Selasa, April 21, 2026

Kepiting Dalam Baskom

Maret 2026
Oleh: Ririe Aiko

Di baskom seng yang dingin dan sempit,
air mengendap dalam anyir yang pekat.
Capit-capit kecil beradu lirih,
merayap pelan di dasar getir.

Tak ada ombak.
Tak ada muara.
Hanya dinding bundar
dan nasib yang tak kunjung longgar

Seekor kepiting kecil
mendaki diantara tepi yang licin
bukan karena tak tahu diri
bukan karena merasa ahli
Ia hanya ingin keluar sejenak
dari asin hidup yang retak,
menyentuh terang barang sesaat
sebelum gelap kembali rapat.

Namun dasar yang lama ditinggali
sering menumbuhkan dengki yang rapi.
Capit-capit lain pun meraih tubuh yang nyaris diatas

Bukan untuk menyangga,
bukan untuk menjaga,
melainkan memastikan
tak ada yang lebih dulu tiba

Dan tubuh kecil itu pun luruh
Jatuh ke air beku,
ke dasar paling keruh.
Tak ada jerit.
Tak ada riuh.
Hanya bunyi kecil
dari harap yang runtuh.

Begitulah makhluk bercapit
lebih rela karam bersama
daripada melihat satu saja
lebih dulu selamat.

Brebes, Maret 2026

Tentang Penulis
Ririe Aiko adalah seorang penulis dan pegiat literasi asal Bandung yang dikenal karena konsistensinya dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan melalui karya sastra, khususnya puisi esai. Sejak remaja, ia telah menjadikan dunia menulis sebagai rumahnya. Ia mulai dikenal pada 2006 lewat karya pertamanya Senorita yang memenangkan Lomba Penulisan Naskah TV di Tabloid Gaul dan kemudian diadaptasi menjadi FTV oleh salah satu stasiun televisi nasional. Perjalanan kepenulisan Ririe berakar dari genre horor dan roman, dua dunia yang memberinya ruang untuk menggali sisi gelap dan getir kehidupan. Cerpen-cerpen horornya bahkan sering menjadi trending dan memenangkan penghargaan di berbagai platform, termasuk Arum Kencana yang menjuarai lomba cerpen Elex Novel. Namun di tengah jejak panjang fiksi populernya, Ririe justru menemukan makna baru dalam genre puisi esai—sebuah ruang tempat ia bisa bersuara lebih lantang tentang luka sosial, ketidakadilan, dan harapan yang tertindas. Pada 2024, Ririe menerbitkan buku antologi pertamanya yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama berjudul KKN, sebuah karya kolaboratif yang mempertemukannya dengan pembaca lebih luas. Setahun kemudian, ia menerbitkan buku puisi esai mini bertajuk Sajak dalam Koin Kehidupan (2025), sebagai tonggak awal perjalanannya menapaki genre puisi esai secara lebih mendalam. Tak berhenti di sana, ia menantang dirinya untuk menulis puisi esai setiap hari selama 30 hari di bulan Ramadhan—yang kini tengah dirangkai menjadi buku puisi esai mini bertajuk Airmata Ibu Pertiwi. Ririe juga merupakan Founder Gerakan Literasi Bandung, sebuah inisiatif yang bertujuan menumbuhkan kembali kecintaan anak-anak terhadap buku di era digital. Melalui program berbagi buku, kelas kreatif, dan kegiatan literasi berbasis komunitas, ia membangun jembatan antara dunia literasi dan tantangan teknologi masa kini. Selain menulis, Ririe aktif sebagai kreator video berbasis Artificial Intelligence, menjelajah cara-cara baru dalam menyampaikan pesan melalui medium visual. Baginya, menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan menyalakan cahaya kecil di tengah gelapnya kenyataan—cara untuk berdamai, berjuang, dan tetap bertahan di dunia yang sering kali bisu terhadap suara-suara kecil.

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Puisi terbaru untuk dibaca

Populer

Puisi yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist