Puisi

Puisi Jalan Lurus Din Saja

25 Agustus 2026
Oleh: Redaksi

Puisi-Puisi yang akan dibaca di Pembacaan Puisi Jalan Lurus karya Din Saja

O

hati

kuberikan pada manusia

pikiran

menuju Tuhan

lalu

kuarungi samudera

sambil

menebar jala ke segala arah,

dalam diam kubaca gerak

dalam gerak kutangkap isyarat

dalam isyarat kulihat hakikat

bertemu dingin yang tak kuingin

– Engkau di atas tak berhingga tak berbatas?

kucari pada wanita entah tak kusimak dada umaraentah tak kubaca jiwa ulama entah tak kulihat akukecewa dicerca aku pun meronta merambah apa sajatubuh terluka hati semakin menganga aku pun berlarimenderu hati dan jiwa pun semakin dingin sadar taksadar seluruh pikir tak rasa dalam dingin tiada semakinberjarak aku kehilangan arah kehilangan Kau hatibagai singa meronta mencakar mencabik cabikkesendirianku Tuhan berdarah ia menerjangkeinsananku ia meronta menembus belantara gelaprimba Mu ia marah tapi bukan kemarahan ia membencitapi bukan dendam ia memaki tapi bukan kesakitan iameronta tapi bukan perlawanan ia menjangkau Tuhanmencakar jantung hatiku tercabik dan berdarah iamencakar cakar keinsananku dengan kalap ia melesatmenghampiri diri Mu o tak sederhana hidup semakinjelas Allah!

Banda Aceh, 1992

Pemabuk

seorang pemabuk bertanya-tanya,

mengapa Tuhan memilih Al Adawiyah sebagai kekasih?

wanita menolak birahi sufi, di altar kemabukan?

wanita  setia melupa rupa

harga jiwa? melabuh di teluk pantai sunyi

di surga Adam hilang muka. cinta.

Tuhan dan Al Adawiyah. Semesta

Banda Aceh, 2009

makna sebuah kata 

tak bermakna tak berbentuk

makna sebuah bentuk tinggalkan diri

bagai kepompong

arti yang tersia

kaca yang pecah

makna apakah yang tercari

makna mana yang terdiri

bunga apakah yang bercahaya

bunga yang tersia

bunga yang terpuja lupa

bunga kelopak tak bersayap

bunga apakah dalam malam merekah gairah

bunga dalam diam membelah malam

bunga yang terlupa

dalam laut tak terjangkau angan

dalam jiwa terkalahkan

dalam perkawinan pertemuan terlupakan

dalam kematian hilang ingatan

dalam kegelapan

pada pusaran

titik putaran kesadaran

pada percikan

keyakinan tak terkalahkan

dalam ketaksadaran sekalipun

kesadaran cahaya melesat

melupa ingat

ini jiwa cari apa?

hati yang senyap

angin ingatan

bawa pengertian mupuk kesadaran

rembulan keadaan semu

matahari nanggung rindu

pungguk nyanyikan dahan yang diam

perempuan kelam melupa rindu

ada yang tertinggal dan terlupakan

biarkan aku tenggelam

dalam pusaran ketiadaan

kucari kesadaran kelam

kutemu terang yang meniadakan

ada angin yang terlupa dalam ingatan

angin yang membangunkan

kubakar rindu dengan angin

baranya musnahkan diri

angin senja mukul-mukul jendela

pintu yang terbuka

doa-doa adalah keinginan

berlarian di antara debu

melepas malam yang embun

doa-doa adalah daun-daun

kering di pucuk ranting

dan terjatuh tanpa memilih

doa-doa adalah ribuan kata 

bermunajat menuju pasrah

dari cahaya-cahaya menyilaukan

Kemerdekaan

lelaki yang muncul dari kegaiban malam
merupakan kehendak yang gaib
menunggu pelaksanaan

ia tegak dihadapan Tuhan
ia mengucap salam
disambut dengan mesra

ia menerima pengakuan
pendengaran dan hati nurani

lalu terpancar Kalimatullah

tersimpul dalam deklarasi manusia
inilah janji Sang Kehendak
pada makhluk ciptaanNya

tiada engkau akan lapar
tiada engkau akan telanjang
tiada engkau akan dahaga
tiada engkau akan panas

maka berjalanlah ia dipagi cerah
dengan tubuh telanjang
dengan dahaga sangat
dengan lapar melilit
dengan panas menyengat

hari itu pertama baginya
di bumi yang masih asing
ia terus mengamati segala arah
karena ia sendiri yang akan menjaga
dan mempertahankan hidupnya

Banda Aceh, 1991

Rayu

sabarlah engkau duhai hatiku

sebentar juga perjalanan sampai

engkau pasti dapat bertemu

dengan kekasih nanti melambai

tabahlah engkau wahai diriku

meski berbaju tambal tak ganti

nanti di sana yang engkau tuju

selimut menjadi bahagian diri

kayuh perahu usah mendesah

menuju halaman kampung idaman

mari jiwaku kita berbenah

agar menyesal tiada kudian

Banda Aceh, April 1991

Mawar

sekuntum mawar

batangnya alif

daunnya lam

kelopaknya mim

mekar dalam hati

Banda Aceh, Maret 1993

Tuhan, Inilah Ikrar

bersujud dihadapan-Mu

adalah kemerdekaan

akal pikiran

setelah melewati alam ketaksadaran

kutemukan satu kenyataan

bahwa kesadaran merupakan landasan

dari dada cahaya berpijar

menembus pikiran

merambah jalan kepada-Mu

aku hidup

aku bebas

aku sujud

pada-Mu

Banda Aceh, 1993

Masjid

di dalam ruang tak bermakna ini

diriku hadir dengan nyata

segala yang tiada menjadi ada

aku seperti robot tak bernama

menyanyikan lagu cinta

di alam semesta batin yang merona

di dalam ruang bermakna ini

diriku sirna dan hampa

segala yang ada menjadi tiada

ingin kuakhiri pengembaraan ini

dalam sunyi

dan pertemuan itu abadi

Banda Aceh, 3 Oktober 1994

Aku-Dia

kalau dia mencintai

inginkan diri, wahai daun

adakah mati pengorbanan

pertemuan yang diimpikan

diri tak berarti

tinggalkan jasad

debu tak mengikat

keinginan lumat

seribu pupus

rupa kembali

ke tiada

Banda Aceh, 1994

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
Tentang Penulis
Media Perempuan Kritis dan Cerdas

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Puisi terbaru untuk dibaca

Populer

Puisi yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir