• Latest

Mira: Keterbatasan Bukan Halangan

November 14, 2016

Abadi Dalam Ketegangan: Mengapa Perjuangan Kartini Tak Akan Pernah Usai?

April 22, 2026
06d8027d-a2d7-42d1-a3d1-ad2fe9ddf489

Hari Ini Gubernur Kaltim akan Dilengserkan Rakyatnya, is Apakah Berhasil?

April 22, 2026
Pendidikan SD

Di Antara Wahyu dan Rasio: Menyatukan Jalan Pendidikan Aceh

April 22, 2026
aef171bb-b3d2-4814-9a54-7d09b7b9f971

Perempuan Ganda;KartiniĀ Dulu Hingga Kini

April 22, 2026
9fdb3c1c-1879-4f8c-9aa8-02113678bceb

Warisan Musik Aceh dari Gampong Padang Manggeng

April 21, 2026
Ilustrasi siluet pasangan dengan hati retak melambangkan cemburu, konflik emosional, dan hubungan yang rapuh

Cemburu Membunuh Perempuan

April 21, 2026
Mira: Keterbatasan Bukan Halangan - 1001348646_11zon | Edukasi | Potret Online

Kisah Perempuan – Lubna dari Córdoba

April 21, 2026
Mira: Keterbatasan Bukan Halangan - 1001353319_11zon | Edukasi | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

April 21, 2026
Rabu, April 22, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Mira: Keterbatasan Bukan Halangan

Redaksi by Redaksi
November 14, 2016
in Edukasi, Pendidikan, Perempuan, Sosok
Reading Time: 2 mins read
0
585
SHARES
3.2k
VIEWS
Oleh: Elvida
Suasana sore itu tampak ramai seperti hari-hari biasanya. Persimpangan itu seakan tak pernah mati hingga larut malam. Banyak warung kopi berjejaran di sepanjang jalan. Kenderaan lalu lalang dan kerumunan orang di pasar menjadi bukti bahwa keramaina tak pernah berhenti. Ada beberapa gerobak nasi goreng, martabak dan jajanan lainnya di jajakan di sepanjang simpang itu. Simpang Tujuh, Ule Kareng, begitu nama wilayah itu disebut oleh masyarakat Banda Aceh.
Ule kareng, memang terkenal dengan iko kopi Ule Kareng. Namun bila ingin menikmati makanan dengan taste berbeda, di persimpangan 7 Ulekareng, bisa kita nikmati yang lainnya. Salah satunya adalah burger ala Mira. Mira, perempuan asal Rantau, Kuala Simpang ini sudah memulai usahanya sejak tahun 2006. Berbekal pengalaman belajar dari seorang teman di Jakarta, Mira Kesumawaty mencoba berbisnis burger, roti bakar dan pop ice dengan memilih wilayah operasinya di Simpang Tujuh.
Mira, walau ia seorang perempuan yang tuna wicara, ia mampu membaca pasar dan mencoba meresponnya dengan cara kreatif. Ia membuka usaha makanan dengan usaha burger. Untuk memenuhi selera pembeli, dengan lihai Mira melayani pembeli. Ia menyediakan beberapa pilihan burger yang ditawarkan. Ada burger isi telur dan burger isi telur plus daging. Harganyapun sangat terjangkau untuk masyarakat biasa. Dengan gerobak yang sederhana burger Mira hampir tidak ada saingannya, karena hanya ada satu orang yang berjualan burger di simpang 7. Tangannya begitu cekatan membuat burger pesanan pelanggan. Mereka rela antrian demi mencicipi burger buatan Mira. Sekitar 15 menit burgerpun jadi. Selain burger ia juga menyajikan roti bakar dan pop ice.
Tampaknya tidak ada halangan bagi Mira, walaupun Mira menggunakan bahasa isyarat dalam berkomunikasi dengan pelanggannya. Tampaknya pelanggan paham maksudnya. Bila ada kendala komunikasi, Irwan Muhammad sang suami yang setia menemaninya berjualan siap membantu. Mereka berdua tercatat sebagai anggota Gerkatin Provinsi Aceh ( Gerakan untuk Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia) yang diketuai oleh Irwan Muhammad. Ada sekitar 28 orang anggotanya. Di tengah keterbatasan berbicara, mereka tetap aktif melakukan aktifitas sehari-hari.
Mira menamatkan SLB+B, sekolah khusus untuk tuna rungu di Medan. Sebelum pindah ke Banda Aceh dia mengisi hari-harinya di kota Binjai. Di kota inilah dia mengembangkan bakat wirausahanya, mulai dari berjualan hingga membuka salon. Keahliannya dalam bidang kecantikan memang tidak perlu diragukan lagi. Dia pernah menjuarai beberapa lomba dalam bidang kecantikan di kota Binjai. Namun sejak pindah ke Banda Aceh usaha salon tidak begitu berkembang, karena lokasi kurang strategis. Mira tetap berobsesi membangun kedua usaha tersebut lebih maju ke depan, sesuai dengan motto hidupnya ā€œingin menjadi orang suksesā€.
Harapan Mira kepada pemerintah Aceh supaya lebih memperhatikan komunitas tuna rungu agar tidak menjadi pengangguran dan tergantung kepada orang lain. Ia berharap agar masyarakat tidak memandang para difabel (different abilities people) atau orang dengan kemampuan yang berbeda, sebagai orang dengan kondisi tidak normal. Namun mereka layak diperlakukan sebagai manusia yang memiliki potensi serta kemandirian dalam hidup.
Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post

Duka Lama Pada Desember Tsunami

POTRET Online

Ā© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

Ā© 2026 potretonline.com