saat perlawanan fisik masih menjadi satu-satunya cara melawan penjajah, Samin memilih jalur lain. Pada 1890, ia mulai menyebarkan ajarannya di Klopoduwur, Blora . Pesannya sederhana: tolak pajak, tolak kerja paksa, tolak segala peraturan kolonial yang tidak adil .

Namun, yang membuat Belanda frustrasi hingga menyebut mereka “gila” adalah metode perlawanannya. Ini bukan perang dengan pedang dan meriam, melainkan perang dengan jawaban-jawaban yang membuat lawan kelimpungan.

Pura-pura Bodoh yang Cerdas

Saat petugas pajak bertanya, “Berapa luas tanahmu?” mereka menjawab, “Lima, tapi sering pindah.” Saat ditanya umur, mereka menjawab, “Umurku mung siji digawa sak lawase” (umurku cuma satu dibawa selamanya) . Data administratif kolonial kacau balau. Petugas pulang dengan tangan hampa dan laporan yang membuat atasan mereka menganggap mereka bodoh atau korup.

Bahasa yang Membalikkan Tuduhan

Samin dan pengikutnya menolak menggunakan tingkatan bahasa Jawa yang hierarkis. Mereka konsisten memakai bahasa Jawa ngoko (tingkat bahasa paling kasar) kepada siapa pun, termasuk pejabat Belanda . Ini adalah pelanggaran besar terhadap tatanan feodal Jawa, sekaligus pernyataan: kita semua setara.

Saat ditanya kenapa tidak bayar pajak, Samin menjawab dengan logika sederhana yang membalikkan tuduhan: “Tanah ini bukan milik Belanda, jadi kenapa harus bayar?” . Saat diminta mengakui kekuasaan kolonial, mereka hanya membalas senyum dan diam atau menjawab dengan kalimat filosofis yang membuat petugas frustrasi .

Sikap Yang Tak Bisa Dihukum

Seorang pejabat Belanda pernah melapor dengan putus asa: “Mereka menjawab segala pertanyaan dengan tawa dan kebodohan yang dibuat-buat. Kami tidak bisa menghukum orang karena tertawa, tapi kami juga tidak bisa memaksa mereka membayar. Ini lebih buruk dari perang.” 

Pramugi Prawiro Wijoyo, masyarakat Sedulur Sikep, menjelaskan alasannya dengan lugas: “Kami kalau melawan enggak pakai kekerasan, karena cara itu selalu gagal seperti yang dilakukan Diponegoro sebelum Ki Samin. Cara kami cukup kalau ditanya cukup mbulet (ketus), enggak mau bayar pajak, dan enggak mau kerja bakti, dan enggak perlu takut.” 

Inilah yang disebut perlawanan melalui keteguhan hati, bukan kekerasan .

Filosofi Di Balik “Kebodohan” Orang Samin

Orang Samin bukanlah orang bodoh. Mereka justru mempraktikkan perlawanan moral tingkat tinggi dengan lima pitutur luhur yang hingga kini masih mereka pegang teguh :

 Jujur: Tidak berbohong, tidak mengambil hak orang lain.

 Sabar: Menahan diri dari amarah dan kekerasan.

 Tidak iri: Menerima apa yang menjadi bagiannya.

 Semua manusia saudara: Tidak membeda-bedakan status sosial .

 Berbicara berdasarkan kebenaran: Tidak menyebarkan informasi yang belum jelas.

Ajaran ini dikenal dengan istilah “Agama Adam” mengingatkan pada manusia pertama yang hidup sederhana, dekat dengan alam, dan belum mengenal penindasan . Namun, Samin dengan tegas menyatakan ajarannya tidak bertentangan dengan agama mana pun. 

Ini adalah jalan hidup, bukan sekadar kepercayaan.

Salah satu filosofi yang terkenal adalah “Ojo dumeh” (jangan sombong). Jangan merasa paling bisa, paling kaya, atau paling tahu . Lalu ada “Tuna sathak bathi sanak”  rugi sedikit tak apa-apa, yang penting dapat saudara .

Bagi masyarakat Samin, tanah, air, dan hutan adalah milik bersama, bukan milik pemerintah atau individu . Mereka menyebutnya dengan tegas: “Lemah podo duwe, banyu podo duwe, kayu podo duwe” (Tanah milik bersama, air milik bersama, kayu milik bersama) .

Dari 772 Menjadi 5.000: Ketika Perlawanan Menular

Gerakan Samin mulai tercatat oleh Belanda pada 1903. Residen Rembang melaporkan ada 772 wong Samin yang tersebar di 34 desa di Blora selatan dan Bojonegoro . Saat itu, Belanda masih menganggap ini sebagai gerakan kebatinan biasa.

Namun, dalam kurun waktu tiga tahun, jumlah pengikut melonjak drastis. Pada 1907, pengikut Samin mencapai 5.000 orang yang tersebar di Blora, Bojonegoro, Pati, Madiun, Grobogan, hingga Tuban .

Apa yang membuat gerakan ini menyebar begitu cepat? Karena cara Samin yang santai dan lucu ternyata lebih mudah ditiru dari pada pemberontakan berdarah. 

Petani lain mulai ikut-ikutan “pura-pura bodoh” saat ditagih pajak. Ini adalah virus perlawanan yang menular tanpa kekerasan. Belanda ketakutan: jika semua petani Jawa melakukan ini, sistem pajak kolonial akan rubuh total.

Puncak Kekesalan Belanda: Penangkapan Samin

Isu yang berhembus ke telinga pemerintah kolonial semakin mencemaskan: Saminis akan memberontak pada Maret 1907 . Pada Januari 1907, Ketika pengikutnya mengangkat Samin sebagai “Ratu Adil” dengan gelar Prabu Panembahan Suryangalam, Belanda tidak bisa lagi tinggal diam .

Setelah 40 hari menjabat, Samin ditangkap oleh Asisten Wedana Randublatung, Raden Pranolo . Ia diasingkan ke Sawahlunto, Sumatera Barat, bersama delapan pengikut setianya . Di sana, ia dijadikan buruh paksa dan meninggal pada 1914 .

Namun, seperti api dalam sekam, ajaran Samin tetap hidup. Belanda menyadari bahwa memenjarakan para pengikutnya tidak menghentikan penyebaran ide-ide mereka. Justru semakin ditekan, ajaran tersebut semakin populer di kalangan petani yang lelah dengan pajak dan kerja paksa .

Warisan Yang Tetap Relevan: Dari Samin ke Kendeng

Lebih dari seabad kemudian, semangat Samin hidup kembali. Ketika industri semen berencana menambang Pegunungan Kendeng pada awal 2000-an, masyarakat Sedulur Sikep bangkit 

Bagi mereka, Pegunungan Kendeng bukan sekadar batu kapur yang bisa dieksploitasi. Pegunungan itu adalah “Ibu Bumi” yang memberi kehidupan sumber air yang mengairi sawah-sawah mereka, hutan yang menjaga keseimbangan alam . 

“Tresnanana ibu bumi kaya tresnani awakmu dhewe!” (Cintai ibu bumi seperti mencintai diri sendiri), seru Gunarti, salah satu penggerak Kartini Kendeng .

Perempuan Samin memegang erat filosofi ngajeni (menghormati), ngopeni (merawat), dan demunung (selaras) dalam menjalani hubungan dengan alam . Mereka menolak logika dualisme yang memisahkan manusia dari alam. Bumi bukanlah objek yang bisa dieksploitasi, melainkan saudara yang harus dijaga dan dihormati.

Ronald Adam, dosen sosiologi UIN Syarif Hidayatullah, menulis bahwa basis perlawanan Sedulur Sikep bukan hanya ekonomi-politik, tapi juga dimensi identitas. “Karena identitas Sedulur Sikep adalah hutan, pohon, dan Ibu Bumi,” tulisnya .

Pada 2016, dunia dikejutkan oleh aksi petani Kendeng yang menyemen kaki mereka di depan Istana Merdeka. Mereka menolak pabrik semen yang akan merusak pegunungan sumber air mereka. Ini adalah semangat Samin yang hidup kembali: perlawanan tanpa kekerasan, dengan keyakinan bahwa tanah adalah ibu yang harus dijaga.

Samin di Era Modern: Bertahan Tanpa Berubah

Kini, komunitas Sedulur Sikep tersebar di Blora, Kudus, Pati, Grobogan, Rembang, Bojonegoro, hingga Ngawi . Mereka tetap memegang teguh ajaran leluhur.

Bambang Sutrisno, generasi kelima Samin di Bojonegoro, menerima Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) 2025 sebagai pengakuan atas pelestarian nilai-nilai Samin . 

Baginya, ajaran Samin bukanlah sesuatu yang istimewa itu adalah sifat dasar manusia yang dibawa sejak lahir. “Kita semua sudah dibekali watak itu sejak lahir, tinggal bagaimana menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya .

Nilai-nilai itu tetap relevan: kejujuran, kesabaran, kerja sungguh-sungguh (trokal), dan menerima hasil dengan ikhlas (narima) . Ajaran Samin mengajarkan untuk tidak mengambil hak orang lain, tidak membeda-bedakan sesama, berpikir sebelum berbicara, dan memiliki empati merasakan apa yang dirasakan orang lain sebelum berbuat .

Menariknya, masyarakat Samin juga menunjukkan kemampuan beradaptasi yang luar biasa. Penelitian Siti Rohwati dari UIN Syarif Hidayatullah pada 2026 menemukan bahwa komunitas Samin Muslim di Blora menjalankan kolaborasi unik antara ajaran Samin dan Islam . 

Mereka menjalankan puasa Ramadan, sekaligus tetap melaksanakan puasa tradisional Jawa, Ngrowot dan Deder. Ini menunjukkan sikap kultural yang kolaboratif, bukan konfrontatif .

Pesan dari Orang-Orang yang “Gila”

Mungkin kita yang “modern” ini lebih layak disebut gila. Kita rela dibebani pajak tanpa protes, menyetujui proyek yang merusak alam, dan menganggap kekuasaan sebagai sesuatu yang tak perlu dipertanyakan.

Orang Samin mengajarkan bahwa perlawanan bisa dimulai dari hal sederhana: menolak menjadi budak sistem. Mereka menunjukkan bahwa kekuasaan sebesar apa pun akan goyah ketika rakyat kecil memilih untuk “tidak mengerti” dengan aturan yang tidak adil.

Seperti kata bijak mereka: “Urip iku mung mampir ngombe” (hidup hanya singgah untuk minum). Jika hanya singgah, mengapa harus merusak? Jika hanya singgah, mengapa harus saling menjajah?

Warisan Samin adalah pengingat bahwa kebenaran tidak selalu berteriak; kadang ia hanya tersenyum diam, lalu membuat penguasa kelimpungan. Mereka tidak merebut kekuasaan, mereka hanya ingin tetap menjadi manusia di tengah mesin kolonial yang ingin mengubah mereka menjadi budak.

Saminisme bukan sekadar sejarah lokal. Itu adalah bukti bahwa keberanian tidak selalu diukur dari kekuatan senjata, tetapi dari keteguhan hati untuk mempertahankan prinsip . Di tengah gempuran hukum kolonial yang keras, gerakan Samin mampu membuktikan bahwa suara diam pun bisa mengguncang sistem yang tampak kokoh.

                 Batu, 18 Mei 2026

                       Yani Andoko

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Yani Andoko Penulis | Mantan Anggota DPRD Kota Batu (2004–2014) | Sekretaris Satupena Jawa Timur Lahir di Batu, 1 Maret 1968 Menulis sejak 1980-an di Anita Cemerlang, Aneka, Nona, Gadis, Mode, Surya, Jawa Pos, Kedaulatan Rakyat dan lain-lain Pimpinan redaksi & jurnalis Kopindo Jakarta,(Surya Kompas Group, Tabloid Sinergi Kopindo, Jatim News) Ketua FORWAL (Forum Lingkungan Hidup) Kota Batu (1999–2003) Anggota DPRD Kota Batu 2 periode Mengikuti Seminar Nasional Anti Korupsi di Lemhannas RI (2005) & Kursus Lemhannas RI Angkatan XVIII (2008) S1 Ilmu Hukum, Universitas Wisnu Wardhana (2007) Sekretaris Satupena Jawa Timur (2023–sekarang) Hobi: membaca, fotografi, traveling Menulis adalah caraku berbicara kepada dunia.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...