Esai · Potret Online

Tarian Hosnatun yang Tidak Berhenti di Tengah Badai

Penulis  Anies Septivirawan
Juli 10, 2026
2 menit baca 13
1cfa92e3-27eb-41ad-b8a6-7142b8038afd
Foto / IlustrasiTarian Hosnatun yang Tidak Berhenti di Tengah Badai

‎ Oleh Anies Septivirawan 

‎Alkisah pada tengah malam,  suara tangis  sang bayi laki – laki memecah  hening dan sepi. Bayi laki – laki itu adalah Hosnatun.  Ia lahir di balik tobong seusai sang ibu menyajikan tari topeng di pelataran balai pemerintah desa. 

‎Tangisan bayi itu seperti meratapi nasib dirinya kelak pada puluhan tahun yang akan datang. Tangisan itu pula seperti meratapi nasib tari topeng tradisi para leluhurnya. 

‎Dan saat ini bukanlah mimpi yang dialami Hosnatun. Ia tidak sedang bermimpi melanjutkan tangisan tentang nasib tradisi tari topeng warisan dari leluhurnya yang tergerus oleh arus kesenian modern.

‎Namun Hosnatun mampu menghapus tangisan itu. Karena ia anggap tari topeng adalah kekasihnya yang ia cintai dan sayangi.  Lembar usang yang bercerita tangis itu pun berganti bahagia. 

‎Ia bahagia menerima takdirnya sebagai guru dan penari topeng yang dicintai dan disegani para anak didiknya di kota kecil ujung timur pulau Jawa. 

‎Ketika senja mulai menyapa sang guru tari topeng itu, ritme gerak tubuh baginya adalah nafas. Nafas itu mesti terus berhembus kendati para pemangku negeri tidak perduli.  Tidak pernah perduli memberikan ruang bagi nafas yang bagi Hosnatun itu adalah tari topeng. 

‎Namun Hosnatun tidaklah bermental pengemis. Ia semakin kencang melangkah,  menggenggam tari topeng, merangkul anak – anak didiknya. Ia harus bertahan dan menggenggam erat tradisi warisan sang leluhur di tangan kanannya. 

‎Sementara itu, di genggaman tangan kirinya, ada badai dan tsunami kesenian modern pun menari-nari, meledek dari balik layar gadget yang siap menggempur hatinya. 

‎Hosnatun bersama anak – anak zaman yang lain semakin intens bergerak dalam tarian seleksi semesta. Semesta pun takdzim, Hosnatun berteriak kepada angin yang datang dari seluruh penjuru, 

‎”Aku tidak akan berhenti menari bersama  anak – anakku, bersama ilalang – ilalang, bersama mereka yang tidak pernah takut  memasuki malam….!!!!”   

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Anies Septivirawan adalah penikmat tulisan seni sastra dan budaya. Ia gemar menulis puisi sejak tahun 1995 sampai saat ini. Ia bergabung dengan himpunan penulis penyair dan pengarang nusantara (HP3N) Kota Batu dan SATUPENA Jawa Timur. Anies Lahir di kelurahan Dawuhan, Situbondo, Jawa Timur. Aktivitasnya sehari-hari sebagai wartawan media online. Baginya, menulis adalah upaya mengusir ion -ion negatif di dalam tubuh agar tetap sehat dan panjang umur. Ia sudah menulis 3 buku antologi puisi tunggal dan puisi-puisinya juga menyemarakkan sejumlah buku antologi bersama. Puisinya dan tulisan lainnya juga pernah satu buku dengan Gol A Gong. Buku antologi puisi tunggalnya yang pertama berjudul "Luka dan Kota Sepi Literasi", yang kedua adalah "Menimang Rindu Senja Kala" dan buku yang ketiga berjudul "Dua Senja Menyulam Damai"
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...