Artikel · Potret Online

Platform yang Memberi Ruang Sekaligus Apresiasi Bagi Para Penulis

Penulis  Ririe Aiko
Agustus 21, 2026
1 menit baca 6

*

Oleh: Ririe Aiko

Penulis dan Konten kreator

In this economy, rasanya tidak cukup bagi seorang penulis hanya mengandalkan semangat untuk terus menulis. Produktivitas memang penting, tetapi ada persoalan lain yang juga perlu kita bicarakan: bagaimana karya seorang penulis bisa dihargai dan memberikan nilai bagi kehidupannya?

Menulis membutuhkan waktu, energi, gagasan, dan proses belajar yang tidak sebentar. Karena itu, sudah semestinya penulis memiliki ruang yang memungkinkan karya mereka tidak hanya dibaca dan dipublikasi, tetapi juga diapresiasi secara layak.

Di sinilah pentingnya keberadaan platform media yang membuka ruang bagi para penulis, khususnya penulis muda.

Bukan sekadar menyediakan tempat untuk mempublikasikan tulisan, tetapi juga menghadirkan peluang bagi mereka untuk mendapatkan apresiasi, membangun portofolio, memperluas jaringan, bahkan memperoleh manfaat secara finansial.

Bagi penulis muda, ekosistem seperti ini juga penting untuk menumbuhkan kepercayaan diri. Mereka tidak hanya belajar menjadi penulis, tetapi juga memahami bahwa gagasan memiliki nilai dan karya memiliki tempat di tengah perubahan zaman.

*Berikut beberapa platform yang bisa mempublikasikan tulisan sekaligus membuka peluang mendapatkan penghasilan* 

Simak di Video ⬇️

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Ririe Aiko adalah seorang penulis dan pegiat literasi asal Bandung yang dikenal karena konsistensinya dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan melalui karya sastra, khususnya puisi esai. Sejak remaja, ia telah menjadikan dunia menulis sebagai rumahnya. Ia mulai dikenal pada 2006 lewat karya pertamanya Senorita yang memenangkan Lomba Penulisan Naskah TV di Tabloid Gaul dan kemudian diadaptasi menjadi FTV oleh salah satu stasiun televisi nasional. Perjalanan kepenulisan Ririe berakar dari genre horor dan roman, dua dunia yang memberinya ruang untuk menggali sisi gelap dan getir kehidupan. Cerpen-cerpen horornya bahkan sering menjadi trending dan memenangkan penghargaan di berbagai platform, termasuk Arum Kencana yang menjuarai lomba cerpen Elex Novel. Namun di tengah jejak panjang fiksi populernya, Ririe justru menemukan makna baru dalam genre puisi esai—sebuah ruang tempat ia bisa bersuara lebih lantang tentang luka sosial, ketidakadilan, dan harapan yang tertindas. Pada 2024, Ririe menerbitkan buku antologi pertamanya yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama berjudul KKN, sebuah karya kolaboratif yang mempertemukannya dengan pembaca lebih luas. Setahun kemudian, ia menerbitkan buku puisi esai mini bertajuk Sajak dalam Koin Kehidupan (2025), sebagai tonggak awal perjalanannya menapaki genre puisi esai secara lebih mendalam. Tak berhenti di sana, ia menantang dirinya untuk menulis puisi esai setiap hari selama 30 hari di bulan Ramadhan—yang kini tengah dirangkai menjadi buku puisi esai mini bertajuk Airmata Ibu Pertiwi. Ririe juga merupakan Founder Gerakan Literasi Bandung, sebuah inisiatif yang bertujuan menumbuhkan kembali kecintaan anak-anak terhadap buku di era digital. Melalui program berbagi buku, kelas kreatif, dan kegiatan literasi berbasis komunitas, ia membangun jembatan antara dunia literasi dan tantangan teknologi masa kini. Selain menulis, Ririe aktif sebagai kreator video berbasis Artificial Intelligence, menjelajah cara-cara baru dalam menyampaikan pesan melalui medium visual. Baginya, menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan menyalakan cahaya kecil di tengah gelapnya kenyataan—cara untuk berdamai, berjuang, dan tetap bertahan di dunia yang sering kali bisu terhadap suara-suara kecil.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...