Puisi

Benarkah Negaraku Sudah Merdeka?

06 Agustus 2026
Oleh: Juni Ahyar


Oleh Juni Ahyar

Tujuh belas Agustus kembali mengetuk langit negeri,
merah putih berkibar
menyulam sejarah yang tak pernah letih dikenang.
Anak-anak berlari membawa tawa,
lagu “Indonesia Raya” menggema
di antara tiang-tiang harapan.

Namun,
di sudut-sudut kampung yang sunyi
aku mendengar pertanyaan
yang tak pernah selesai dijawab.

Benarkah negaraku sudah merdeka?

Bukankah merdeka
adalah lepas dari belenggu,
berdiri di atas kaki sendiri,
bebas menentukan arah
tanpa takut,
tanpa dipaksa,
tanpa bergantung pada siapa pun?

Leluhur menyebutnya
maharddhika
hidup yang bermartabat,
sejahtera,
kuat,
dan bebas.

Tetapi hari ini…

Mengapa negeri yang pernah dipuji
karena kekayaan perut buminya,
masih menyaksikan rakyat
mengantre berjam-jam
demi setetes bahan bakar?

Mengapa ibu-ibu
menggenggam tabung gas kosong
lebih lama
daripada menggenggam senyum anaknya?

Mengapa sawah yang menghijau
tak selalu menghadirkan
beras yang ramah di kantong rakyat?

Mengapa semen
lahir dari tanah sendiri,
tetapi rumah sederhana
masih menjadi mimpi
karena harganya terus meninggi?

Dan mengapa…

Jalan menuju sekolah
masih berlubang
seakan cita-cita anak bangsa
harus tersandung
sebelum sampai ke gerbang masa depan?

Jembatan-jembatan rapuh
menjadi saksi
bahwa langkah kecil menuju ilmu
masih dipertaruhkan
dengan keberanian.

Lalu terdengar keluhan
yang menggema dari pasar,
dari sawah,
dari pelabuhan,
dari gang-gang sempit kota,
dari ruang makan
yang semakin sunyi.

Pajak datang
bertubi-tubi.
Harga naik
silih berganti.
Sementara harapan
sering kali berjalan lebih lambat
daripada kebutuhan hidup.

Aku tak sedang menyalahkan negeri.

Aku hanya bertanya,
sebab cinta
selalu lahir dari keberanian
untuk mengingatkan.

Bukankah kemerdekaan
bukan sekadar
mengusir penjajah?

Bukankah kemerdekaan
adalah ketika rakyat
tak lagi diperbudak oleh kemiskinan,
tak terbelenggu oleh ketidakadilan,
tak dipenjara oleh birokrasi,
dan tak dipatahkan
oleh sulitnya memenuhi kebutuhan hidup?

Kemerdekaan
bukan hanya tentang
bendera yang berkibar.

Tetapi tentang
perut yang kenyang,
sekolah yang mudah dijangkau,
jalan yang layak dilalui,
energi yang tersedia,
petani yang tersenyum,
nelayan yang pulang
dengan harapan,
guru yang dihormati,
dan anak-anak
yang berani bermimpi
tanpa dibatasi keadaan.

Jika semua itu
belum sepenuhnya hadir,
maka perjuangan
belum benar-benar selesai.

Pada tujuh belas Agustus nanti,
izinkan aku tetap berdiri tegak
menghormat Sang Saka Merah Putih.

Sebab aku percaya,
mencintai Indonesia
bukan hanya dengan tepuk tangan,
tetapi juga dengan keberanian
mengoreksi,
membangun,
dan menjaga.

Semoga suatu hari,
tak ada lagi yang bertanya,

Benarkah negaraku sudah merdeka?”

Karena jawabannya
akan terdengar
dari senyum rakyat
yang hidup adil,
makmur,
dan bermartabat.

Itulah kemerdekaan
yang sesungguhnya.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
Tentang Penulis

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Puisi terbaru untuk dibaca

Populer

Puisi yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir