Seulawah dalam Kacamata Masa Lalu dan Masa Depan

Oleh : Kaipal Wahyudi
Tidak banyak kawasan di Aceh yang memiliki makna sejarah, budaya, ekonomi, dan ekologis sedalam Seulawah. Nama ini bukan sekadar merujuk pada gugusan pegunungan yang membentang di Kabupaten Aceh Besar, melainkan juga simbol perjalanan panjang peradaban Aceh yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Seulawah menjadi saksi kejayaan Kesultanan Aceh Darussalam, perjuangan melawan kolonialisme, pengorbanan rakyat dalam mempertahankan Republik Indonesia, hingga kini menyimpan harapan besar sebagai kawasan strategis bagi pembangunan berkelanjutan di Aceh.
Bagi masyarakat Aceh, Seulawah bukan hanya gunung yang berdiri megah. Gunung Seulawah Agam dan Seulawah Inong telah lama menjadi penanda geografis sekaligus ruang hidup masyarakat.
Kawasan ini sejak berabad-abad silam menjadi jalur perdagangan, dakwah Islam, dan mobilitas yang menghubungkan pesisir dengan pedalaman. Karena itu, Seulawah bukan sekadar bentang alam, tetapi bagian dari identitas kolektif masyarakat Aceh.
Dalam tradisi yang berkembang, asal-usul nama Seulawah memiliki beberapa penjelasan. Sebagian mengaitkannya dengan sebutan “Gunung Emas”, sementara tradisi lisan masyarakat mengenalnya sebagai Lembah Selawat, tempat para ulama, saudagar, dan musafir melantunkan zikir serta selawat ketika melintasi kawasan ini menuju pusat-pusat permukiman.
Kisah tersebut menunjukkan bahwa sejak dahulu Seulawah bukan hanya ruang geografis, tetapi juga ruang spiritual yang mempertemukan manusia dengan alam dalam bingkai keislaman yang kuat.
Peran Seulawah semakin penting ketika Kesultanan Aceh Darussalam mencapai puncak kejayaannya pada masa Sultan Iskandar Muda. Hutan-hutan di lerengnya menjadi benteng alami yang melindungi ibu kota kerajaan sekaligus daerah tangkapan air yang menopang pertanian, perkebunan, dan jalur distribusi hasil bumi menuju pelabuhan perdagangan internasional di Selat Malaka.
Tidak mengherankan apabila kawasan ini menjadi bagian penting dari kekuatan ekonomi dan pertahanan Kesultanan Aceh yang pada abad ke-17 dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan terbesar di Asia Tenggara.
Ketika Aceh menghadapi perang melawan kolonial Belanda, Seulawah kembali memainkan peran strategis. Medan pegunungan yang berat, hutan yang lebat, dan kondisi geografis yang sulit ditembus menjadikan kawasan ini sebagai benteng alami bagi para pejuang Aceh. Alam menjadi sekutu masyarakat dalam mempertahankan martabat dan kemerdekaan.
Namun, babak sejarah yang paling dikenang terjadi pada 1948. Ketika Republik Indonesia menghadapi blokade ekonomi dan militer Belanda, Presiden Soekarno menyampaikan kebutuhan negara akan sebuah pesawat yang dapat membuka jalur diplomasi internasional. Seruan itu disambut dengan keikhlasan luar biasa oleh rakyat Aceh.
Melalui Gabungan Saudagar Indonesia Daerah Aceh (GASIDA), ulama, saudagar, petani, hingga masyarakat biasa mengumpulkan emas dan harta benda yang mereka miliki. Salah satu tokoh yang dikenang hingga kini adalah Teungku Nyak Sandang yang menyerahkan emas hasil jerih payahnya demi kepentingan republik. Dari semangat gotong royong itulah lahir pesawat Dakota DC-3 RI-001 Seulawah, yang kemudian menjadi simbol pengorbanan rakyat Aceh bagi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
RI-001 Seulawah bukan sekadar pesawat. Ia menjadi lambang bahwa republik ini dibangun bukan hanya dengan kekuatan senjata, tetapi juga oleh ketulusan rakyat yang rela mengorbankan harta demi masa depan bangsa. Pesawat tersebut menjadi bagian penting dalam membuka jalur diplomasi, distribusi logistik, dan komunikasi internasional ketika Indonesia menghadapi blokade. Karena itu, Seulawah memiliki posisi istimewa dalam sejarah penerbangan nasional yang kemudian berkembang menjadi Garuda Indonesia.
Namun sejarah tidak boleh berhenti sebagai cerita heroik semata. Nilai sejarah seharusnya menjadi inspirasi bagi generasi hari ini dalam menentukan arah pembangunan masa depan. Jika dahulu rakyat Aceh menjaga republik dengan emas yang mereka miliki, kini generasi sekarang dituntut menjaga “emas” yang sesungguhnya, yaitu alam Seulawah.
Hingga kini kawasan Seulawah tetap menjadi salah satu benteng ekologis terpenting di Aceh. Hutan-hutannya merupakan daerah tangkapan air yang memasok kebutuhan masyarakat Aceh Besar dan sekitarnya. Sungai-sungai yang berhulu di kawasan ini menghidupi pertanian, perkebunan, serta kebutuhan air bersih masyarakat.
Di balik rimbunnya pepohonan juga tersimpan kekayaan flora dan fauna yang menjadi bagian penting dari ekosistem hutan tropis Sumatra.
Selain itu, berbagai kajian geologi menunjukkan bahwa Seulawah memiliki potensi panas bumi yang besar untuk dikembangkan sebagai energi terbarukan. Di tengah meningkatnya kebutuhan energi bersih dan tantangan perubahan iklim, potensi tersebut menjadi harapan baru bagi Aceh.
Jika dahulu Seulawah melahirkan pesawat yang membantu menyelamatkan republik, kini kawasan yang sama menyimpan energi yang berpotensi menopang pembangunan masa depan.
Namun seluruh potensi tersebut hanya akan memberikan manfaat apabila kelestarian kawasan tetap dijaga. Hutan yang rusak bukan hanya menghilangkan pepohonan, tetapi juga mengancam sumber air, meningkatkan risiko banjir dan longsor, merusak keanekaragaman hayati, serta mengganggu kehidupan masyarakat yang bergantung pada alam. Karena itu, pembalakan liar, perambahan hutan, dan eksploitasi sumber daya alam yang mengabaikan prinsip keberlanjutan harus menjadi perhatian serius semua pihak.
Di sisi lain, Seulawah juga sedang menghadapi tantangan baru akibat perubahan pola pembangunan. Kehadiran Jalan Tol Sigli–Banda Aceh membawa manfaat besar bagi konektivitas dan efisiensi transportasi. Waktu tempuh menjadi lebih singkat, distribusi logistik semakin lancar, dan mobilitas masyarakat meningkat. Dari perspektif pembangunan nasional, keberadaan jalan tol merupakan langkah maju yang patut diapresiasi.
Namun, di balik manfaat tersebut terdapat konsekuensi yang dirasakan masyarakat di sepanjang jalur nasional lama. Kawasan Saree dan Lembah Seulawah yang selama puluhan tahun hidup dari aktivitas persinggahan para pengguna jalan kini mengalami penurunan aktivitas ekonomi. Warung kopi tidak lagi seramai dahulu, rumah makan kehilangan pelanggan, pedagang Keripik Saree merasakan penurunan penjualan, begitu pula para pedagang hasil bumi dan usaha kecil lainnya.
Padahal selama ini jalan nasional Seulawah bukan sekadar infrastruktur transportasi. Kawasan tersebut telah berkembang menjadi ruang sosial sekaligus ruang ekonomi masyarakat. Banyak orang singgah menikmati kopi dengan panorama pegunungan, membeli keripik Saree sebagai oleh-oleh, beristirahat di rumah makan, hingga membeli hasil pertanian masyarakat. Aktivitas singgah inilah yang selama bertahun-tahun menjadi urat nadi ekonomi kawasan.
Fenomena tersebut sebenarnya juga terjadi di berbagai daerah lain ketika jalan bebas hambatan dibangun. Karena itu, pembangunan infrastruktur perlu diiringi kebijakan transisi yang mampu melindungi masyarakat lokal agar tidak menjadi pihak yang paling terdampak.
Kemajuan seharusnya tidak hanya diukur dari cepatnya perjalanan, tetapi juga dari kemampuan menjaga keberlangsungan kehidupan masyarakat yang telah tumbuh bersama kawasan tersebut.
Oleh sebab itu, pemerintah daerah, pemerintah pusat, dan pengelola jalan tol perlu memikirkan masa depan Saree dan Lembah Seulawah secara bersama-sama. Jalan tol tetap berfungsi sebagai jalur utama mobilitas cepat, sementara jalan nasional dapat dikembangkan sebagai koridor ekonomi, sejarah, budaya, dan pariwisata.
Berbagai alternatif dapat dikaji, seperti penguatan destinasi wisata Seulawah, promosi UMKM lokal, penyediaan ruang khusus bagi produk Aceh di rest area jalan tol, hingga penyelenggaraan agenda budaya dan wisata yang mampu menarik masyarakat kembali singgah di kawasan tersebut.
Seulawah sesungguhnya memiliki modal besar yang belum dimanfaatkan secara optimal. Panorama pegunungan yang indah, udara yang sejuk, jalur pendakian Gunung Seulawah Agam, Pusat Latihan Gajah Saree, sejarah RI-001 Seulawah, budaya warung kopi, serta Keripik Saree merupakan kekayaan yang tidak dimiliki banyak daerah. Apabila dikembangkan secara terpadu, kawasan ini dapat menjadi destinasi unggulan yang menggabungkan wisata sejarah, wisata alam, agrowisata, dan wisata budaya sekaligus menghidupkan kembali ekonomi masyarakat.
Dalam konteks tersebut, pembangunan tidak boleh hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga harus menjaga keseimbangan antara pelestarian lingkungan, kesejahteraan masyarakat, dan keberlanjutan budaya.
Sejarah telah membuktikan bahwa Seulawah selalu menjadi bagian penting dari perjalanan Aceh. Kini tantangannya adalah memastikan kawasan ini tetap menjadi sumber kehidupan bagi generasi mendatang.
Pengembangan potensi panas bumi pun harus dilaksanakan secara hati-hati. Energi bersih memang penting, tetapi pembangunan tidak boleh mengorbankan kelestarian hutan, sumber mata air, maupun hak masyarakat yang telah lama hidup berdampingan dengan alam. Setiap kebijakan harus didasarkan pada kajian ilmiah yang matang, analisis dampak lingkungan yang ketat, dan partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan.
Menjaga Seulawah bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Aparat penegak hukum, Polisi Kehutanan, Balai Konservasi Sumber Daya Alam, Kesatuan Pengelolaan Hutan, pemerintah daerah, mukim, keuchik, akademisi, pelaku usaha, hingga masyarakat harus memperkuat sinergi menjaga kawasan ini dari pembalakan liar, pertambangan ilegal, dan berbagai bentuk kerusakan lingkungan lainnya. Alam yang lestari akan menjadi fondasi utama bagi pembangunan Aceh yang berkelanjutan.
Pada akhirnya, berbicara tentang Seulawah berarti berbicara tentang tanggung jawab antargenerasi. Sejarah telah menunjukkan bagaimana rakyat Aceh menghadiahkan emas mereka demi berdirinya republik. Kini sejarah kembali mengajukan pertanyaan kepada generasi hari ini: mampukah kita menjaga “Gunung Emas” yang sesungguhnya agar tetap menjadi sumber kehidupan bagi anak cucu?
Ukuran kemajuan tidak hanya ditentukan oleh panjangnya jalan tol, tingginya investasi, atau cepatnya mobilitas, tetapi juga oleh kemampuan menjaga hutan tetap hijau, sungai tetap mengalir, budaya tetap hidup, UMKM terus berkembang, dan masyarakat merasakan manfaat yang adil dari setiap proses pembangunan.
Seulawah mengajarkan bahwa pengorbanan, kearifan, dan keberlanjutan adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Jika dahulu gunung ini menjadi simbol pengorbanan untuk membangun Indonesia, maka hari ini Seulawah memanggil kita untuk membangun masa depan Aceh dengan menjaga alamnya, menghidupkan ekonominya, merawat budayanya, serta memastikan bahwa setiap kebijakan pembangunan selalu berpihak kepada manusia dan lingkungan. Sebab Seulawah bukan sekadar warisan sejarah, melainkan amanah peradaban yang harus dijaga bersama demi masa depan Aceh.












