Kemerdekaan Bagi Petugas Kebersihan

Oleh : Teuku Masrizar
Pagi 17 Agustus 2026, saya bersama istri dengan pakaian lengkap tambah nuansa merah putih menghadiri upacara HUT RI ke 81 di lapangan Naga Tapaktuan.
Di tengah perjalanan, tepatnya di bundaran MI (Mesjid Istiqamah) terlihat truk hijau yang lusuh tua di depan toserba sebelah Selatan bundaran MI. Saya melihat Jimmy di belakang stir sambil klakson dan melambaikan tangannya dan saya membalas. Terlihat dua orang temannya di bawah sedang mengangkat tong sampah dan satu di atas truk menerimanya.
Truk hijau tahun pemakaian 2019 masih terlihat tangguh, walau keenam bannya sudah tidak keriting lagi dan terkadang botak. Walau kurang biaya pemeliharaan namun masih tetap bisa bekerja dalam semua kondisi. Bisa jadi hal ini karena kepiawaian Jimmy dalam merawat setiap hari.
Saya terus melaju menuju lapangan upacara dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke 81.Jimmy dan teman-temannya tetap melanjutkan pekerjaan rutin mereka dan bergerak ke rumah pelanggan layanan lainnya.
Sebagai petugas kebersihan, Jimmy cs dan petugas kebersihan lain-pun saban hari melaksanakan tugas untuk memastikan lingkungan tetap bersih dan indah. Tugas yang tidak mudah ini dilakukan dengan sungguh-sungguh agar pelanggan puas dengan layanan yang diberikan.
Sudah jadi kebiasaan rutin bagi Jimmy dan teman seprofesinya untuk bekerja sejak pagi buta sampai jadwal dan shif selesai. Mengangkat sampah sampai airnya meleleh membasahi pergelangan dan badan lumrah dan lazim terjadi, bergumul dengan ragam jenis sampah dan bau busuk juga sudah biasa. Anehnya para petugas kebersihan jarang yang sakit.
Semestinya Jimmy dan temanya tidak berat dan dalam jumlah besar dalam memindahkan sampah rumah tangga ke TPS atau TPA, Sudah seharusnya sampah-sampah dalam tong semakin berkurang apabila warga sadar dan telah memahami tentang pengelolaan sampah. Sampah sudah terpilah dari sumbernya dan hanya sisa (residu) yang dibuang ke TPA.
Pastinya saya tidak mampu melaksanakan tugas sebagai petugas kebersihan. Agaknya hanya orang-orang “kuat” saja yang mampu melakukannya. Bagaimana tidak, beban yang diangkat begitu berat, bau busuk dan kotor yang dirasakan setiap hari. Tapi realita ini yang mesti dilakoni petugas kebersihan demi memenuhi kebutuhan bagi anak dan istrinya.
Tapi di balik itu semua, petugas kebersihan telah melakukan pekerjaan mulia. Tanpa mereka kota dan lingkungan kita akan kumuh, jorok dan bau. Mereka harus dihargai, tidak hanya dengan sertifikat atau piagam penghargaan, tetapi lebih jauh mereka harus menerima imbalan yang setimpal, proporsional sesuai dengan kerja, risiko yang diterima.
Perugas kebersihan wajib ada pelindung diri dalam melaksanakan tugasnya. Terkadang alat pelindung sering tidak dipakai sehingga dalam bekerja dengan pakaian biasa saja. Demikian juga dengan peralatan kerja untuk memudahkan dalam bekerja.
Mirisnya kerja yang dilakukan tidak seimbang dengan upah yang diterima. Umumnya di negeri kita belum menghargai jasa tenaga kebersihan secara. Dibutuhkan sistem penggajian yang baik dengan tetap menghargai tenaga kebersihan bukan hanya dilihat dari jasa, resiko tapi juga sisi kemanusian.
Kebersihan merupakan urusan wajib walau tidak berhubungan dengan pelayanan dasar. Namun kondisi bersih, tidak ada pencemaran, indah dan asri merupakan hak warga dan idaman bagi semua.
Merayakan Hari kemerdekaan dengan kondisi bersih dan nuansa merah putih serta bebagai kegiatan pertandingan dan perlombaan, tidak bisa dilepaskan dari peran petugas kebersihan, baik sebelum dan setelah acara berlangsung. Sudah seharuanya perhatian dan kepedulian terhadap Petugas kebersihan dengan segala konstribusinya dapat merasakan hidup dalam negeri merdeka. Merdekakan mereka dengan rasa empati kita membantu meringankan beban para petugas kebersihan di tempat kita.











