Puisi

Merajut Sepotong Senja

Juni 2026



Puisi Anies Septivirawan


‎Waktu tlah mencetak kita tergeletak
‎kembali di serambi yang sama 
‎Kemarin tawa kita pecah
‎seperti kaca, 
‎kini mengendap seperti embun
‎ di dedaunan tua

‎Nama-nama itu kembali jadi mantra 
‎dibisik pelan, takut membangunkan kenangan 
‎yang tidur nyenyak di lipatan seragam 
‎yang sudah kekecilan untuk badan, 
‎tapi pas sekali untuk jiwa

‎Ada kursi kosong yang tak berani
‎kita tanya 
‎hanya angin yang tahu jawabnya 
‎dan ia menjawab dengan hening 
‎dengan cara meniup lilin
‎di kue ulang tahun 
‎yang sudah sebelas kali kita lewatkan tanpanya

‎Kita berjabat tangan, 
‎padahal inginnya memeluk tahun-tahun 
‎yang mencuri pipi kita, 
‎menukar rambut hitam dengan perak 
‎tanpa minta izin

‎Reuni bukanlah pertemuan  semata
‎Ia adalah doa yang dirapalkan bersama 

‎Agar yang pergi tetap tinggal di cerita 
‎Agar yang tinggal tetap setia di dalam doa

‎Senja pun turun, memisah lagi 
‎tapi kali ini
‎kita pulang membawa
‎sisa cahaya 
‎untuk dinyalakan di dada, 

‎Hari ini kita menutup jarak
‎dengan tawa 
‎Menutup rindu dengan peluk 
‎Menutup luka dengan ingatan

‎Mungkin ini bukan perpisahan 
‎Hanya jeda panjang 
‎Sebelum semesta mengatur kita bertemu lagi 
‎Pada ruang yang waktunya lebih murah 
‎Pada bangku yang tak lagi menghitung usia kita

‎Bawa pulang sajalah, cahaya ini 
‎Simpan di saku paling dalam 
‎Untuk hari-hari sepi 
‎Agar kita ingat  bahwa
‎Dulu kita pernah muda bersama 
‎Dan hari ini, kita memilih tetap setia bersama

‎Sampai bertemu pada bait berikutnya 
‎Jaga sehat, jaga cerita 
‎Jaga nama baik kita di langit


‎Situbondo, ujung Juni 26

Tentang Penulis
Anies Septivirawan adalah penikmat tulisan seni sastra dan budaya. Ia gemar menulis puisi sejak tahun 1995 sampai saat ini. Ia bergabung dengan himpunan penulis penyair dan pengarang nusantara (HP3N) Kota Batu dan SATUPENA Jawa Timur. Anies Lahir di kelurahan Dawuhan, Situbondo, Jawa Timur. Aktivitasnya sehari-hari sebagai wartawan media online. Baginya, menulis adalah upaya mengusir ion -ion negatif di dalam tubuh agar tetap sehat dan panjang umur. Ia sudah menulis 3 buku antologi puisi tunggal dan puisi-puisinya juga menyemarakkan sejumlah buku antologi bersama. Puisinya dan tulisan lainnya juga pernah satu buku dengan Gol A Gong. Buku antologi puisi tunggalnya yang pertama berjudul "Luka dan Kota Sepi Literasi", yang kedua adalah "Menimang Rindu Senja Kala" dan buku yang ketiga berjudul "Dua Senja Menyulam Damai"

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Puisi terbaru untuk dibaca

Populer

Puisi yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir