Artikel · Potret Online

Orchid Forest Cikole,Hutan Wisata Sumber Ekonomi dan Konservasi

Penulis Basri A. Bakar
September 4, 2026
5 menit baca 10
4165f231-c34b-4730-b471-b348414157e7
Foto / IlustrasiOrchid Forest Cikole,Hutan Wisata Sumber Ekonomi dan Konservasi

Oleh Basri A. Bakar 

Direktur Eksekutif FORSIKAL

Ada perjalanan yang sekadar meninggalkan kenangan, tetapi adapula perjalanan yang menghadirkan gagasan. Kunjungan saya keOrchid Forest Cikole, Lembang, Jawa Barat, termasuk dalam perjalanan yang kedua. 

Kawasan hutan pinus yang sejuk itu bukan hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga memperlihatkan bagaimana sebuah kawasan hutan dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata tanpa kehilangan karakter alaminya.

Sejak memasuki kawasan, suasana hutan pinus langsung terasa. Pohon-pohon tinggi dan rindang berdiri di antara kontur perbukitan. Udara sejuk berpadu dengan suara alam, menciptakan pengalaman yang berbeda dari destinasi wisata yang lebih banyak didominasi bangunan beton. Di sini, justru alam menjadi daya tarik utama, sementara berbagai fasilitas wisata ditempatkan sedemikian rupa agar menyesuaikan dengan kondisi kawasan.

Prinsip sederhana inilah yang menurut saya menarik untuk dipelajari. Bukan alam yang dipaksa mengikuti pembangunan, tetapi pembangunan yang menyesuaikan diri dengan alam.

Ketika pengunjung berjalan menuruni kawasan melalui jalan setapak, perjalanan itu sendiri menjadi bagian dari pengalaman wisata. Pengunjung tidak sekadar berpindah dari satu fasilitas kefasilitas lainnya, tetapi diajak menikmati pepohonan, udara segar, kemiringan lahan dan suasana hutan. 

Untuk memasuki kawasan tersebut, pengunjung dikenakan tiket masuk Rp 49.000 dan parkir mobil Rp10.000.

Orchid Forest Cikole berada di kawasan sekitar 12 hektare dan dikelola melalui kerja sama antara Maulana Akbar atau Barry Akbar sebagai pemilik sekaligus CEO dengan pihak perhutanan, yakni Perum Perhutani bersama anak usahanya, PT Palawi Risorsis. 

Di dalam kawasan tersedia beragam fasilitas, antara lain jembatan gantung antarpohon, area berkemah, panggung hiburan, ruang bersantai dan restoran.

Salah satu daya tarik yang menonjol adalah koleksi anggreknya. Lebih dari 150 jenis anggrek dari dalam dan luar negeri dikembangkan di tengah rimbunnya hutan pinus. Perpaduan antara konservasi, edukasi dan rekreasi inilah yang membuat kawasan tersebut memiliki karakter yang berbeda.

Hal lain yang juga menarik perhatian adalah perhatian terhadap kenyamanan pengunjung. Setelah sampai di bagian bawah kawasan, pengunjung tidak harus kembali berjalan kaki melalui jalur menanjak menuju tempat parkir. Pengelola menyediakan kendaraan terbuka secara gratis untuk mengantarkan pengunjung kembali. 

Fasilitas tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi menunjukkan bahwa pengelolaan wisata yang baik bukan hanya berbicara tentang keindahan tempat. Aspek kenyamanan, keselamatan dan kemudahan pengunjung juga menjadi bagian penting dari pengalaman wisata.

Dari sini muncul pertanyaan: mengapa konsep seperti ini tidak dikembangkan lebih luas di Aceh?

Aceh sesungguhnya memiliki modal alam yang sangat besar. Sekitar 61 persen wilayah daratan Aceh merupakan kawasan hutan. Hutan tersebut tidak hanya memiliki fungsi ekologis, tetapi juga menyimpan potensi ekonomi melalui hasil hutan bukan kayu, jasa lingkungan, sumber daya air, karbon dan pariwisata.

Dengan kekayaan tersebut, hutan Aceh seharusnya tidak hanya dipandang sebagai kawasan yang harus dijaga, tetapi juga sebagai aset daerah yang dapat memberikan manfaat ekonomi apabila dikelola secara profesional, bijaksana dan berkelanjutan.

Pengembangan wisata hutan pun tidak harus selalu identik dengan pendakian atau wisata petualangan yang berat. Aceh dapat mengembangkan wisata hutan yang lebih ramah keluarga, edukatif dan inklusif. Bayangkan sebuah kawasan hutan dengan jalan setapak yang mengikuti kontur tanah, jembatan kayu, area camping yang tertata, taman edukasi, tempat menikmati kopi, restoran dengan menu khas Aceh, pusat kerajinan masyarakat, ruang bermain anak serta transportasi internal yang ramah lingkungan.

Pengunjung dapat datang bersama keluarga, berjalan santai di tengah hutan, menikmati udara segar, mencicipi kopi Gayo dan kuliner Aceh, mengenal flora dan fauna, sekaligus mendapatkan pengalaman edukatif. Yang paling penting, semua itu dapat dilakukan tanpa harus mengorbankan kelestarian lingkungan.

Potensi seperti ini dapat dikembangkan di sejumlah kawasan, seperti Saree dan Jantho di Aceh Besar, Dataran Tinggi Gayo, Tangse, Sabang dan berbagai kawasan lainnya. 

Perencanaan pemerintah juga telah menempatkan sejumlah kawasan tersebut sebagai wilayah strategis untuk pengembangan pariwisata berbasis alam, termasuk ekowisata yang mengedepankan konservasi lingkungan dan dapat dipadukan dengan kekayaan budaya serta konsep wisata halal.

Namun, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan: wisata alam harus memberikan manfaat nyata kepada masyarakat sekitar.Jangan sampai kawasan hutan dikembangkan menjadi destinasi wisata, tetapi masyarakat lokal hanya menjadi penonton. 

Sebaliknya, mereka harus menjadi bagian dari rantai ekonomi wisata. Masyarakat dapat dilibatkan sebagai pemandu wisata, pengelola homestay, penyedia makanan, pengrajin suvenir, pengelola camping ground, penyedia transportasi lokal hingga pelaku atraksi budaya.

Dengan pola seperti itu, wisatawan tidak hanya membeli tiket masuk. Kehadiran mereka akan menggerakkan berbagai aktivitas ekonomi masyarakat. Uang yang dibelanjakan wisatawan dapat berputar di desa dan kawasan sekitar destinasi.

Konsep serupa juga dapat diterapkan pada kawasan mangrove. Hutan mangrove Aceh memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai wisata edukasi dengan membangun boardwalk atau jembatan kayu yang memungkinkan wisatawan menikmati ekosistem mangrove tanpa merusaknya. 

Hutan mangrove Kota Langsa, misalnya, menunjukkan bahwa kawasan mangrove dapat menjadi ruang edukasi sekaligus memiliki fungsi penting bagi perlindungan pesisir dan kehidupan masyarakat.

Dari Orchid Forest Cikole, kita sesungguhnya dapat belajar sebuah prinsip penting: bangun fasilitas secukupnya, pertahankan pohon sebanyak mungkin, ikuti kontur alam dan jadikan lingkungan sebagai bagian utama dari atraksi wisata.

Aceh tidak harus membangun destinasi wisata dengan gedung-gedung besar dan investasi fisik yang berlebihan. Jalan setapakyang aman, tempat duduk yang menyatu dengan alam, papan informasi yang edukatif, toilet bersih, pengelolaan sampah yang baik, keamanan serta pelayanan yang ramah sering kali jauhlebih penting daripada bangunan megah.

Aceh memiliki hutan, gunung, sungai, air terjun, danau, mangrove, pesisir dan keanekaragaman hayati yang luar biasa. Tantangannya sekarang bukan sekadar memiliki potensi, tetapi bagaimana mengemasnya menjadi destinasi yang menarik, aman, nyaman sekaligus berkelanjutan.

Karena itu, pemerintah tidak harus bekerja sendiri. Dunia usaha, masyarakat, komunitas lingkungan dan perguruan tinggi dapat menjadi mitra dalam mengembangkan wisata berbasis alam. Dengan perencanaan yang matang, tata kelola yang baik dan teknologi yang tepat, konservasi dan pariwisata bukanlah dua kepentingan yang harus dipertentangkan.

Barangkali sudah saatnya orientasi pembangunan pariwisata Aceh sedikit bergeser. Bukan hanya mengejar sebanyak mungkin wisatawan, tetapi menghadirkan wisatawan yang datang untuk menikmati alam, bersedia membayar bagi konservasi, berbelanja produk masyarakat lokal dan pulang membawa pengalaman sekaligus kesadaran untuk menjaga lingkungan.

Orchid Forest Cikole memberi kita sebuah pelajaran sederhana: wisata dan konservasi dapat tumbuh bersama, asalkan manusia belajar menempatkan alam bukan sebagai objek yang harus ditaklukkan, melainkan sebagai sahabat yang harus dijaga.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Basri A. Bakar
Media Perempuan Kritis dan Cerdas
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...