Artikel · Potret Online

Ada Apa Dengan Gen Z?

Penulis  Hanif Arsyad
September 3, 2026
9 menit baca 13
16412526-c332-47f6-8b2a-75137aa044dc
Foto / IlustrasiAda Apa Dengan Gen Z?

Oleh: Hanief Arsyad

Akademisi Universitas Malikussaleh, Lhok Seumawe, Aceh

Pertanyaan semacam ini semakin sering kita dengar. Ia muncul dalam talk show, podcast, media sosial, bahkan dalam percakapan sehari-hari para orang tua. Gen Z kerap digambarkan sebagai generasi yang sulit diatur, mudah menyerah, kurang sopan, kecanduan gawai, terlalu banyak bermain media sosial, dan dianggap mengalami kemerosotan akhlak.

Labeling itu perlahan menjadi cara pandang kolektif. Seolah-olah ada yang salah dengan generasi yang lahir di tengah perubahan teknologi tersebut.

Ketika anak sulit diajak berkomunikasi, gawai menjadi tersangka. Ketika anak lebih banyak menghabiskan waktu di media sosial, internet yang disalahkan. Ketika anak mulai kehilangan sopan santun, lingkungan pergaulan yang menjadi kambing hitam.

Padahal, sebelum menunjuk layar gawai, media sosial, atau lingkungan pertemanan, barangkali ada pertanyaan yang jauh lebih penting untuk kita ajukan kepada diri sendiri:

Sudahkah kita menjadi orang tua?

Sebab anak tidak tumbuh di ruang kosong. Mereka tumbuh di dalam keluarga, menyerap bahasa yang kita gunakan, cara kita menyelesaikan konflik, bagaimana kita memperlakukan pasangan, bagaimana kita berbicara tentang orang lain, bahkan bagaimana kita menjalankan hubungan dengan Allah.

Anak mungkin tidak selalu mendengarkan nasihat kita, tetapi hampir selalu mereka mengamati perilaku kita, merekam apa yang kita lakukan dalam keseharian.

Anak adalah gambaran orang tua yang paling jujur

Dalam perspektif psikologi perkembangan, keluarga merupakan lingkungan awal dan sangat penting bagi pembentukan perilaku, emosi, nilai, serta karakter anak. Anak belajar bukan hanya melalui instruksi, tetapi juga melalui observasi dan peniruan.

Karena itu, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa anak adalah salah satu “cermin” paling jujur dari kehidupan orang tuanya.

Sering kali kita marah ketika melihat anak mudah membentak. Tetapi pernahkah kita bertanya, dari mana ia belajar nada bicara tersebut?

Kita kecewa ketika anak tidak mampu mengendalikan emosi. Tetapi apakah di rumah ia melihat orang dewasa menyelesaikan masalah dengan ketenangan?

Kita menuntut anak menghargai orang lain. Namun, apakah ia menyaksikan ayah dan ibunya memperlakukan orang lain dengan hormat?

Kita meminta anak meninggalkan gawai. Tetapi berapa lama dalam sehari anak melihat orang tuanya sendiri tidak pernah lepas dari layar?

Di sinilah persoalan parenting menjadi lebih kompleks. Pendidikan anak bukan hanya persoalan bagaimana membuat anak patuh, tetapi juga bagaimana orang tua bersedia memperbaiki dirinya.

Barangkali sebagian perilaku yang paling kita benci dari anak adalah bagian dari diri kita yang belum selesai.

Tentu, kita tidak boleh menutup mata terhadap dampak teknologi. Paparan konten yang tidak sehat, penggunaan media sosial secara berlebihan, cyberbullying, budaya konsumtif, hingga kecanduan gawai merupakan tantangan nyata bagi generasi hari ini.

Namun, teknologi tidak boleh menjadi satu-satunya kambing hitam.

Gawai adalah alat. Persoalan utamanya adalah bagaimana keluarga membangun batas, pendampingan, komunikasi, dan keteladanan dalam penggunaannya.

Anak yang tumbuh tanpa koneksi emosional dengan orang tuanya mungkin mencari koneksi itu di dunia digital. Anak yang merasa tidak didengar di rumah dapat mencari ruang untuk didengar di media sosial. Anak yang tidak menemukan apresiasi dalam keluarga bisa mencari pengakuan di luar rumah.

Karena itu, pertanyaan kita jangan berhenti pada, “Apa yang ditonton anak?”

Kita juga perlu bertanya:

“Apa yang kurang mereka dapatkan dari rumah?”

Sebab bisa jadi persoalannya bukan semata-mata terlalu banyak teknologi, melainkan terlalu sedikit kehadiran orang tua.

Anak Perempuan dan Akhlak Ayah

Dalam banyak tradisi keislaman, memuliakan anak perempuan memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Rasulullah SAW memberikan kabar gembira bagi orang tua yang memperlakukan anak perempuan dengan baik, mendidik, menjaga, dan memuliakannya.

Pesan ini sesungguhnya sangat relevan dengan kehidupan keluarga modern.

Anak perempuan membutuhkan ayah yang bukan sekadar hadir secara fisik, tetapi juga menjadi teladan tentang bagaimana seorang laki-laki memperlakukan perempuan dengan hormat.

Ayah adalah salah satu figur laki-laki pertama yang diamati seorang anak perempuan. Dari sana ia belajar, secara sadar maupun tidak sadar, tentang rasa aman, penghormatan, kasih sayang, batasan, dan harga dirinya.

Karena itu, membesarkan seorang anak perempuan seharusnya membuat seorang ayah melakukan refleksi yang serius terhadap dirinya sendiri.

Bagaimana cara ia berbicara kepada istrinya?

Bagaimana ia memperlakukan perempuan lain?

Bagaimana ia mengendalikan amarah?

Bagaimana ia menunjukkan kasih sayang?

Bagaimana ia menjaga pandangan dan kehormatannya?

Semua itu merupakan pendidikan yang sering kali lebih kuat daripada seribu nasihat.

Dalam ungkapan masyarakat Aceh dikenal sebuah nasihat: “Lebih mudah ta jaga leumo saboh kawan daripada ta jaga seorang anak perempuan.” Pesan budaya tersebut dapat dibaca sebagai peringatan bahwa menjaga dan membesarkan anak perempuan membutuhkan perhatian, tanggung jawab, dan kehati-hatian yang besar.

Anak perempuan bukan sekadar anak yang harus dijaga. Ia adalah amanah yang kelak membawa pengalaman tentang bagaimana seorang laki-laki memperlakukannya ke dalam cara ia memandang dirinya sendiri dan dunia.

Karena itu, anak perempuan dapat menjadi cermin bagi akhlak ayahnya.

Bukan karena anak perempuan bertugas “memperbaiki” ayahnya, melainkan karena kehadiran mereka seharusnya mendorong seorang ayah untuk menjadi laki-laki yang lebih baik.

Begitu pula dengan anak laki-laki.

Energinya yang besar, keinginannya untuk mengeksplorasi, keberaniannya mengambil risiko, bahkan sikapnya yang kadang sulit dikendalikan dapat menguji kesabaran orang tua.

Pada titik tertentu, seorang ibu mungkin merasa bahwa ia tidak lagi mampu mengontrol seluruh kehidupan anaknya.

Di sinilah seseorang belajar bahwa mendidik anak bukan berarti mengendalikan seluruh hasil akhirnya.

Ada wilayah yang hanya bisa kita ikhtiarkan, lalu kita serahkan kepada Allah.

Inilah makna tawakal dalam pengasuhan: bukan menyerah sebelum berusaha, tetapi menyadari bahwa setelah ikhtiar terbaik dilakukan, manusia tetap memiliki keterbatasan.

Anak laki-laki dapat menjadi ruang latihan kesabaran bagi ibunya. Ia mengajarkan bahwa cinta tidak selalu berarti mengontrol, dan mendidik tidak selalu berarti memaksakan kehendak.

Seorang ibu boleh berusaha sekuat tenaga, tetapi pada akhirnya ia tetap harus berkata dalam hatinya:

“Ya Allah, aku sudah berusaha. Kini aku titipkan anak ini kepada-Mu.”

Di titik itulah pengasuhan berubah menjadi ibadah.

Dalam proses pendidikan, ayah dan ibu memiliki peran yang saling melengkapi. Anak laki-laki maupun perempuan membutuhkan keteladanan dari keduanya.

Anak laki-laki membutuhkan figur ayah untuk belajar tentang ketangguhan, tanggung jawab, dan keberanian. Pada saat yang sama, ia membutuhkan kelembutan dan keteladanan spiritual dari ibunya.

Anak perempuan membutuhkan ibu untuk belajar tentang harga diri, keteguhan, dan bagaimana menjadi perempuan yang menghargai dirinya. Ia juga membutuhkan ayah yang menunjukkan bahwa menjadi laki-laki berarti melindungi, menghormati, dan bertanggung jawab.

Ketika salah satu sumber tersebut “kering”, bukan berarti anak pasti gagal. Tetapi kebutuhan emosional dan keteladanan anak dapat menjadi tidak seimbang.

Karena itu, ketika anak perempuan terus mencari perhatian, jangan buru-buru mengatakan ia manja.

Tanyakan kepada diri sendiri:

“Apakah selama ini ia mendapatkan cukup kelembutan dan perhatian dari ayahnya?”

Ketika anak laki-laki sulit diarahkan, jangan segera menyimpulkan bahwa ia nakal.

Tanyakan:

“Apakah saya sudah mendidiknya dengan batas yang jelas, kesabaran, keteladanan, dan doa?”

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini jauh lebih produktif daripada sekadar menyalahkan generasi.

Salah satu jebakan terbesar dalam pengasuhan modern adalah obsesi menjadi orang tua sempurna.

Kita membaca begitu banyak buku parenting, mengikuti seminar, menonton video psikologi anak, mengikuti akun parenting, kemudian merasa bersalah ketika praktiknya tidak sesuai dengan teori.

Padahal, anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna.

Mereka membutuhkan orang tua yang mau hadir, mau belajar, mau meminta maaf ketika salah, mau mendengarkan, dan mau memperbaiki diri.

Parenting bukan perlombaan menghasilkan anak yang sempurna. Ia adalah perjalanan dua arah: orang tua mendidik anak, tetapi pada saat yang sama anak juga mendidik orang tua.

Anak mengajarkan kesabaran.

Anak mengajarkan penerimaan.

Anak mengajarkan bahwa manusia memiliki keterbatasan.

Anak mengajarkan kita untuk berdoa lebih panjang.

Dan terkadang, anak memaksa kita berhadapan dengan luka masa lalu yang selama ini kita sembunyikan.

Karena itu, ketika kita merasa lelah menghadapi anak, mungkin pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya, “Bagaimana cara memperbaiki anak saya?”

Tetapi:

“Apa yang sedang Allah tunjukkan kepada saya melalui anak ini?”

Mendidik dengan Kesadaran

Mindful parenting pada dasarnya mengajak orang tua hadir secara sadar dalam proses pengasuhan: mendengarkan anak, memahami emosi, mengelola respons diri, dan tidak terburu-buru bereaksi.

Dalam perspektif keislaman, kesadaran tersebut dapat diperluas menjadi kesadaran bahwa anak adalah amanah.

Setiap tantrum bukan otomatis tanda kegagalan.

Setiap kesalahan anak bukan otomatis aib keluarga.

Setiap perbedaan karakter bukan berarti pembangkangan.

Ada proses perkembangan yang harus dihormati.

Tugas orang tua bukan mencetak anak sesuai ego orang tua, melainkan membantu mereka tumbuh menjadi manusia yang mengenal dirinya, memahami tanggung jawabnya, dan mengenal Tuhannya.

Di sinilah pendidikan akhlak menjadi sangat penting.

Kita boleh berharap anak menguasai teknologi. Kita boleh berharap mereka unggul dalam akademik, memiliki karier hebat, menguasai bahasa asing, bahkan mampu bersaing secara global.

Tetapi semua pencapaian itu kehilangan makna ketika kecerdasan tidak berjalan bersama akhlak.

Bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang anak mudanya mahir menggunakan teknologi.

Bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu melahirkan generasi berilmu sekaligus beradab.

Jangan Tanyakan Lagi, “Ada Apa dengan Gen Z?”

Mungkin sudah waktunya kita berhenti bertanya, “Ada apa dengan Gen Z?”

Pertanyaan itu terlalu mudah menempatkan seluruh persoalan pada pundak anak.

Mari kita ubah menjadi pertanyaan yang lebih jujur:

“Ada apa dengan kita sebagai orang tua?”

Apakah kita terlalu sibuk mencari kesalahan anak sehingga lupa mengevaluasi diri?

Apakah kita terlalu banyak memberikan nasihat tetapi terlalu sedikit memberikan teladan?

Apakah kita hadir secara fisik tetapi absen secara emosional?

Apakah kita menuntut anak memiliki akhlak yang baik sementara mereka menyaksikan perilaku yang bertolak belakang di rumah?

Dan yang paling penting: apakah kita sudah cukup dekat dengan Allah ketika mendidik amanah yang dititipkan-Nya kepada kita?

Sebab pada akhirnya, kita tidak pernah benar-benar bisa “memiliki” anak.

Kita hanya dititipi mereka untuk suatu masa.

Mereka akan tumbuh, memilih jalan hidup, meninggalkan rumah, membangun kehidupannya sendiri, dan suatu hari mungkin menjadi orang tua.

Yang tersisa dari kita bukan seberapa mahal sekolah yang kita pilihkan untuk mereka, bukan seberapa canggih gawai yang kita belikan, dan bukan pula seberapa tinggi nilai akademik mereka.

Yang akan melekat jauh lebih dalam adalah bagaimana mereka pernah diperlakukan di rumah.

Apakah mereka merasa dicintai?

Apakah mereka merasa aman?

Apakah mereka melihat ayah dan ibunya berusaha menjadi manusia yang lebih baik?

Apakah mereka melihat bahwa agama bukan sekadar nasihat, tetapi juga keteladanan?

Indonesia yang kuat dimulai dari rumah-rumah yang mampu melahirkan manusia berilmu, beriman, dan berakhlak.

Karena itu, sebelum kita menghakimi Gen Z, barangkali kita perlu berhenti sejenak untuk intropeksi diri kita.

Bisa jadi generasi yang selama ini kita anggap sebagai masalah justru sedang mengingatkan kita tentang sesuatu yang selama ini kita abaikan.

Dan mungkin, melalui mereka, Allah sedang mengajari kita menjadi orang tua yang lebih sabar, lebih sadar, lebih rendah hati, dan lebih dekat kepada-Nya.

Sebab anak bukan sekadar amanah yang harus kita didik.

Anak juga bisa menjadi jalan yang Allah gunakan untuk mendidik kita.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Hanif Arsyad adalah lulusan Magister Pendidikan Bahasa Inggris USK, berpengalaman sebagai dosen, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya aktif menulis di bidang pendidikan karakter, pengembangan SDM, serta kajian kebahasaan dan sosial. Saat ini, saya mengajar di Universitas Malikussaleh dan Hanna English School sebagai owner yang berlokasi di Aceh Utara. Saya juga menjabat sebagai Koordinator Yayasan Askar Ramadhan di Aceh yang bergerak di bidang sosial, serta dipercaya sebagai Kepala Sekolah Akademi Berbagi untuk klaster Aceh Utara dan Lhokseumawe. Keahlian saya mencakup penulisan ilmiah, editing, dan pendampingan riset.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...