Oleh: Syarifudin Brutu
Aku bersumpah dengan nama-Mu,
Tuhan yang tak butuh jidatku menciumi debu,
Tapi Tuhan yang menarik pundakku, menyuruhku bangkit,
Hanya agar aku sanggup menatap wajah-Mu tanpa rasa sakit.
Malam ini, aku mengadu di ruang yang penuh sesak,
Oleh sesal-sesal yang tak sanggup lagi berdetak.
Ingin kukibarkan bendera putih di atas kepalaku,
Tanda kalah, tanda pecundang yang remuk tanpa-Mu.
Entah ini bisikan iblis yang kau laknat,
Atau memang busukku yang sudah berkarat.
Jutaan kali ampunan kutukar dengan satu pengkhianatan,
Namun Engkau tetap saja menenun tabir, menutupi aib yang berantakan.
Tuhan, jika janji kepulanganku telah tiba,
Sudikah Engkau menatapku dengan mata cinta?
Atau akulah noda yang paling celaka,
Menjadi kerak paling hina di dasar neraka?
Mereka yang merasa paling suci berteriak padaku:
“Mati saja kau, hai ahli neraka!”
Aku terdiam, tertunduk dalam lumpur sisa nafsu,
Apakah sehina itu aku di hadapan karya-Mu?
Tuhan, jika Kau rindu karena cinta, cabut nyawaku detik ini.
Tapi jika Kau rindu hanya untuk menyiksaku,
Beri aku waktu, beri aku sejuta pintu,
Untuk mendobrak taubat-Mu yang mungkin sudah terkunci.
Aku mencintai-Mu dengan cara yang paling bedebah:
Mengulang dosa sembari air mata jatuh membasah.
Luruskan jalanku, Tuhan,
Aku merindukan-Mu dalam isak tengah malam yang tak bertuan.
Diskusi