Oleh Juni Ahyar
Tak seorang pun
benar-benar berjalan
menuju masa depan.
Yang kita sebut hari esok
hanyalah nama
bagi jarak
yang semakin pendek
menuju liang keabadian.
Setiap pagi
umur tidak bertambah.
Ia justru berkurang
satu halaman,
sementara catatan amal
diam-diam
menulis dirinya sendiri.
Kita sibuk
menggambar istana
di atas kalender.
Menghitung gaji,
mengejar gelar,
memburu pujian,
mengumpulkan dunia
seolah waktu
bersedia menunggu.
Padahal,
di belakang setiap detik,
ada malaikat
yang menghitung
langkah kita
ke arah pulang.
Lihatlah
dunia
tidak sedang mendekatimu.
Ia perlahan menjauh,
seperti senja
yang menanggalkan cahaya
tanpa meminta izin.
Sebaliknya,
akhirat
terus berjalan
ke arahmu.
Ia tidak tergesa.
Namun
tak pernah terlambat.
Betapa banyak
angan-angan
yang tumbuh
lebih tinggi
daripada usia pemiliknya.
Seseorang berkata,
“Nanti aku akan bertobat.”
Padahal,
tak ada seorang pun
yang pernah diberi janji
bertemu kata
“nanti“.
Kita hanya memiliki
hari ini.
Dan mungkin,
bahkan hari ini pun
bukan milik kita sepenuhnya.
Maka,
jika masih sempat
mengangkat kedua tangan,
berdoalah.
Jika masih mampu
menundukkan dahi,
bersujudlah.
Jika masih diberi kesempatan
meminta maaf,
segeralah.
Sebab kematian
tidak pernah keliru
menemukan alamat.
Ia tidak mengenal
usia,
jabatan,
kekayaan,
atau mimpi
yang belum selesai.
Kelak,
yang mengiringi kita
bukan rumah,
bukan kendaraan,
bukan pula nama besar
yang pernah dielu-elukan manusia.
Hanya amal
yang akan berdiri
di sisi kita,
ketika semua suara
telah selesai
meninggalkan dunia.
Maka jangan terlalu sibuk
merancang masa depan,
hingga lupa
mempersiapkan
kepulangan.
Sebab sesungguhnya,
setiap langkah
yang kita kira
menuju esok,
adalah langkah
yang sedang
mengantarkan kita
kepada Allah.
Lhokseumawe, 22 Juli 2026
Diskusi