Karya Juni Ahyar

Di sela rumpun bambu
angin belajar menyebut namanya sendiri.
Tak ada guru,
tak ada kitab,
hanya buluh-buluh tua
yang sejak dahulu
menyimpan napas bumi
di rongga tubuhnya.
Lalu,
lahirlah sebuah suara.
Bukan sekadar siulan,
melainkan doa
yang menemukan nadanya.
Ia meluncur perlahan
melewati pematang,
mengusap embun
di pucuk padi,
menidurkan burung-burung senja,
dan mengetuk pintu-pintu hati
yang lama terkunci oleh kehilangan.
Orang-orang menyebutnya
seruling.
Aku menyebutnya
ingatan.
Sebab setiap kali bambu itu bernapas,
aku mendengar langkah para leluhur
meniti jalan tanah
dengan kaki telanjang,
membawa benih,
membawa harapan,
membawa bahasa
yang belum mengenal perpisahan.
Di tanah Sunda,
ia mengalun
selembut kabut
yang memeluk Gunung Tangkuban.
Di Minangkabau,
ia menjadi ratapan
yang mengalir
di antara lekuk Bukit Barisan.
Di Bali,
ia menari
mengikuti cahaya matahari
yang jatuh
di pelataran pura.
Di Jawa,
ia menyelip
di sela gamelan
bagai angin
yang enggan meninggalkan sore.
Dan di setiap tempat
yang masih mencintai akar,
seruling bambu
selalu menemukan rumahnya.
Ia tak pernah bertanya
siapa yang mendengarkan.
Sebab bunyi
tak membutuhkan tepuk tangan.
Ia hanya ingin
menjadi jalan pulang
bagi mereka
yang mulai lupa
dari mana suara pertama
kehidupan berasal.
Kini,
ketika dunia
lebih sibuk
mendengar gaduh mesin
daripada desir pepohonan,
seruling itu
masih setia
meniupkan sunyi.
Mengajari manusia
bahwa musik
bukan sekadar bunyi,
melainkan cara
hati mengenang
asal-usulnya sendiri.
Jangan biarkan
rumpun bambu
kehilangan angin.
Sebab apabila
seruling berhenti bernapas,
barangkali
yang benar-benar mati
bukanlah alat musik itu,
melainkan
sebagian jiwa Nusantara
yang tak lagi mengenali
suara leluhurnya.
Lhokseumawe, 20_Juli_2026
Diskusi