POTRET Budaya

TETESKAN SEDIKIT SAJA AIRMATA KITA

Januari 2022
Oleh: Nurdin F.Joes

 

Oleh Nurdin F.Joes

Teteskan sedikit saja airmata kita

Masih banyak saudara kita, pedih menderita

Ada yang belum makan pagi

Sementara kita sudah selesai mencuci tangan,

menutup makan malam 

Teteskan sedikit saja airmata kita

Tetangga kita masih mengurung diri

di rumah yatim, miskin, dan duafa

Sementara kita sudah berkeliling kota

Meniup terompet kegembiraan

Merayakan tahun yang berganti 

Teteskan sedikit saja airmata kita

Tubuh jiwa petani terbakar matahari

Tanah ladangnya kering kerontang

Irigasi yang kita bangun tak berfungsi

Dan benih tanaman yang kita salurkan

banyak pula yang palsu

Sementara kita telah banyak mengambil laba 

Teteskan sedikit saja airmata kita

Para nelayan mengayuh sampan

Mencari nafkah anak istrinya

Matanya perih menatap sampan sampan bermesin

Bergerak secepat angin

Sementara bantuan yang kita berikan

Sering-sering cacat tercela 

Teteskan sedikit saja airmata kita

Saudara kita tertatih ke taman-taman perobatan

Mencari beberapa butir obat penyembuh sakit

yang sudah menahun mereka derita

Mereka kurang paham berkomunikasi

karena tak bisa bahasa

Mereka juga kurang cakap bersantun-santun

dan bertatakrama

karena tinggal di rimba

Sementara kita merasa terganggu

Lalu memandang tajam dengan ekor mata 

Teteskan sedikit saja airmata kita

Banyak rakyat belum sembuh 

dari luka dan trauma

Sementara kita masih belum rela merawat kedamaian

Lalu mengibarkan selaksa propaganda

Membangun babak baru penderitaan

Lalu rakyatlah yang memikul beban sengsara 

Teteskan sedikit saja airmata kita

Betapa bencana terus melanda tanah kita

Tubuh dan harta rakyat jadi korban

Padahal mereka sangat tak berdosa

tidak paham menebang hutan

tapi tiba-tiba banjir menerkam mereka 

Teteskan sedikit saja airmata kita

Saudara kita masih terisolasi

di tanah-tanah pedalaman

Jembatan gantung dan jalan penghubung

yang kita bangun

kurang bermutu dan tak berguna

Sementara kita leluasa memacu mobil

di tengah ibukota 

Teteskan sedikit saja airmata kita

Ibu-ibu renta menggelar tikar

di kaki-kaki lima

Menjual beberapa sisir pisang dan sedikit sayur-mayur

Mencari sedikit biaya sekolah dan jajan anak-cucunya

untuk esok pagi

Sementara kita terkadang dengan kasar

dan gagah perkasa mengusirnya

Mereka tak dapat bicara apa apa

Menelan pedih, bersalah mengais rezeki

di atas tanah negara 

Teteskan sedikit saja airmata kita

Kita sedang menghitung jumlah gaji

Lalu membeli tanah-tanah garapan

Sementara saudara kita masih tertatih

meminta-minta

Untuk membeli satu ons beras 

bagi makan keluarga

Lalu menghitung jumlah butir nasi

Saat bersama makan berbagi 

Kepada seluruh umat bumi

Teteskan sedikit saja airmata kita

Bahwa pada tahun yang sudah berganti

Betapa masih banyak saudara kita

pedih menderita 

Banda Aceh, 1 Januari 2010 

Nurdin F. Joes

Lahir di Sigli, 4 Januari 1963. Puisinya berjudul Menangislah untuk Anak-anak Negeri (Weep for the Children of the Land), memenangkan Lomba Cipta Puisi Untuk Kemerdekaan Namibia (Toward Namibian Independence) yang diselenggarakan oleh Badan Penerangan PBB (UNIC) pada tahun 1987.

Tentang Penulis
Nurdin F.Joes
Majalah Perempuan Aceh

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Puisi terbaru untuk dibaca

Populer

Puisi yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir