Merajut Ukhuwah Lewat Takziyah

Oleh: Mahmudi Hanafiah, S.H., M.H.
Dosen UNISAI Samalanga Kabupaten Bireuen
Guru Dayah Jamiah Al-Aziziyah Batee Iliek Samalanga Kabupaten Bireuen
Dalam kehidupan bermasyarakat, setiap manusia tidak akan pernah terlepas dari berbagai ujian. Ada saatnya seseorang merasakan kebahagiaan, namun ada pula masa ketika musibah datang silih berganti.
Islam sebagai agama yang sempurna tidak hanya mengatur hubungan seorang hamba dengan Allah Swt. (ḥablun minallāh), tetapi juga memberikan tuntunan yang sangat rinci mengenai hubungan antarsesama manusia (ḥablun minannās). Salah satu ajaran mulia yang menjadi manifestasi kepedulian sosial tersebut adalah takziyah.
Takziyah bukan sekadar menghadiri rumah duka atau mengucapkan belasungkawa. Lebih dari itu, takziyah merupakan media untuk menghadirkan ketenangan, menguatkan hati keluarga yang sedang berduka, serta mengingatkan semua pihak tentang hakikat kehidupan yang sementara.
Melalui takziyah, Islam mengajarkan bahwa duka seseorang adalah kepedulian bersama, bukan beban yang harus dipikul sendirian.
Takziyah merupakan salah satu sunnah Rasulullah saw. Beliau senantiasa menunjukkan empati kepada keluarga yang tertimpa musibah dengan mendatangi mereka, memberikan nasihat, mendoakan almarhum atau almarhumah, serta menghibur keluarga yang ditinggalkan agar tetap bersabar.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Rasulullah saw. bersabda bahwa seorang mukmin yang menghibur saudaranya yang tertimpa musibah akan mendapatkan kemuliaan dari Allah pada hari kiamat.
Hadis-hadis semacam ini menunjukkan bahwa takziyah bukan hanya tradisi sosial, melainkan bagian dari ibadah yang memiliki nilai spiritual yang tinggi.
Rasulullah saw. juga mengajarkan agar umat Islam saling menguatkan ketika menghadapi kehilangan. Ucapan seperti “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn” bukan sekadar kalimat formal, melainkan pengingat bahwa setiap kehidupan berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Dengan demikian, takziyah menjadi sarana memperkuat keimanan sekaligus menumbuhkan kesabaran bagi keluarga yang ditinggalkan.
Di sisi lain, takziyah termasuk dalam kategori ibadah ghair mahdhah, yaitu bentuk ibadah yang berkaitan erat dengan hubungan sosial antarmanusia. Berbeda dengan ibadah mahdhah seperti salat, puasa, zakat, atau haji yang tata caranya telah ditentukan secara rinci, ibadah ghair mahdhah memberikan ruang yang lebih luas untuk menghadirkan kemaslahatan sosial selama tetap berada dalam koridor syariat.
Melalui takziyah, nilai ḥablun minannās diwujudkan secara nyata. Kehadiran seseorang di rumah duka sering kali jauh lebih bermakna daripada sekadar kata-kata. Kehadiran itu menyampaikan pesan bahwa keluarga yang berduka tidak sendirian menghadapi cobaan. Dukungan moral, doa, dan perhatian yang diberikan mampu menjadi penguat psikologis yang sangat dibutuhkan pada saat-saat sulit.
Dalam konteks masyarakat modern, ketika kesibukan sering kali membuat hubungan sosial semakin renggang, takziyah menjadi momentum untuk kembali merajut tali persaudaraan. Tidak sedikit hubungan yang sebelumnya renggang menjadi kembali harmonis karena dipertemukan dalam suasana duka. Musibah justru menjadi ruang refleksi bahwa kehidupan manusia sesungguhnya sangat singkat sehingga tidak layak dipenuhi dengan permusuhan, dendam, ataupun sikap saling menjauh.
Nilai luhur takziyah juga mencerminkan tingginya kepedulian sosial, baik pada tingkat individu maupun kelembagaan. Secara personal, seseorang yang meluangkan waktu untuk bertakziyah menunjukkan bahwa dirinya memiliki empati terhadap penderitaan orang lain. Ia rela meninggalkan kesibukannya demi memberikan dukungan kepada sesama. Kepedulian seperti inilah yang menjadi fondasi utama terbentuknya masyarakat yang saling menguatkan.
Pada tingkat kelembagaan, budaya takziyah memiliki makna yang tidak kalah penting. Ketika sebuah lembaga pendidikan, instansi pemerintahan, organisasi kemasyarakatan, atau komunitas hadir memberikan dukungan kepada keluarga yang berduka, maka yang dibangun bukan hanya hubungan administratif, tetapi juga ikatan emosional. Kehadiran lembaga menunjukkan bahwa setiap anggotanya merupakan bagian dari satu keluarga besar yang memiliki rasa saling memiliki dan saling menjaga.
Di lingkungan pesantren, misalnya, budaya takziyah menjadi salah satu wujud pendidikan karakter yang sangat efektif. Santri tidak hanya belajar ilmu-ilmu agama di dalam kelas, tetapi juga mempraktikkan nilai kasih sayang, solidaritas, dan ukhuwah Islamiyah secara langsung.
Ketika para santri bersama guru melakukan perjalanan jauh untuk bertakziyah kepada keluarga salah seorang sahabat mereka, sesungguhnya mereka sedang belajar tentang makna persaudaraan yang tidak dapat diperoleh hanya melalui teori. Pengalaman semacam itu akan membentuk karakter peduli, rendah hati, serta memiliki kepekaan sosial yang tinggi.
Lebih jauh lagi, budaya takziyah juga memperkuat modal sosial (social capital) dalam kehidupan masyarakat. Kepercayaan, solidaritas, dan semangat gotong royong akan tumbuh apabila masyarakat terbiasa saling hadir dalam berbagai keadaan, terutama ketika musibah menimpa salah satu anggotanya.
Sebaliknya, masyarakat yang mulai meninggalkan tradisi saling mengunjungi ketika berduka akan lebih mudah mengalami disintegrasi sosial karena hubungan antaranggotanya semakin bersifat individualistis.
Oleh karena itu, semangat bertakziyah perlu terus dipelihara dan diwariskan kepada generasi muda. Kemajuan teknologi memang memudahkan penyampaian ucapan belasungkawa melalui media sosial atau aplikasi pesan singkat. Namun, tidak ada yang dapat menggantikan makna kehadiran secara langsung. Jabat tangan yang tulus, pelukan yang menguatkan, doa yang dipanjatkan bersama, serta kebersamaan dalam menghibur keluarga yang berduka memiliki nilai kemanusiaan yang jauh lebih mendalam.
Pada akhirnya, takziyah mengajarkan bahwa persaudaraan sejati bukan hanya tampak ketika berbagi kebahagiaan, tetapi juga ketika bersama-sama menghadapi kesedihan. Di sanalah ukhuwah menemukan maknanya yang paling hakiki. Takziyah bukan sekadar memenuhi sunnah Rasulullah saw., melainkan juga menjadi jembatan yang menghubungkan hati, memperkuat hubungan antarsesama, serta meneguhkan kepedulian sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan terus menghidupkan budaya takziyah, kita sesungguhnya sedang merajut benang-benang ukhuwah agar tetap kokoh, hangat, dan menjadi rahmat bagi seluruh umat.











