Puisi Anies Septivirawan
Waktu tlah mencetak kita tergeletak
kembali di serambi yang sama
Kemarin tawa kita pecah
seperti kaca,
kini mengendap seperti embun
di dedaunan tua
Nama-nama itu kembali jadi mantra
dibisik pelan, takut membangunkan kenangan
yang tidur nyenyak di lipatan seragam
yang sudah kekecilan untuk badan,
tapi pas sekali untuk jiwa
Ada kursi kosong yang tak berani
kita tanya
hanya angin yang tahu jawabnya
dan ia menjawab dengan hening
dengan cara meniup lilin
di kue ulang tahun
yang sudah sebelas kali kita lewatkan tanpanya
Kita berjabat tangan,
padahal inginnya memeluk tahun-tahun
yang mencuri pipi kita,
menukar rambut hitam dengan perak
tanpa minta izin
Reuni bukanlah pertemuan semata
Ia adalah doa yang dirapalkan bersama
Agar yang pergi tetap tinggal di cerita
Agar yang tinggal tetap setia di dalam doa
Senja pun turun, memisah lagi
tapi kali ini
kita pulang membawa
sisa cahaya
untuk dinyalakan di dada,
Hari ini kita menutup jarak
dengan tawa
Menutup rindu dengan peluk
Menutup luka dengan ingatan
Mungkin ini bukan perpisahan
Hanya jeda panjang
Sebelum semesta mengatur kita bertemu lagi
Pada ruang yang waktunya lebih murah
Pada bangku yang tak lagi menghitung usia kita
Bawa pulang sajalah, cahaya ini
Simpan di saku paling dalam
Untuk hari-hari sepi
Agar kita ingat bahwa
Dulu kita pernah muda bersama
Dan hari ini, kita memilih tetap setia bersama
Sampai bertemu pada bait berikutnya
Jaga sehat, jaga cerita
Jaga nama baik kita di langit
Situbondo, ujung Juni 26
Diskusi