Puisi-Puisi yang akan dibaca di Pembacaan Puisi Jalan Lurus karya Din Saja
O
hati
kuberikan pada manusia
pikiran
menuju Tuhan
lalu
kuarungi samudera
sambil
menebar jala ke segala arah,
dalam diam kubaca gerak
dalam gerak kutangkap isyarat
dalam isyarat kulihat hakikat
bertemu dingin yang tak kuingin
– Engkau di atas tak berhingga tak berbatas?
kucari pada wanita entah tak kusimak dada umaraentah tak kubaca jiwa ulama entah tak kulihat akukecewa dicerca aku pun meronta merambah apa sajatubuh terluka hati semakin menganga aku pun berlarimenderu hati dan jiwa pun semakin dingin sadar taksadar seluruh pikir tak rasa dalam dingin tiada semakinberjarak aku kehilangan arah kehilangan Kau hatibagai singa meronta mencakar mencabik cabikkesendirianku Tuhan berdarah ia menerjangkeinsananku ia meronta menembus belantara gelaprimba Mu ia marah tapi bukan kemarahan ia membencitapi bukan dendam ia memaki tapi bukan kesakitan iameronta tapi bukan perlawanan ia menjangkau Tuhanmencakar jantung hatiku tercabik dan berdarah iamencakar cakar keinsananku dengan kalap ia melesatmenghampiri diri Mu o tak sederhana hidup semakinjelas Allah!
Banda Aceh, 1992
Pemabuk
seorang pemabuk bertanya-tanya,
mengapa Tuhan memilih Al Adawiyah sebagai kekasih?
wanita menolak birahi sufi, di altar kemabukan?
wanita setia melupa rupa
harga jiwa? melabuh di teluk pantai sunyi
di surga Adam hilang muka. cinta.
Tuhan dan Al Adawiyah. Semesta
Banda Aceh, 2009
makna sebuah kata
tak bermakna tak berbentuk
makna sebuah bentuk tinggalkan diri
bagai kepompong
arti yang tersia
kaca yang pecah
makna apakah yang tercari
makna mana yang terdiri
bunga apakah yang bercahaya
bunga yang tersia
bunga yang terpuja lupa
bunga kelopak tak bersayap
bunga apakah dalam malam merekah gairah
bunga dalam diam membelah malam
bunga yang terlupa
dalam laut tak terjangkau angan
dalam jiwa terkalahkan
dalam perkawinan pertemuan terlupakan
dalam kematian hilang ingatan
dalam kegelapan
pada pusaran
titik putaran kesadaran
pada percikan
keyakinan tak terkalahkan
dalam ketaksadaran sekalipun
kesadaran cahaya melesat
melupa ingat
ini jiwa cari apa?
hati yang senyap
angin ingatan
bawa pengertian mupuk kesadaran
rembulan keadaan semu
matahari nanggung rindu
pungguk nyanyikan dahan yang diam
perempuan kelam melupa rindu
ada yang tertinggal dan terlupakan
biarkan aku tenggelam
dalam pusaran ketiadaan
kucari kesadaran kelam
kutemu terang yang meniadakan
ada angin yang terlupa dalam ingatan
angin yang membangunkan
kubakar rindu dengan angin
baranya musnahkan diri
angin senja mukul-mukul jendela
pintu yang terbuka
doa-doa adalah keinginan
berlarian di antara debu
melepas malam yang embun
doa-doa adalah daun-daun
kering di pucuk ranting
dan terjatuh tanpa memilih
doa-doa adalah ribuan kata
bermunajat menuju pasrah
dari cahaya-cahaya menyilaukan
Kemerdekaan
lelaki yang muncul dari kegaiban malam
merupakan kehendak yang gaib
menunggu pelaksanaan
ia tegak dihadapan Tuhan
ia mengucap salam
disambut dengan mesra
ia menerima pengakuan
pendengaran dan hati nurani
lalu terpancar Kalimatullah
tersimpul dalam deklarasi manusia
inilah janji Sang Kehendak
pada makhluk ciptaanNya
tiada engkau akan lapar
tiada engkau akan telanjang
tiada engkau akan dahaga
tiada engkau akan panas
maka berjalanlah ia dipagi cerah
dengan tubuh telanjang
dengan dahaga sangat
dengan lapar melilit
dengan panas menyengat
hari itu pertama baginya
di bumi yang masih asing
ia terus mengamati segala arah
karena ia sendiri yang akan menjaga
dan mempertahankan hidupnya
Banda Aceh, 1991
Rayu
sabarlah engkau duhai hatiku
sebentar juga perjalanan sampai
engkau pasti dapat bertemu
dengan kekasih nanti melambai
tabahlah engkau wahai diriku
meski berbaju tambal tak ganti
nanti di sana yang engkau tuju
selimut menjadi bahagian diri
kayuh perahu usah mendesah
menuju halaman kampung idaman
mari jiwaku kita berbenah
agar menyesal tiada kudian
Banda Aceh, April 1991
Mawar
sekuntum mawar
batangnya alif
daunnya lam
kelopaknya mim
mekar dalam hati
Banda Aceh, Maret 1993
Tuhan, Inilah Ikrar
bersujud dihadapan-Mu
adalah kemerdekaan
akal pikiran
setelah melewati alam ketaksadaran
kutemukan satu kenyataan
bahwa kesadaran merupakan landasan
dari dada cahaya berpijar
menembus pikiran
merambah jalan kepada-Mu
aku hidup
aku bebas
aku sujud
pada-Mu
Banda Aceh, 1993
Masjid
di dalam ruang tak bermakna ini
diriku hadir dengan nyata
segala yang tiada menjadi ada
aku seperti robot tak bernama
menyanyikan lagu cinta
di alam semesta batin yang merona
di dalam ruang bermakna ini
diriku sirna dan hampa
segala yang ada menjadi tiada
ingin kuakhiri pengembaraan ini
dalam sunyi
dan pertemuan itu abadi
Banda Aceh, 3 Oktober 1994
Aku-Dia
kalau dia mencintai
inginkan diri, wahai daun
adakah mati pengorbanan
pertemuan yang diimpikan
diri tak berarti
tinggalkan jasad
debu tak mengikat
keinginan lumat
seribu pupus
rupa kembali
ke tiada
Banda Aceh, 1994
Diskusi