Tarian Hosnatun yang Tidak Berhenti di Tengah Badai

Oleh Anies Septivirawan
Alkisah pada tengah malam, suara tangis sang bayi laki – laki memecah hening dan sepi. Bayi laki – laki itu adalah Hosnatun. Ia lahir di balik tobong seusai sang ibu menyajikan tari topeng di pelataran balai pemerintah desa.
Tangisan bayi itu seperti meratapi nasib dirinya kelak pada puluhan tahun yang akan datang. Tangisan itu pula seperti meratapi nasib tari topeng tradisi para leluhurnya.
Dan saat ini bukanlah mimpi yang dialami Hosnatun. Ia tidak sedang bermimpi melanjutkan tangisan tentang nasib tradisi tari topeng warisan dari leluhurnya yang tergerus oleh arus kesenian modern.
Namun Hosnatun mampu menghapus tangisan itu. Karena ia anggap tari topeng adalah kekasihnya yang ia cintai dan sayangi. Lembar usang yang bercerita tangis itu pun berganti bahagia.
Ia bahagia menerima takdirnya sebagai guru dan penari topeng yang dicintai dan disegani para anak didiknya di kota kecil ujung timur pulau Jawa.
Ketika senja mulai menyapa sang guru tari topeng itu, ritme gerak tubuh baginya adalah nafas. Nafas itu mesti terus berhembus kendati para pemangku negeri tidak perduli. Tidak pernah perduli memberikan ruang bagi nafas yang bagi Hosnatun itu adalah tari topeng.
Namun Hosnatun tidaklah bermental pengemis. Ia semakin kencang melangkah, menggenggam tari topeng, merangkul anak – anak didiknya. Ia harus bertahan dan menggenggam erat tradisi warisan sang leluhur di tangan kanannya.
Sementara itu, di genggaman tangan kirinya, ada badai dan tsunami kesenian modern pun menari-nari, meledek dari balik layar gadget yang siap menggempur hatinya.
Hosnatun bersama anak – anak zaman yang lain semakin intens bergerak dalam tarian seleksi semesta. Semesta pun takdzim, Hosnatun berteriak kepada angin yang datang dari seluruh penjuru,
”Aku tidak akan berhenti menari bersama anak – anakku, bersama ilalang – ilalang, bersama mereka yang tidak pernah takut memasuki malam….!!!!”













