Wajahku tua
Dan jelek
Tanganku bengkok
Kerjaku hanya meminta
Karena menulis puisi
Aku dikatakan penyair
Aku bukan penyair
Aku hanya peminta-minta
Selagi muda aku tidur di emperan
Kawanku angin dan para pelacur
Aku pernah membaca buku
Pernah juga bertengkar
Terkadang aku main drama
Sesekali diajak baca puisi
Ketika berumahtangga
Aku tinggal di rumah mertua
Beberapa kota pernah mengajar diriku
Bahwa hidup perjuangan untuk mati
Tujuh anakku seharusnya delapan
Dua menantu dua orang cucuku
Isteriku hanya satu
Berenang dalam ketegaran
Limapuluh tahun aku bertahan pada kesenian
Sekali pernah buku puisiku diberi penghargaan
Aku banyak mengenal orang
Ada pejabat ada juga wakil rakyat
Orang-orang tidak kenal diriku
Karena sebenarnya aku itu tiada
Hujan badai dan tsunami
Dentuman meriam suara tembakan menempa jiwaku
Abahku minang buta huruf
Umiku Aceh tak berdaya
Jadi persoalan dalam pandangan
Aku tidak punya warisan
Tidak juga ada pengetahuan
Aku hanya punya Tuhan
2025
Kesenian itu artinya estetika
Estetika itu maksudnya keindahan
Keindahan itu hakekatnya harga diri, sikap, karakter yang dimiliki pada setiap manusia.
Kesenian sebagai bentuk
Merupakan manifestasi pemikiran yang terdapat pada penciptanya yaitu seniman.
Bentuk-bentuk yang terdapat pada tiap-tiap kesenian dapat menimbulkan keindahan yang dapat dilihat, dirasa dan dipikiran bagi setiap penikmat kesenian.
Kesenian tidak lahir dari teori-teori, melainkan hasil perbauran pengetahuan, objek-objek (terlihat, terasa, terdengar, teraba), cita rasa, pada diri seniman.
Dengan begitu, kesenian bukan sebagai hiburan, tetapi sebagai cara untuk meningkatkan harga diri setiap manusia.
Bagaimana kita memandang kesenian, begitulah sebenarnya harga diri, sikap, karakter, kita sesungguhnya.
Kalau memandang kesenian sebagai hiburan, tentu sikap kita itu feodal, kapitalis, borjuis, materialis, cenderung pada fisik, materi, libido, nafsu serta hasrat semata.
Jika kesenian dipandang sebagai pencerahan, tentulah dapat menimbulkan sikap, karakter dan harga diri yang bagus dan kuat, baik pada seniman maupun pada siapapun manusia.
2025
Tuhan sedang sakit, kataku
Apakah benar Tuhan sakit, katamu sedikit melotot
Aku ajak saudaraku itu ke istana kenegaraan, lalu aku katakan, berapa banyak penipuan, penculasan, persekongkolan, terjadi di tempat ini?
Saudaraku itu hanya diam dan terpana.
Aku ajak lagi ke gedung parlemen, lalu aku katakan, berapa banyak produk hukum dihasilkan yang menjerat leher rakyatnya, yang menguntungkan segelintir orang untuk menguasai hampir seluruh harta kekayaan negara.
Saudaraku itu terdiam, wajahnya sedikit muram.
Aku ajak lagi ke rumah-rumah sakit, sambil melihat-lihat pasien dengan beragam penyakit, cacat setelah operasi, batuk yang akhirnya tbc, asam lambung, asma, pilek, yang tidak sembuh-sembuh.
Saudaraku itu memoles ujung matanya dengan ujung lengan bajunya.
Aku ajak juga ke tempat para gembel, pemabuk, pencopet, pelacur, anak-anak yang kehilangan cermin, janda-janda yang kehilangan dermaga.
Di tempat itu, saudaraku menangis tersedu-sedu, sambil berujar “benar Tuhan sedang sakit”
Malam semakin panjang
Kabut tebal melebar
Hujan deras dalam dada
Kami pun tidak bisa tertidur
/2024
Diskusi