Amerika Serikat dan Bandar Kuala Batee dalam Catatan Sejarah dan Artefak Sejarah (Part 1)
Oleh: Assauti Wahid S. Hum., MA
Wakil Ketua Forum Almuni Sejarah Kebudayaan Islam UIN Ar-Ranry Banda Aceh
Perang di Iran baru berlangsung sedikit lebih dari sebulan, dan pendapat yang mendominasi di kalangan pengamat adalah bahwa perang tersebut sudah menjadi “kubangan lumpur,” jika bukan “bencana.” Para pengkritik telah membandingkan konflik tersebut dengan invasi Amerika Serikat ke Irak dan Afghanistan, intervensinya dalam Perang Korea, invasi Rusia ke Ukraina, dan, tentu saja, kegagalan kebijakan luar negeri AS yang paling traumatis, yaitu Perang Vietnam.
Namun, perang di Iran bukanlah sebuah kegagalan total. Ini adalah sebuah dilema. Dari sudut pandang operasional, perang ini berjalan cukup lancar: Amerika Serikat dan Israel telah menghancurkan sebagian besar sasaran yang mereka targetkan sejak awal. Jika operasi ini mengalami kendala, itu bukan karena Amerika Serikat kehabisan opsi. Sebaliknya, hal itu disebabkan karena setiap langkah yang diambil memiliki konsekuensi tersendiri.
Dari sudut pandang operasional, perang ini berjalan cukup lancar: Amerika Serikat dan Israel telah menghancurkan sebagian besar sasaran yang mereka targetkan sejak awal. Jika operasi ini mengalami kendala, itu bukan karena Amerika Serikat kehabisan opsi. Sebaliknya, hal itu disebabkan karena setiap langkah memiliki konsekuensi yang harus ditanggunga. Begitulah keputusan dalam menjalankan perang dilancarkan. Dan membawa Saya pada masa lalu mengenai Amerika Serikat dan Bandar Kuala Batee dalam catatan sejarah yang memiliki hubungan yang harmonis, saling menguntungkan bisnis perdagangan lada dan perang.
Adapun kemajuan peradaban Islam di Aceh, berada pada masa Kerajaan Aceh Darussalam. Kerajaan Aceh Darussalam merupakan kerajaan Islam terbesar di Nusantara pada masa itu. Tidak hanya itu, keistimewaan pada masa Kerajaan Aceh Darussalam diwilayah bagian Barat-Selatan Aceh merupakan daerah subur yang dapat dijadikan sebagai lahan pertanian, oleh karena itu banyak dari anggota masryarakat Kerajaan Aceh Darussalam bahkan dari Sumatera Utara datang ke daerah ini untuk bercocok tanam, terutama menanam lada. Yang tertulis dalam buku Misri A. Muchsin, “Trumon Sebagai Kerajaan Berdaulat dan Perlawanan Terhadap Colonial Belanda Di Barat-Selatan Aceh”.
Di dalam tulisan Iskandar Norman menyebutkan bahwa Sejak tahun 1789 Aceh sudah menjalin hubungan dagang dengan Amerika Serikat. Kapal-kapal dari Amerika datang untuk memuat lada yang kemudian diangkut untuk di bawa ke Amerika Serikat. Eropa dan China setiap tahun diangkut sekitar 42.00 pikul atau sekitar 3.000 ton. Pusat perdagangan itu dilakukan di Pelabuhan Kuala Batee.
Sejak tahun 1789 Aceh sudah menjalin hubungan dagang dengan Amerika Serikat. Kapal-kapal dari Amerika datang untuk memuat lada yang kemudian diangkut ke Amerika Serikat, Eropa dan Cina. Pada 7 Februari 1831 warga Kuala Batee membajak sebuah kapal Amerika Serikat. Peristiwa itu dipicu kemarahan orang Aceh karena merasa selalu ditipu Amerika dalam perdagangan Lada. Dalam peristiwa itu dikabarkan, tiga awak kapal terbunuh dengan kerugian yang cukup besar dari pihak Amerika.
Mendapatkan kapalnya dibajak, Amerika membalas dengan mengirim kapal perang Potomac ke Aceh. Ini adalah kapal perang terbaik yang dimiliki Amerika saat pemerintahan Presiden Jackson. Berdasarkan penyelidikan yang dilakukan pihak Kerajaan Aceh, pembajakan kapal warga Amerika Serikat ini dilakukan oleh kaki tangan Belanda bernama Lahuda Langkap. Negeri kincir angin tersebut merasa iri tehadap Amerika yang berhasil menguasai sebagian besar perdagangan lada di daerah Aceh Barat dan Aceh Selatan. Belanda juga ingin merusak nama baik Kerajaan Aceh di mata dunia internasional, yaitu dengan tuduhan bahwa perairan Aceh penuh dengan bajak laut dan Kerajaan Aceh tidak mampu melindungi kapal-kapal dagang asing yang berayar diwilayah perairnannya.
Saat melakukan pembajakan kapal Friendship milik Amerika di Kuala Batee pada 7 Februari 1831, Lahuda Langkap dan anak buahnya yang dibayar belanda dalam perampokan itu dan anak buahnya yang dibayar belanda dalam perampokan itu dan menggunakan bendera Kerajaan Aceh. Kapal Friendship dapat diselamatkan oleh kapal amerika yang kebetulan saat itu berda diperairan Kuala Batee. Insiden menimbulkan ketegangan politik antara Amerika Serikat dengan Kerajaan Aceh yang telah membina hubungan baik selama setengah abad. Ini bisa dilihat dari artefak-artefak peninggalan sejarah yang tinggalkan, berupa prasasti, meriam, madat dan lain sebagainya.

Hasil foto sendiri dan hasil penelitian.
Adapun teks atau tulisan yang tertulis pada prasasti ini adalah
: “This marble point to the grave of SHEWBUNTAR. Who died at Qualla Batto 13 April 1824. As he was ambitious of distinetion, active, persevering & energetic. Success followed his efforts & his dominion & reputation were widely extended. Personally brave, he was cautious & calculating. In more cultivated society, his fame would have been, probably that of a great conqueror & history would have recorded it. He had imperfeetions as wellas virtues. He was generous & open to wards his friends savere and implacable towards his enemies. The traditions of his. Countrymen will preserve the memory of this abilities & his conguest. Strangers will recollect the kinnes of his temper & the friendness of his conduet”
Adapun ukuran prasasti ini sebagai berikut :Tinggi Prasasti : 162 cm Lebar Prasasti : 81 cm Tebal Prasasti : 5 cm dan Tinggi pinggir Prasasti : 130 cm
Terjemahannya: “Mamer ini menunjukkan makam Shewbuntar. Yang meninggal di Kuala Batee 13 April 1824. Dia adalah orang yang ambisius dengan tujuan, aktif, gigih dan energik. Sukses mengikuti usahanya dan dominasinya serta reputasinya secara luas. Secara pribadi pembrani, bersikap hati-hati dan menenangkan. Dalam masyarakat yang lebih maju/berbudaya, dia terkenal sebagai penakluk yang besar dan sejarah akan mencatatnya. Dia memiliki ketidaksempurnaan serta kebaikan. Dia murah hati dan terbuka terhadap teman-temannya. Keras dan tidak kenal ampun terhadap musuh-musuhnya. Tradisi bangsanya akan melestarikan memory kemampuannya dan penaklukannya. Orang asing akan mengingat kembali kebaikan hatinyaa dan keramahan prilakunya”.
Prasati ini tidak menyebutkan tentang situasi dan kondisi kuala batu seditpun, hanya diberitakan tentang sifat dan kondisi pribadinya yang aktif, pemberani, bereputasi yang yang luas, karena itu tidak bisa ditemukan bagaimana tata kota kerajaan semasa ia masih berkuasa di sana dan bila kitalihat lihat kondisi dusun Lama Muda sekarang sangat jauh tertinggal dari kampong lainnya. yang terletak tidak jauh dari pantai Kuala Batu. Situs ini tidak jauh dari madat di Desa Lama Tuha, di mana penanda makam awalnya didirikan. Itu dipindahkan dengan alasan untuk keamanan yang lebih baik. Prasasti yang berhasil diselamatkan masih utuh, hanya saja ada tambalan di bagian bawah nisan karena masyarakat ingin menghancurkannya, dan telah diperbaiki dengan semen agar tidak bisa dipindahkan.

Hasil foto sendiri dan hasil penelitian
Meriam Keude Baroe tersebut memiliki ukuran sebagai berikut :
Panjang meriam : 240 cm
Garis tengah : 30,4 cm
Lobang meriam : 12 cm Untuk ukuran garis-garis yang ada pada meriam
Hubungan ini terjalin antara Amerika Serikat dan Bandar Kuala Batee memiliki hubungan yang pasang surut dan memiliki tinggalan arkeologi yang menunjukkan keberadaan dua persahabatan dalam diplomasi dan perang.













